<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>pecinta rasulullah saw</title>
	<atom:link href="http://muhammadfebri.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muhammadfebri.wordpress.com</link>
	<description>online nya ahlus&#039;sunnah waljama&#039;ah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Nov 2009 13:45:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='muhammadfebri.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/8a878e87bdc4da517bb839430890bf9d?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>pecinta rasulullah saw</title>
		<link>http://muhammadfebri.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://muhammadfebri.wordpress.com/osd.xml" title="pecinta rasulullah saw" />
	<atom:link rel='hub' href='http://muhammadfebri.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>umat yang bercahaya di hari kiamat</title>
		<link>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/11/10/umat-yang-bercahaya-di-hari-kiamat/</link>
		<comments>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/11/10/umat-yang-bercahaya-di-hari-kiamat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 13:45:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muhammad febri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammadfebri.wordpress.com/?p=288</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Ditulis Oleh: Munzir Almusawa Monday, 09 November 2009 Ummat Yang Bercahaya Di Hari Kiamat Senin, 02 November 2009 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إِنَّ أُمَّتِيْ يُدْعَوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِيْنَ مِنْ آثَارِ اْلوُضُوْءِ فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيْلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ (صحيح البخاري) Sabda Rasulullah saw : “ Sungguh ummatku digelari di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadfebri.wordpress.com&amp;blog=9734750&amp;post=288&amp;subd=muhammadfebri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<table>
<tbody>
<tr>
<td width="100%" align="right"><a title="PDF" href="//majelisrasulullah.org/index2.php?option=com_content&amp;do_pdf=1&amp;id=244',%20'win2',%20'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no');"> <img src="http://majelisrasulullah.org/images/M_images/pdf_button.png" border="0" alt="PDF" align="middle" /> </a></td>
<td width="100%" align="right"><a title="Print" href="//majelisrasulullah.org/index2.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=244&amp;Itemid=1&amp;pop=1&amp;page=0',%20'win2',%20'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no');"> <img src="http://majelisrasulullah.org/images/M_images/printButton.png" border="0" alt="Print" align="middle" /> </a></td>
<td width="100%" align="right"><a title="E-mail" href="//majelisrasulullah.org/index2.php?option=com_content&amp;task=emailform&amp;id=244',%20'win2',%20'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=400,height=250,directories=no,location=no');"> <img src="http://majelisrasulullah.org/images/M_images/emailButton.png" border="0" alt="E-mail" align="middle" /> </a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a href="http://tellafriend.socialtwist.com/"><img src="http://images.socialtwist.com/2009040514500/button.png" alt="SocialTwist Tell-a-Friend" /></a></p>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td colspan="2" width="70%" align="left" valign="top">Ditulis Oleh: Munzir Almusawa</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" valign="top">Monday, 09 November 2009</td>
</tr>
<tr style="text-align:left;">
<td colspan="2" valign="top"><strong></p>
<div><em>U</em>mmat Yang Bercahaya Di Hari Kiamat</div>
<p>Senin, 02 November 2009 </strong><br />
<strong> قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إِنَّ أُمَّتِيْ يُدْعَوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِيْنَ مِنْ آثَارِ اْلوُضُوْءِ فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيْلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ </strong></p>
<p><strong>(صحيح البخاري)</strong></p>
<p><strong>Sabda Rasulullah saw  :<br />
“ Sungguh ummatku digelari di hari kiamat sebagai cahaya yang terang benderang, dari bekas wudhunya, maka barangsiapa yang mampu diantara kalian untuk memperluas bagian (yang disentuh air) pada anggota wudhunya , maka lakukanlah” (Shahih Bukhari) </strong><br />
<span id="more-288"></span><br />
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..</p>
<p><strong>فَحَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ وَاْلحَمْدُلِلهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ الْحَمْدُلِلهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِيْ هَذَا اْلمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَاْلحَمْدُلِلهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِيْ هَذِهِ اْلمُنَاسَبَةِ اْلمُبَارَكَةِ&#8230; </strong></p>
<p>Limpahan puji ke hadirat Allah Yang selalu menyeru hambaNya pada keluhuran, walaupun mereka selalu berada dalam kehinaan, namun Sang Maha tidak berputus asa terus mengundang para pendosa menuju pengampunan dan kasih sayangNya, Dialah Allah Maha bercahaya dan Maha menerangi jiwa hamba-hambaNya dengan cahaya keindahanNya, yang jika cahaya keindahan itu berpijar pada jiwa hambaNya maka teranglah sanubarinya, tenang dan damailah hari-harinya, tenanglah wilayahnya tenanglah wilayah-wilayah sekitarnya, dan tercerahkanlah jiwanya dengan Allah . Ia selalu asyik melakukan sujud, ia selalu menikmati lezatnya menyebut nama Allah, ia selalu merasa lezat ketika mengingat Allah, ketika ia sampai pada puncak kesulitan dan musibah lalu ia teringat perjumpaannya dengan Allah ia lupa dan gembira dengan detik kerinduan berjumpa dengan Allah . Jika seorang kekasih mencintai kekasihnya, kemudian ia mendapat musibah apapun lantas teringat kepada kekasihnya maka lupalah ia segala musibahnya. Sebaliknya dia yang sedang dalam kenikmatan dunia,dalam keluasan harta seluas apapun ia akan lupa dengan harta dan kekayaannya itu jika ia diputuskan hubungannya oleh kekasihnya. Yang paling dirisaukan oleh hamba yang mengerti hubungan antara makhluk dan Khalik (pencipta) adalah diputusnya hubungannya oleh Allah, jika cintanya diputus oleh Allah. Datang kepada saya keluhan tentang kesedihan karena diputus oleh kekasih<strong><em> “ saya diputus oleh kekasih saya”,</em></strong> beruntung kau tidak diputus oleh Allah kasihNya swt, (tapi) tetap tersambung. Seribu makhluk di langit dan bumi memutuskan hubungan asal Engkau (Wahai) Rabbi bersamaku dan mencintaiku, biarkan seluruh makhkuk memutuskan hubungan denganku&#8230;</p>
<p>Namun, orang yang mencintai dan merindukan Allah maka Allah akan berikan cahaya cinta hingga orang tidak mau memutus hubungan dengannya, maka kita perdalam cinta kita kepada Allah daripada kepada makhlukNya swt. Yang paling ditakutkan dan dirisaukan adalah diputusnya hubungan oleh Allah, oleh cinta Allah. Oleh karena itu, manusia yang paling mulia yang paling mencintai Allah, Sayyidina Muhammad saw, ketika beliau dilempari di Thaif maka beliau bersabda :</p>
<p><strong> إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكَ غَضَبٌ عَلَيَّ فَلاَ أُبَالِي </strong></p>
<p><strong><em>“ Asalkan Engkau tidak murka padaku, maka aku tidak peduli”</em></strong></p>
<p><em>Kemana aku ( Nabi Muhammad ) akan pergi wahai Tuhanku, aku pergi kepada musuhku aku dicabik-cabik , dipukuli dan lain sebagainya, pergi kepada teman-temanku mereka di bantai oleh musuhku, kemana aku harus pergi wahai Rabb,, tapi asalkan Engkau tidak murka kepadaku aku tidak peduli wahai Rabbi. </em></p>
<p>Demikian hadirin hadirat, cinta Sayyidina Muhammad SAW kepada Allah SWT. Mau dilempar oleh musuh-musuhnya , disiksa dan dicabik-cabik, atau musuh datang pada temannya kemudian juga menyiksa dan membantainya, semua ini terjadi Rasul saw tidak peduli asalkan Allah tidak murka padanya. Inilah makna hakikat cinta tersuci dari manusia tersuci kepada Yang Maha Suci, Allah SAW.</p>
<p>Bagaimana dengan kita, apakah ada keputusan dari Allah untuk memutus hubunganNya dengan kita? Allah SWT berfirman :</p>
<p><strong> قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ( الزمر : 53 </strong></p>
<p><strong><em>“ Katakanlah: &#8220;Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri (banyak sekali berdosa), janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ”. ( QS. Az Zumar : 53) </em></strong></p>
<p>Hadirin hadirat kita sudah risau, bisa saja Allah memutus hubunganNya dengan kita sehingga kita tidak mencium wanginya surga selama-lamanya, namun Rabbul ‘Alamin berfirman <strong><em>“ Jangan berputus asa dari rahmat ( cinta dan kasih sayang ) Allah”. </em></strong></p>
<p><strong> إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ( الزمر :53 </strong></p>
<p><strong><em>“ Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa “. ( QS. Az Zumar : 53 ) </em></strong></p>
<p>Hadirin hadirat inilah indahnya Rabbul ‘Alamin SWT, seraya berfirman :</p>
<p><strong> وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ ¤ وَالْيَوْمِ الْمَوْعُودِ ¤ وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ ¤ قُتِلَ أَصْحَابُ الأُخْدُودِ ¤ النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ ( البروج :1-5 </strong></p>
<p><strong><em>“ Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan hari yang dijanjikan, dan yang menyaksikan dan yang disaksikan, Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, ”. ( QS. Al Buruuj: 1-5 ) </em></strong></p>
<p><strong> وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ ( البروج :1 </strong></p>
<p><strong><em>“ Demi langit yang mempunyai gugusan bintang ”. ( QS. Al Buruuj: 1 ) </em></strong></p>
<p><strong><em>Al Buruuj </em></strong> adalah bintang yang berpijar dengan cahaya dan berpijar dari cahaya bintang lainnya dan juga termasuk meteor yaitu bintang yang melintas dengan cepatnya, kesemua itu di sebut <strong><em>Al Buruuj. Demi langit yang menyimpan berjuta triliun bintang dan planet ,</em></strong>demikian firman Allah.</p>
<p><strong> وَالْيَوْمِ الْمَوْعُودِ  ( البروج : 2 </strong></p>
<p><strong><em>“ Dan demi hari yang dijanjikan “. ( QS. Al Buruuj : 2 ) </em></strong></p>
<p>Hari yang dijanjikan oleh Allah yaitu hari kiamat, hari dimana tidak ada sesuatu dari aib dan kebaikan yang bisa disembunyikan di hadapan Rabbul ‘Alamin Allah SWT.</p>
<p><strong> وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ ( البروج : 3 </strong></p>
<p><strong><em>“ Dan demi yang menyaksikan dan yang disaksikan “. ( QS. Al Buruuj : 4 ) </em></strong></p>
<p>Para mufassir imam imam ahli tafsir) banyak yang menafsirkan makna kata <strong><em>“ Syaahid dan Masyhuud “ </em></strong>, sebagian mengatakan hari ‘Arafah dan hari Jum’at , dan sebagian lagi menafsirkan bahwa makna <strong><em>Syaahid</em></strong><em> ( yang menyaksikan ) </em>adalah Allah SWT, dan<strong><em> Masyhuud</em></strong><em> ( yang disaksikan ) </em>adalah  makhluk-makhlukNya.</p>
<p><strong> قُتِلَ أَصْحَابُ الأُخْدُودِ ( البروج : 4 </strong></p>
<p><strong><em>“ Binasalah orang-orang yang membuat parit “. ( QS. Al Buruuj : 5 ) </em></strong></p>
<p>Disini akan saya jelaskan riwayat Shahih Muslim, tentang seorang anak kecil yang sangat shalih. Berkata seorang tukang sihir yang tua renta kepada raja ;<em> “ Aku sudah tua renta dan tidak lama lagi aku akan mati, maka tolong carilah anak muda atau anak kecil untuk kuajarkan sihirku dan kuwariskan ilmuku supaya bisa berbakti padamu“, </em> maka Raja mencari anak kecil yang baik dan cerdas kemudian dibawa dan belajar pada tukang sihir itu, anak ini sudah belajar juga pada seorang <strong><em>Rahib (ulama’ dimasa itu)</em></strong>, tapi karena ini adalah perintah raja maka ia pun datang. Karena dia masih kecil, tiap kali datang menjumpai tukang sihir itu ia menampar tukang sihir yang sudah tua itu lalu pergi. Maka orang-orang mengatakan anak ini kurang ajar, tukang sihir berkata :<em>“ sudah biarkan saja, namanya juga anak kecil “</em>, hari kedua berbuat begitu lagi, dan hari ketiga tukang sihir berkata : <em>“ Wahai raja, carikan anak yang lain saja karena aku mempunyai firasat anak itu akan membawa kejahatan bagi kerajaan “</em>. Anak kecil ini terus belajar kepada Rahib, sehingga ia menjadi anak shalih yang dimuliakan Allah dan doanya mustajab. Semua orang yang datang kepadanya meminta doa, dikabul oleh Allah SWT. Ada diantara mereka yang buta, sembuh dari butanya, ada yang tidak bisa bicara akhirnya bisa bicara, ada yang lumpuh sembuh dari lumpuhnya, semua hajat dikabulkan setelah meminta doa pada anak kecil ini. Maka seseorang yang biasa duduk bersama raja dia seorang yang buta, ia penasaran kemudian pulang dan meminta doa pada anak kecil itu,iapun didoakan oleh anak kecil itu maka si buta ini pun sembuh. Kemudian orang ini balik kepada sang raja, raja berkata : <em>“ kamu kan yang biasa duduk bersamaku?, kamu kan buta?”,</em> orang itu menjawab : <em>“ ia, dulu aku buta, tapi sekarang sembuh”, </em>sang raja bertanya lagi:<em>“ siapa yang menyembuhkanmu?”,</em> ia berkata : <strong>“ ALLAH “</strong>. Maksudmu ada Tuhan selain aku ?, kata raja. <em>“Tentu, Tuhanku ALLAH bukan engkau wahai raja”,</em> maka raja pun marah ditangkaplah orang ini teman yang selalu duduk menemaninya, disiksa dan ditanya dari mana kau dapat ajaran ini, yang mengatakan bahwa Tuhan adalah Allah?, maka ia pun akhirnya berkata <em>“ aku belajar dari anak kecil itu, dan meminta doa darinya”.</em> Maka anak kecil itu ditanya, belajar dari mana kau wahai anak kecil? dia menjawab :<em>” aku belajar dari Rahib “,</em> maka Rahib pun ditangkap dan ketiganya dikumpulkan. Pertama Rahib yang ditanya <em>“ kau yang menjadi biang dari ajaran ini, mau tinggalkan kepercayaan yang mengatakan Tuhan adalah Allah, kembali pada ajaranku bahwa aku adalah Tuhan, kalau tidak aku akan membunuhmu?!”</em>, maka Rahib menjawab : <em>“ Aku tidak akan menyembahmu, Tuhanku tetap ALLAH”.</em> Maka Rahib itu digergaji, tubuhnya dibelah menjadi dua, kenapa di gergaji dan tidak disembelih langsung?, karena supaya terasa pedihnya. Kemudian raja melihat orang yang kedua, orang buta yang menjadi sembuh dan berkata:<em>” wahai temanku kau telah melihat siksa yang begitu pedih, kau mau seperti itu atau kau kembali pada ajaranku?!</em> orang itu berkata <em>“ Tuhanku ALLAH ”</em>, maka ia pun digergaji. Tinggallah anak kecil itu, untuk anak kecil ini raja tidak berani, karena kalau raja perbuat hal seperti itu pada anak kecil rakyatnya akan protes, maka anak kecil itu dibebaskan. Lalu raja memanggil anak-anak kecil yang seumur dia dan berkata : <em>“ kalian ajak anak ini ke atas gunung, kalian ku beri dinar dan dirham, sesampainya di puncak gunung jatuhkan dia ke jurang “</em>, pasukan raja diikutkan bersama mereka. Sesampainya di atas gunung anak kecil ini sudah mempunyai firasat bahwa ia akan dicelakakan , maka ia berdoa kepada Allah <em>“ Wahai Allah lindungi aku dari mereka “</em>, maka gunung pun terguncang dan semuanya wafat kecuali anak kecil ini. Anak kecil itu kembali pada raja (namanya anak kecil, kalau orang dewasa pasti dia lari menjauh dari raja), raja terkejut melihat anak itu kembali seraya bertanya : <em>“mana teman-temanmu dan pasukanku?”</em>, semuanya mati di gunung hanya aku yang selamat, Allah menyelamatkan aku, jawab anak itu. Kemudian raja berkata <em>“ ya sudah sana kamu pulang”</em>,<br />
lalu raja berkata kepada orang-orang yang diatas usianya dan beberapa pasukannya :<em> “ ajak dia main ke laut, sampai di tengah laut masukkan ke dalam tong besar dan tenggelamkan dia di laut, lalu kalian pulang”</em>. Maka anak kecil ini di bawa ke laut sesampainya di laut dia dimasukkan ke dalam tong, lantas anak keci itu berdoa kepada Allah: <em>“ Ya Allah lindungi aku dari mereka “</em>, maka Allah menjadikan gelombang lautan yang sangat dahsyat dan menenggelamkan semuanya, tong yang memang berisi udara belum di beri pemberat terus mengambang sampai ke tepi pantai, selamat lagi anak kecil ini, maka ia balik kepada raja, raja kaget melihat anak itu kembali dan bertanya <em>“mana teman mu yang lain?”</em> Anak itu menjawab : <em>“semuanya mati tenggelam di laut, hanya aku yang selamat, Allah yang selamatkan aku!!”</em> maka raja terdiam.</p>
<p>Kemudian anak kecil itu berkata <em>“ wahai raja, jika kau ingin membunuh aku maka taati perintahku, kalau kau tidak taat perintahku kau tidak akan bisa membunuh aku”</em>, maka raja taat dan berkata : <em>“ ya sudah, apa yang kau perintahkan”?</em> raja pun taat kepada anak kecil yang menyembah Allah SWT. Anak itu berkata : <em>“ kau kumpulkan semua rakyatmu, lalu ikat aku di sebuah tiang kemudian panah aku dengan panah milikku, saat akan memanah sang pemanah harus berteriak :</em></p>
<p><strong> بِسْمِ اللهِ رَبِّ اْلغُلاَمِ </strong></p>
<p><strong><em>“ Dengan nama Allah, Tuhan anak kecil ini…! “</em></strong></p>
<p>Maka raja tidak sadar dengan perbuatan itu, raja mengumpulkan rakyatnya dan mengikat anak itu di sebuah tiang di tengah-tengah rakyat, dan raja berkata <em>“lihat anak yang kalian anggap hebat, dan setiap doanya mustajab dia sekarang akan mati di tangan pemanahku”</em> , maka saat memanah sang pemanah sudah diperintah untuk berteriak :</p>
<p><strong> بِسْمِ اللهِ رَبِّ اْلغُلاَمِ </strong></p>
<p>maka panah sampai ke tubuh anak kecil itu dan ia pun wafat. Maka semua orang berseru :</p>
<p><strong> أَمَنَّا بِرَبِّ اْلغُلاَمِ </strong></p>
<p><strong><em>“ Kami beriman kepada Tuhan anak itu….! “</em></strong></p>
<p>Dan rakyat tidak lagi mau menyembah raja, karena raja berkata dengan kewibawaannya <em>“ lihat anak ini akan mati”</em>, bukan kewibawaan dia membuat kematian anak ini tapi justru karena kemuliaan Tuhan anak kecil itu karena sang pemanah sudah diperintah untuk mengucapkan<strong><em> “ Bismillaahi Rabbil Ghulaam”,</em></strong> maka ini yang benar maka banyak yang masuk Islam. Sang raja risau, lalu ia menggali Ukhduud Parit), barusan yang saya sebut dalam surah Al Buruuj, tafsir daripada firman Allah :</p>
<p><strong> قُتِلَ أَصْحَابُ الأُخْدُودِ ( البروج : 4 </strong></p>
<p><strong><em>“ Binasalah orang-orang yang membuat parit “. ( QS. Al Buruuj : 5 ) </em></strong></p>
<p>Ukhduud yaitu sebuah parit besar di isi kayu bakar dan dinyalakan apinya, maka orang yang tidak mau meninggalkan agama yang mereka anut yaitu agama Allah, maka akan dibakar dilempar ke dalam api.</p>
<p>Al Imam At Thabari di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ketika kejadian itu,,,,Allah mewafatkan mereka sebelum di sentuh api, sebelum disentuh api mereka sudah wafat sehingga mereka tidak merasakan terbakarnya api, sebaliknya Allah SWT berfirman :</p>
<p><strong> قُتِلَ أَصْحَابُ الأُخْدُودِ ¤ النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ ¤ إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ ¤ وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ ¤ وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ ¤ الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ ¤ إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ ( البروج : -104 </strong></p>
<p><strong><em> “ Binasalah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (yang mempunyai) kayu bakar , ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman, Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu, Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan kesulitan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar “. ( QS. Al Buruuj : 4-10 ) </em></strong></p>
<p>Al Imam At Thabari mengatakan makna siksa api jahannam sudah jelas, maka yang tidak mau tobat dan tidak mau menyembah Allah, akan mendapatkan itu. Tapi apa maksud kalimat :</p>
<p><strong> وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ  ( البروج : 11 </strong></p>
<p><strong><em>“ Dan bagi mereka siksaan yang membakar” ( QS. Al Buruuj : 11 ) </em></strong></p>
<p>Al Imam At Thabari menukil beberapa riwayat yang tsiqah ( kuat ) di dalam tafsirnya, bahwa setelah api selesai membenamkan muslimin di dalam parit itu, maka api itu keluar dari parit itu dan membakar semua orang yang menyaksikan disekitarnya, mereka di siksa dan lama di bakar oleh api itu tetapi tidak juga mati, mereka terus hidup dan terus tersiksa dengan api itu padahal kalau orang di bakar dengan api hanya bertahan beberapa puluh detik saja, namun mereka tidak juga mati walaupun api sudah membakar mereka, karena firman Allah bahwa mereka akan mendapatkan siksaan api yang demikian dahsyat panasnya, disebabkan mereka menyiksa dan membakar muslimin muslimat di masa itu.</p>
<p>Demikian hadirin hadirat…Yang ingin saya ulas adalah kekuatan muslimin muslimat itu ada pada Allah SWT . Seorang anak kecil, yang kelihatannnya tidak berdaya hati-hati kalau dia sudah dicintai Allah SWT .</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..<br />
Inilah Jiwa yang mulia dan suci itu kalau sudah dicintai oleh Allah SWT, beruntung orang yang mendekat padaNya dan merugi orang yang menjauh dariNya. Kemudian Allah meneruskan firmanNya :</p>
<p><strong> إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ ) البروج : 11 </strong></p>
<p><strong><em>“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar”. ( QS. Al Buruuj : 11) </em></strong></p>
<p>Hadirin hadirat tawaran Ilahi menawarkan ini kepada kita, dan tentunya semua kita yang hadir berharap untuk melihat surga Allah SWT. Semoga Allah SWT Yang Maha Agung, yang memiliki ‘arsy yang agung dan yang memiliki kerajaan langit dan bumi memastikan seluruh kita yang hadir ini adalah penduduk sorga dan tidak melihat neraka selama-lamanya, dan tidak juga terkena siksa kubur , tidak juga terkena sulitnya sakaratul maut, tidak juga terkena banyaknya musibah di dunia, selalu dalam rahmat di dunia dan akhirah.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..</p>
<p>Rasul SAW bersabda diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari berkaitan dengan firman Allah SWT :</p>
<p><strong> إِنَّمَا يَخْشَى الله َمِنْ عِبَادِهِ اْلعُلَمَاءُ ( فاطر : 28 </strong></p>
<p><strong><em>“ Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama “. ( QS. Fathir : 28 ) </em></strong></p>
<p>Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari :</p>
<p><strong> اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ </strong></p>
<p><strong><em> “ Ulama’ adalah pewaris para Nabi “</em></strong></p>
<p>Maksudnya apa? Kemuliaan-kemuliaan tuntunan Ilahi dan keberkahan yang ada di masa Rasulullah SAW itu tidak sirna dan padam tapi berkesinambungan sepanjang generasi dan tidak akan pernah ada akhirnya, hingga akhir zaman. Sebagaimana sabda beliau riwayat Shahih Al Bukhari :</p>
<p><strong> لاَ تَزَالُ طاَئِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظاَهِرِيْنَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ ظاَهِرُوْنَ ( صحيح البخاري </strong></p>
<p><strong><em>“Selalu ada kelompok dari ummatku yang terus muncul dengan kebenaran, hingga mereka menghadap Allah mereka akan terus ada dan terlihat jelas” (Shahih Bukhari) </em></strong></p>
<p>Kecuali di saat-saat kehancuran (hari kiamat) maka tiada lagi muslimin muslimat, hari kehancuran yaitu hari kiamat. Namun yang dimaksud Nabi adalah sampai sebelum datangnya hari kiamat, pada saat akan dekat waktu kiamat di saat itu masih ada ulama’, masih ada orang-orang mulia dan para shalihin dan mereka itu akan terus terlihat di hari kiamat .</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah …<br />
<strong><em>Sesungguhnya orang yang paling risau dan khusyu’ hatinya kepada Allah adalah para Ulama’.</em></strong> Kalau kita temukan di masa sekarang orang yang mengaku ulama, mengaku hafal Al Qur’an, mengaku hafal banyak hadits tapi bertentangan dengan sunnah Nabi Muhammad SAW dan juga tidak khusyu’ maka tentunya bukan ulama’ yang diakui oleh Allah SWT. Masa sekarang, mau disebut ulama’ tapi mengharamkan orang berzikir, mengharamkan orang-orang bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, sedangkan berkumpul dalam kemaksiatan tidak diributkan tetapi berkumpul karena berzikir dan bershalawat dikatakan hati-hati bid’ah, syirik. Maasyaallah!! Yang seperti ini bukan ulama’ tapi ini adalah orang-orang yang belum memahami Ilmu Hadits .</p>
<p>Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari, Rasulullah SAW bersabda :</p>
<p><strong> يَذْهَبُ الصَّالِحُونَ الأَوَّلُ فَاْلأَوَّلُ وَيَبْقَى ‏حُفَالَةٌ ‏‏كَحُفَالَةِ الشَّعِيرِ أَوِ التَّمْرِ لاَ يُبَالِيهِمُ اللَّهُ بَالَةً </strong></p>
<p><strong><em>“Orang-orang shalih telah pergi (wafat), satu per satu, sampai tidak tersisa seorangpun kecuali manusia-manusia yang buruk, ibarat sampah gandum atau ampas kurma yang Allah tidak lagi mempedulikan mereka sedikitpun.” ( HR. Bukhari ) </em></strong></p>
<p>Maksudnya adalah kalau suatu lingkungan masyarakat tiada lagi orang shalih, tidak ada lagi ulama disitu, maka hati-hati wilayah itu berada pada peringkat nomor satu untuk mendapatkan musibah, karena Allah tidak peduli. Bukan Allah tidak peduli pada mereka berarti Allah kejam pada mereka, bukan. Namun tentunya musibah datang kepada mereka untuk menghapus dosa-dosa, itu menjadi bentuk cinta Allah. Maksudnya, Allah tidak peduli adalah kalau ada orang – orang shalih ada kumpulan majelis zikir, majelis ta’lim, ketika Allah akan menurunkan musibah maka di tunda dulu, karena masih ada orang shalih berdoa meminta untuk dijauhkan dari musibah, masih ada orang yang beristighfar, masih ada orang yang memuji Allah, maka Allah SWT menyingkirkan musibah itu. Tetapi, jika tidak ada lagi orang shalih maka Allah tidak segan-segan untuk menghapus dan menghabisi dosa-dosa mereka dengan menumpahkan kesedihan kepada umat itu, hal ini adalah dari kasih sayang Allah tapi kasih sayang yang pedih, seperti seorang Ibu yang melihat anaknya sakit, misalnya anak itu tidak bisa diobati hanya dengan diberi vitamin c, harus dengan disuntik, mau tidak mau sang anak merasakan pedihnya jarum yang ditusukkan ke tubuhnya demi mengobatinya. Demikian juga masyarakat suatu wilayah yang tidak mau mendekat kepada Allah kecuali setelah diberi musibah, maka didatangkanlah musibah.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…</p>
<p>Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari mensyarahkan makna hadits ini<strong><em> “ Janganlah kalian bermukhalafah (bertentangan) dengan para ulama’ dan shalihin karena jika ini terjadi maka keadaan kita tidak dipedulikan oleh Allah”. </em></strong>Maka semoga para ulama’ kita, Shalihin kita senantiasa mengajarkan kita untuk selalu bersamar para ulama’ dan shalihin, lebih-lebih lagi selalu bershalawat mencintai Sayyidina Nabi Muhammad SAW. Yang Allah SWT telah berfirman :</p>
<p><strong> وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ ( الأنفال :33 </strong></p>
<p><strong><em>“ Dan Allah tidak akan mengazab mereka, selama engkau ( Muhammad ) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, selama mereka meminta ampunan “. ( QS. Al Anfaal : 33 ) </em></strong></p>
<p>Perbanyaklah istighfar kepada Allah, karena itu akan menjadi benteng dari datangnya musibah, perbanyak shalawat dan cinta kepada Allah dan Nabi Muhammad dan para shalihin, makmurkan masjid, makmurkan majelis taklim, makmurkan majelis zikir maka musibah akan semakin jauh dari kita, Insyaallah.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…</p>
<p>Sampailah kita pada hadits mulia, yang mana Nabi kita Muhammad SAW ingin membanggakan ummatnya di hari kiamat, seraya bersabda :</p>
<p><strong> إِنَّ أُمَّتِيْ يُدْعَوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِيْنَ مِنْ آثَارِ اْلوُضُوْءِ فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيْلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ ( صحيح البخاري </strong></p>
<p><strong><em>“ Sungguh ummatku digelari di hari kiamat sebagai cahaya yang terang benderang, dari bekas wdhunya, maka barangsiapa yang mampu diantara kalian untuk memperluas bagian ( yang disentuh air) pada anggota wudhunya , maka lakukanlah ( HR. Bukhari ) </em></strong></p>
<p>Maksud dari hadits ini adalah memperbanyak wudhu. Dan para ulama’ kita di dalam mazhab As Syafi’i diantaranya Al Imam An Nawawi Al Imam Ar Raafi’i dan lainnya mengatakan, yang di maksud adalah anggota wudhu itu kita lebihkan yang di sentuh air . Jadi kalau wajah sudah jelas anggota wudhu dan batasnya dari telinga kiri ke telinga kanan dari ujung dahi teratas sampai ujung dagu, itu batas yang wajib terkena air dalam berwudhu. Kalau mau mendapatkan <strong><em>Ghurran Muhajjalin </em></strong>( cahaya yang terang benderang ), maka membasuhnya diperluas ke kanan kiri dan atas bawah hingga sampai ke leher, jadi bukan hanya batas wajib saja yang terkena air wudhu. Kalau membasuh tangan disunnahkan untuk melebihkannya sampai tengah-tengah <strong><em>‘adhud </em></strong>(di antara siku dan tulang punggung, di atas siku) bukan di siku karena kalau sampai di siku itu adalah batas wajib. Jadi agar mendapatkan ghurran muhajjalin, maka basuhlah tangan sampai ke atas siku. Adapun kaki, maka membasuhnya dilebihkan sedikit di atas mata kaki. Jadi kalau berwudhu jangan dipaskan di batasan yang wajib saja, tapi lebihkan sedikit. Demikian pula rambut jangan di hanya yang fardhu saja, untuk rambut meskipun yang dikenai air hanya beberapa helai saja itupun sudah sah wudhunya, tapi sunnah kesemuanya untuk mendapatkan Ghurran muhajjalin. Maka kita akan dibanggakan oleh Nabi kelak di hari kiamat. Demikian sabda Rasulullah SAW yang tiada lain Rasul ingin kita bercahaya, Rasul SAW ingin kita terang benderang, Rasul ingin kita indah, tampan dan cantik di hari kiamat karena bekas air wudhu, Ghurran Muhajjalin di hari kiamat. Ghurran itu adalah salah satu bintang seperti najm, bintang yang berpijar. <em>Muhajjalin </em>itu berpijar dengan cahaya yang terang benderang. Indahnya Sang Nabi memberi tahu perhiasan yang memperindah wajah kita di hari kiamat yaitu dengan memperbanyak wudhu , dan wudhu itu menghapus dosa. Hadirin hadirat,, Nabi kita selalu menginginkan kita pada sesuatu yang paling mulia, pada hal-hal yang paling indah.</p>
<p>Semoga aku dan kalian di hari kiamat berkumpul dengan golongan <em>“ Ghurran Muhajjalin”</em> wajah yang terang benderang karena bekas air wudhu kita. Dan semoga hadits yang kita baca ini membawa keberkahan bagi kita, karena hadits ini sangat musalsal dari guru ke guru hingga kepada Rasulullah SAW. Semoga kita di dalam kemuliaan Ghurran Muhajjalin di yaumul qiyamah dan juga di dunia kita terang benderang dengan cahaya wudhu’ kita, Amiin.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…</p>
<p>Ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan tentang beberapa pertanyaan yang muncul dari saudara saudari kita, yaitu tentang khitan bagi bayi wanita. Kedokteran tidak memperbolehkan khitan bagi bayi wanita, karena hal itu akan membahayakan kesehatan bayi wanita. Tapi khitan bagi bayi wanita adalah sunnah muakkadah, diriwayatkan oleh Al Imam Abi Daud dan Al Imam At Turmuzi di dalam Mazhab Al Imam As Syafi’i bahwa khitan bagi bayi wanita sunnah muakkadah, dan bagi bayi laki-laki hukumnya wajib walaupun namanya “Sunat” tapi hukumnya wajib. Jadi khitan bagi bayi wanita <strong> </strong>, mereka yang mau melakukannya, lakukanlah dan yang tidak mau melakukannya tidak berdosa. Namun kalau ditanya hukumnya adalah sunnah, walaupun semua kedokteran di barat dan timur melarang, maka kita ummat muslimin tetap mengikuti Sayyidina Muhammad SAW . Namun karena hal ini sunnah maka boleh dilakukan, boleh tidak. Tapi kalau seandainya dilakukan akan membawa mudharat ( bahaya ), maka jangan dilakukan.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…</p>
<p>Yang kedua adalah pertanyaan tentang apakah keturunan Rasulullah SAW itu sudah terputus, karena wafatnya Sayyidina Husain ibn Ali bin Abi Thalib di dalam peperangan karbala, jawabannya adalah tentunya orang yang mengatakan keturunan Rasulullah itu putus sudah ada sejak zaman Nabi SAW, dan sudah Allah jawab dengan firmanNya :</p>
<p><strong> إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ¤ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ¤ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ ( الكوثر : 1-3 </strong></p>
<p><strong><em>“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Telaga Alkautsar, Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah, Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus keturunannya”. ( QS. Al Kautsar : 1-3 ) </em></strong></p>
<p>Ayat yang ketiga yang menjawab orang yang mengatakan keturunan Nabi terputus. Orang-orang di masa Nabi mengatakan keturunan Nabi itu putus, karena anak laki-lakinya semua wafat (Qasim, Ibrahim, Abdullah ) yang tersisa Sayyidatuna Fathimah Az Zahra’ dan putrid putri beliau saw, maka dikecoh oleh kaum kuffar qurays dikatakan putus keturunannya, dalam bahasa arabnya adalah <strong><em>Abtar. </em></strong>Abtar itu tidak punya keturunan, kenapa? karena semua anaknya wanita, tidak punya anak laki-laki, maka Allah SWT menjawab :</p>
<p><strong> إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ ( الكوثر : 3 </strong></p>
<p><strong><em>“ Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”. ( QS. Al Kautsar : 3 ) </em></strong></p>
<p>Ayat ini menjawab semua mereka yang mengatakan putusnya keturunan Rasulullah SAW, merekalah yang akan di putus keturunannya oleh Allah swt, wal’iyazubillah, jadi kalau bicara hati-hati. Dan ayat ini menjawab bahwa keturunan Rasul SAW berkesinambungan, tidak terputus.</p>
<p>Lebih dari seratus hadits yang meriwayatkan bahwa keturunan Rasul berkesinambungan sampai di masa Nabi Isa bin Maryam dibangkitkan kembali di akhir zaman.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..</p>
<p>Dan juga pertanyaan lain tentang hukum <strong>nikah Mut’ah</strong>. Nikah mut’ah ini kawin kontrak hanya beberapa hari selesai, hal ini pernah diperbolehkan oleh Rasul SAW kemudian diharamkan. Sebagaimana arak, khamr, minuman keras pernah dihalalkan kemudian dihalalkan. Jadi hal ini sudah diharamkan, diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari oleh Sayyidina Ali Bin Abi Thali Kw bahwa Rasul telah mengharamkan nikah mut’ah, dan hal ini juga teriwayatkan lebih dari sebelas hadits di dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim tentang diharamkannya nikah kontrak (kawin mut;ah), demikian hadirin hadirat. Sebenarnya masih banyak pertanyaan lain, namun hanya ini yang bisa kita bahas malam hari ini.</p>
<p>Juga masalah salaman saya lihat semakin hari semakin padat, semakin banyak yang cedera, terkadang saya yang cedera, kadang yang ingin bersalaman yang cedera. Jadi kalau dalam salaman tidak usah terlalu memaksakan diri, yang kebagian salaman,,,,,yang tidak kebagian salaman saya doakan Allah yang sampaikan rahmatNya kepadanya. Dan juga jangan khawatir ini (hanya) sentuhan jasadiah (tubuh), sentuhan kulit bisa dilepas lagi, tapi sentuhan hati tidak bisa lepas dunia dan akhirah. Semoga kita selalu dalam keluhuran.</p>
<p>Kita bermunajat kepada Allah SWT, semoga Allah sukseskan semua perjuangan kita, semoga Allah swt munculkan kedamaian khususnya di bumi Jakarta umumnya di seluruh wilayah muslimin di barat dan timur. Rabbi kami berdoa untuk diri kami, agar Engkau terangi jiwa kami dengan cahaya namaMu, dengan cahaya khusyu’, dengan cahaya kemuliaan, Kau terangi langit dengan berjuta triliun bintang-bintang dengan cahaya yang demikian dahsyatnya, entah berapa juta triliun mega watt yang menerangi setiap planet itu, dan Kau bisa membuatnya terang benderang, maka terangi jiwa kami wahai Rabbi lebih dari langit yang telah kau terangi menjadi terang benderang dengan cahaya namaMu Yang Maha Indah.</p>
<p>Ya Rahman Ya Rahiim, singkirkan dari kami keinginan untuk membuat dosa, munculkan kepada kami keinginan untuk berbuat baik. Ya Rahman Ya Rahim,, kami berdoa untuk saudara saudari kami yang terkena musibah, yang wafat agar dikumpulkan bersama para syuhada’, yang masih hidup semoga Engkau gantikan dengan kemuliaan dunia dan akhirat. Dan kami berdoa untuk teman-teman kami yang masih terjebak dalam narkotika atau perjudian, yang terjebak dalam perzinahan dan semua kriminal yang barangkali mereka terjebak di dalamnya, hujani mereka dengan taubat dan hidayah, undang mereka untuk berbuat luhur, undang mereka agar berbuat mulia Ya Allah. Ya Rahman Ya Rahim,, dan kami berdoa untuk negeri kami ini yang baru saja di pimpin oleh pemimpin dan kabinet-kabinet yang terpilih. Rabbi jadikan pemimpin dan kabinet menteri kami dilimpahi rahmat dan keberkahan dan Kau tuntun mereka pada keluhuran, barangkali mereka ada yang dalam kesalahan maka bimbing dalam kebenaran, mereka yang dalam kesalahan bimbing pada keluhuran, mereka yang dalam ketidakfahaman balikkan pada kebenaran, Ya Rahman Ya Rahim Ya Zal Jalaali wal Ikram, mereka juga yang telah maju, para konglomerat mereka para pengusaha yang menindas orang-orang muslim, Rabbi.. beri mereka hidayah, gantikan hati mereka dengan hati yang suka mencurahkan harta kepada para fuqaraa’, dan para kaum fuqara’ kami, kaum –kaum susah dan miskin kami, Rabbi.. mereka terus merintih dalam kesusahan, jika niatMu ingin mengangkat mereka pada derajat yang luhur maka percepatlah dan ganti dengan kemakmuran dunia dan akhirah . Banyak para fuqara’ yang Kau tindihkan dengan masalah-masalah yang sulit dan kefaqiran demi mengangkat derajat mereka luhur di akhirah, maka percepatlah wahai Rabbi dan kemudian muliakan mereka dalam kemakmuran dunia dan akhirah. Wahai Allah Yang memiliki alam semesta, kami berdoa dan memanggil namaMu yang Kau telah berfirman dalam hadits qudsi :</p>
<p><strong> ياَابْنَ آدَم إِنَّكَ ماَرَجَوْتَنِيْ وَدَعَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كاَنَ مِنْكَ وَلاَ أُباَلِي </strong></p>
<p><strong><em>“ Wahai anak Adam! Sesungguhnya jika engkau berharap dan memohon ampunan dariKu, maka akan Aku ampuni segala dosa-dosamu dan tidak Kupedulikan lagi “.</em></strong></p>
<p><strong> فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا&#8230; </strong></p>
<p>Katakanlah bersama-sama…</p>
<p><strong> يَا اللهْ يَا اَللهْ يَا اللهْ&#8230;يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ يَا رَحِيْمُ&#8230;لاَإلهَ إِلاَّ الله&#8230; مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوْتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ اْلأَمِنِيْنَ. </strong></p>
<p>Hadirin, kita tidak lupa dengan firman Allah “ Bahwa Allah SWT tidak akan memutus rahmatNya, jangn putus asa dengan cintaNya, Jika kekasihmu memutus cintanya padamu , maka Allah tidak akan memutus cintaNya pada kita, jadi jangan risau. Dan yang perlu saya sampaikan acara kita malam 1 Januari Insyaallah, sudah dikeluarkan izinnya yaitu di pintu utama gelora Bung Karno, semoga acara ini sukses. Guru mulia kita Al Musnid Al ‘Arif billah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh yang telah menyetujui acara ini dan acara haul Al Imam Fakhrul Wujud Abu Bakr bin Salim tanggal 3 Januari hari Ahad di Cidodol seperti biasa setiap tahunnya, lalu acara malam selasa kita tanggal 4 Januari Insya Allah di Monas bersama beliau juga. Semoga acara-acara ini sukses. Demikian yang bisa saya sampaikan, kita lanjutkan dengan mengenang kembali Indahnya Idola kita, Nabi kita Sayyidina Muhammad SAW. Tafaddhal Masykuraa…</p>
<p><strong> مَوْلاَيَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا عَلَى حَبِيْبِكَ خَيْرِ الخَلْقِ كُلِّهِمِ </strong></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" align="left">Terakhir Diperbaharui ( Monday, 09 November 2009 )</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhammadfebri.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhammadfebri.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhammadfebri.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhammadfebri.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhammadfebri.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhammadfebri.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhammadfebri.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhammadfebri.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhammadfebri.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhammadfebri.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhammadfebri.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhammadfebri.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhammadfebri.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhammadfebri.wordpress.com/288/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadfebri.wordpress.com&amp;blog=9734750&amp;post=288&amp;subd=muhammadfebri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/11/10/umat-yang-bercahaya-di-hari-kiamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70dec2e2087690446f11eb6418465418?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mufe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://majelisrasulullah.org/images/M_images/pdf_button.png" medium="image">
			<media:title type="html">PDF</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://majelisrasulullah.org/images/M_images/printButton.png" medium="image">
			<media:title type="html">Print</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://majelisrasulullah.org/images/M_images/emailButton.png" medium="image">
			<media:title type="html">E-mail</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.socialtwist.com/2009040514500/button.png" medium="image">
			<media:title type="html">SocialTwist Tell-a-Friend</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>pesantren rubat tarim</title>
		<link>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/11/03/pesantren-rubat-tarim/</link>
		<comments>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/11/03/pesantren-rubat-tarim/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 15:59:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muhammad febri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammadfebri.wordpress.com/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[Sekilas mengenal profil pesantren Rubat Tarim yang telah banyak menelorkan ulama besar di Asia Tenggara, Afrika dan penjuru dunia lainnya Pendahuluan Kota Tarim sejak dulu merupakan pusat ilmu dan penyebaran agama Islam, pakar sejarah mengatakan demikian. Kerena, melalui perantau yang berasal dari kota ini pada khususnya dan Hadramaut pada umumnya Islam menyebar hingga ke Timur [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadfebri.wordpress.com&amp;blog=9734750&amp;post=273&amp;subd=muhammadfebri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><img src="http://indo.hadhramaut.info/App_images/Large/ulama%20ribat.jpg" alt="" /></div>
<p>Sekilas mengenal profil pesantren Rubat Tarim yang telah banyak menelorkan ulama besar di Asia Tenggara, Afrika dan penjuru dunia lainnya <strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Kota Tarim sejak dulu merupakan pusat ilmu dan penyebaran agama Islam, pakar sejarah mengatakan demikian. Kerena, melalui perantau yang berasal dari kota ini pada khususnya dan Hadramaut pada umumnya Islam menyebar hingga ke Timur Asia, India, Indonesia, Malaysia, Berunei Darussalam, Fhilipina, Singapura, juga belahan Afrika, Kongo, Somalia, dan Sudan.</p>
<div>
Mereka para muhajirin tersebut pergi untuk berdakwah, dan untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka berdagang, hingga negeri-negeri yang dulunya kafir berubah menjadi negeri-negeri Islam.</p>
<p>Sayyidina Imam Ahmad bin Hasan al-Attas menyebutkan bahwa sebagian ulama Tarim telah hijrah sejak lebih dari 1000 tahun lalu, diantara mereka ada yang menjadi qadhi (hakim) di Mesir, padahal negeri ini dan    al-Azharnya sudah terkenal sejak dulu sebagai pusat cendekiawan-cendekiawan muslim.<span id="more-273"></span></p>
<p>Pada abad-abad selanjutnya fenomena ini mulai berubah, jika sebelumnya para ulama hijrah dari kota Tarim Al-Ghanna ini, kini orang mulai berdatangan ke Tarim untuk menuntut ilmu. Itu terjadi baik dimasa hidup Habib Syekh Abu Bakar bin Salim, masa putra beliau Hamid dan Husin juga di masa Imam Abdullah al-Haddad. Hal ini terjadi terus menerus hingga pada paruh pertama abad ke-13 H. Kota Tarim kian dipenuhi pendatang asing, diantara mereka Sayyid Imam al-Habib Sholeh al-Bahrain, Salim bin Sa’id bin Syumaeil, Syekh Abdullah Basaudan, al-Habib Abu Bakar bin Abdullah al-Attas, dan sebagainya. Pendatang-pendatang ini tinggal di mesjid-mesjid dan juga di zawiyah-zawiyah yang ada di Tarim.     </p>
<p>Kota yang besarnya tidak lebih dari luas sebuah kecamatan di Indonesia ini memang sangat istimewa. Walaupun kecil namun jumlah mesjidnya saja sangat banyak, kurang  lebih 365 buah, dan zawiyah-zawiyah yang makna asalnya adalah pojok-pojok yang berfungsi sebagai tempat ibadah para ubbad (ahli ibadah). Disitu para pelajar belajar ilmu nahwu, fiqh, dan ilmu-ilmu lainnya dengan para guru-guru yang ada di tiap-tiap zawiyah atau mesjid tersebut. Seperti zawiyah Syekh Ali bin Abu Bakar as-Sakron bin Abdurrahman as-Seqqaf yang diasuh oleh al-Allamah Mufti Diyar Hadramiyah al-Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur, kemudian zawiyah mesjid Sirjis dan Awwabin dengan Syekh al-Allamah Muhammad bin Ahmad al-Khatib, zawiyah mesjid Nafi’ diasuh al-Allamah Syekh Ahmad bin Abdullah al-Bakri al-Khatib (setelah wafat guru beliau yang juga pendiri zawiyah tersebut, al-Allamah Ahmad bin Abdullah Balfaqih pada tahun 1299 H, dan setelah wafat al-Habib Abu Bakar bin Abdullah Bakar al-Khered), kemudian mesjid Suwayyah pengajarnya juga Syekh Ahmad, mesjid bani Hatim (sekarang dikenal dengan mesjid ‘Asyiq) mudarrisnya al-Allamah Alwi bin Abdurrahman bin Abu Bakar Al-Masyhur, zawiyah Syekh Salim bin Fadhal Bafadhal dengan pengasuh al-Habib Abu Bakar bin Abdullah          al-Kherred (meninggal tahun 1312 H) dan lain sebagainya.<br />
 <br />
 Demikinlah kegiatan-kegiatan ilmiah yang ada di kota ini begitu ramai dan tatkala pelajar dari luar Tarim kian banyak dan dirasa kian sulit mendapatkan tempat tinggal, berkumpullah para pemuka kota ini guna memecahkan masalah itu, diantara mereka dari keluarga al-Haddad, as-Sirri, al-Junaid dan al-Arfan.</p>
<p><strong>Nama Perguruan</strong></p>
<p>Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan untuk mendirikan sebuah rubath (ma’had) yang kemudian dinamakan “RUBATH TARIM”. Persyaratan bagi calon pelajar juga dibahas pada kala itu, kriteria utama antara lain: calon santri adalah penganut salah satu mazhab dari empat mazhab fiqh (Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali) dan dalam aqidah bermazhab Asy’ariyah (mazhab Imam Abi Hasan Al-Asy’ari)      </p>
<p><strong>Tahun Diresmikan</strong></p>
<p>    Setelah membuat kesepakatan diatas dimulailah pembangunan Rubath Tarim. Untuk keperluan ini, Habib Ahmad bin Umar as-Syatiri (wafat  di Tarim tahun 1306 H) mewakafkam rumah beliau (dar muhsin) dan pekarangannya yang berada disebelah pasar di halaman mesjid Jami’ Tarim dan mesjid Babthoinah (sekarang mesjid Rubath Tarim). Wakaf juga datang dari al-Allamah al-Muhadisth Muhammad bin Salim as-Sirri (lahir di Singapura 1264 H, dan wafat di Tarim 1346 H)<br />
   <br />
    Habib Salim bin Abdullah as-Syatiri (pengasuh Rubath Tarim sekarang) menambahkan bahwa pedagang-pedagang dari keluarga al-Arfan juga mewakafkan tanah yang mereka beli di bagian timur, mereka kemudian dijuluki tujjaru ad-dunya wa al-akhirah (pedagang dunia dan akhirat). Datang juga sumbangan melalui wakaf rumah, kebun, dan tanah milik keluarga-keluarga habaib di luar Yaman, seperti Indonesia, Singapura, dan Bombosa Afrika.  <br />
     <br />
Akhirnya selesailah pembangunan Rubath Tarim di bulan Dzulhijjah tahun 1304 H dan secara resmi dibuka pada 14 Muharram 1305 H, keluarga al-Attash tercatat sebagai santri pertama yang belajar di Rubath Tarim kemudian datang keluarga al-Habsyi,begitu selanjutnya berdatangan para pelajar, baik dari Hadramaut sendiri maupun dari luar Hadramaut  bahkan dari luar negeri Yaman. Habib Ahmad bin Hasan al-Attash berkata: “Perealisasian pembangunan Rubath Tarim ini tidak lain adalah niat semua salafusshalihin alawiyiin, hal ini terbukti dengan mamfaatnya yang besar serta meluas mulai dari bagian Timur bumi dan Barat”.</p>
<p><strong>Pengasuh</strong></p>
<p>-  Pengasuh I    </p>
<p>Mufti Diyar Hadramiyah Sayyidina al-Imam al-Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur (pengarang kitab Bugyatul Mustarsidin), beliau  lahir di Tarim tahun 1250 H. Beliau mengasuh Rubath Tarim hingga tahun 1320 H, dengan dibantu ulama-ulama lain yang ada pada masa itu, seperti al-Allamah Syekh Ahmad bin Abdullah al-Bakri al-Khatib (1257-1331 H), al-Allamah an-Nahrir Habib Alwi bin Abdurrahman al-Masyhur (1263-1341), al-Faqih   al-Qadhi Husein bin Ahmad bin Muhammad al-Kaff (menjadi qadhi di Tarim selama dua periode, wafat 1333 H), al-Allamah as-Sayyid Hasan bin Alwi bin Sihab, al-Allamah Syekh Abu Bakar bin Ahmad         al-Bakri al-Khatib (1286-1356). Para mudarris inilah yang mengajar di Rubath Tarim sejak pertama kali dibuka pada tahun 1305 hingga tahun 1314 H.   </p>
<p>-  Pengasuh II<br />
    <br />
Al-Allamah al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Masyhur (lahir di Tarim tahun 1274 H), mudarris di zawiyah Syekh Ali bin Abu Bakar bin Abdurrahman as-Segaf. Beliau mengasuh Rubath Tarim sejak wafatnya sang ayah (al-Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur) pada tahun 1320 H dan terus berlangsung hingga tahun 1344 H ketika beliau berpulang ke rahmatullah pada tahun itu pada tanggal 9 Syawal.</p>
<p>-  Pengasuh III   </p>
<p>Al-Habib Abdullah bin Umar as-Syatiri ra (lahir di Tarim bulan Ramadhan tahun 1290 H), yang kemudian diberi mandat oleh pemuka kota Tarim untuk menjadi pengasuh ketiga yang semula menjadi wakil Habib Ali bin Abdurrahman al-Masyhur sejak tahun 1341 H jika beliau berhalangan mengajar dan telah menjadi mudarris di Rubath Tarim sejak datang dari Mekkah pada tahun 1314 H. Pada mulanya beliau belajar di kota kelahiran kepada para masyayikh di sana terutama kepada Habib Abdurrahman al-Masyhur, Habib Alwi bin Abdurrahman al-Masyhur dan Habib Ahmad bin Muhammad    al-Kaff. Kemudian beliau pindah ke Seiwun (25 Km sebelah barat laut kota Tarim) dan belajar di Rubath Habib Ali bin Muhammad bin Husien al-Habsyi selama kurang lebih empat bulan, juga kepada Habib Muhammad bin Hamid as-Segaff, dan saudara beliau Umar bin Hamid as-Segaf, serta Habib Abdullah bin Muhsin as-Segaf.  <br />
   <br />
    Pada waktu berumur 20 tahun (tahun 1310 H), beliau pergi ke Mekkah bersama orang tua beliau Habib Umar As-Syatiri, untuk menunaikan ibadah haji dan ziarah kepada Rasulullah saw. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, beliau meminta izin kepada ayah beliau untuk tinggal di Mekkah guna menuntut ilmu. Dan tercatat sejak tanggal 15 Muharram 1211 H hingga 15 Dzulhijjah 1313 H beliau belajar pada ulama-ulama di kota suci itu, diantaranya kepada Syekh al-Allamah Umar bin Abu Bakar Ba Junaid, Syekh al-Allamah Muhammad bin Said Babsheil, Habib Husien bin Muhammad bin Husien al-Habsyi (saudara Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Seiwun), Habib Ahmad bin Hasan al-Attash, dan al-Faqih al-Abid Abu Bakar bin Muhammad Syatho (pengarang kitab Hasyiyah I’anatu at-Thalibin ‘ala Fathi al-Mu’in).</p>
<p>    Konon ilmu nahwu sangat sulit bagi beliau, sampai beliau berujar (sebagaimana yang dituturkan putera beliau Habib Salim bin Abdullah as-Syatiri):”…..dulu saya punya kitab Kafrawi syarah al-Jurumiah yang penuh dengan air mata….. “ kerena sulitnya ilmu itu bagi beliau. Namun kemudian Allah SWT menganugerahi beliau ke-futuh-an.”….tatkala saya berada di Mekkah, semua risalah yang datang, saya taruh dibawah tempat tidur, saya berdo’a di Multazam agar Allah SWT membukakan bagi saya ilmu yang bermamfaat, dan agar ilmu saya menyebar di bumi barat dan timur, maka acap kali saya berdo’a dengan do’a ini, terlintas dalam benak, bahwa saya akan menjadi musafir yang pindah dari  negeri satu ke negeri yang lain untuk mengajar umat, akan tetapi berapa lama umur manusia untuk semua itu ?…”. Maka Allah SWT mengabulkan do’a beliau, Allah SWT memudahkan perjalanan Rubath ini, sehingga para penuntut ilmu berdatangan dari penjuru dunia, mereka menjadi ulama, dan menyebarkan ilmu mereka masing-masing maka menyebarlah ilmu beliau (Habib Abdullah bin Umar as-Syatiri) di timur dan barat.</p>
<p>    Sayyid Muhammad bin Salim bin Hafizd (salah seorang murid beliau) berujar:”……..Habib Abdullah bercerita kepada kami bahwa lama tidur beliau kala itu (selama balajar di Mekkah) tidak lebih dari 2 jam saja setiap harinya, beliau belajar kepada guru-gurunya sebanyak 13 mata pelajaran pada siang dan malam, serta menelaah kembali semua pelajaran itu (tiap hari)……”.<br />
      <br />
Selama kurang lebih lima puluh tahun beliau mengajar di Rubath Tarim (1314-1361 H) selama itu hanya enam jam beliau berada dirumah, sedang delapan belas jam dari dua puluh empat jam tiap hari, beliau berada di Rubath Tarim untuk mengajar dan memimpin halaqah-halaqah ilmiah, jumlah murid yang telah belajar di Rubath Tarim tak dapat diketahui secara pasti jumlahnya. Dalam biografi Habib Muhammad bin Abdullah al-Hadar (salah seorang murid di Rubath Tarim) menyebutkan bahwa lebih dari 13.000 alim telah keluar dari Rubath Tarim di bawah asuhan Habib Abdullah bin Umar as-Syatiri.</p>
<p> <br />
-   Pengasuh IV   </p>
<p>Al-Habib Hasan bin Abdullah bin Umar as-Syatiri.</p>
<p>-   Pengasuh V  </p>
<p>Al-Habib Salim bin Abdullah bin Umar as-Syatiri (pengasuh sekarang).</p>
<p><strong>Luas Bangunan</strong></p>
<p>Saat ini, bangunan Rubath Tarim yang luasnya sekitar 500 m persegi ini menampung pelajar dari berbagai belahan dunia terutama pelajar Indonesia yang hampir mendominasi warga Rubath Tarim.</p>
<p><strong>Sistem Belajar</strong></p>
<p>Sejak berdiri hingga sekarang (kurang lebih 121 tahun) pengajian di Rubath Tarim dilaksanakan dengan sistem halaqah yang dibimbing oleh para masyayikh. Klasifikasi ini disesuaikan dengan tingkatan masing-masing pelajar. Tiap halaqah mengkaji berbagai fan keilmuan tak kurang dari sepuluh halaqah sejak pagi hingga malam mengkaji ilmu-ilmu agama dan diikuti oleh para pelajar dengan disiplin dan khidmat.</p>
<p><strong>Kitab-Kitab Yang Dipelajari</strong></p>
<p>Adapun kitab-kitab yang dikaji pada tiap halaqah disesuaikan dengan kemampuan pelajar (semacam tingkatan kelas), antara lain:</p>
<p>    *    Umdah<br />
    *    Fathul mu’in<br />
    *    Minhajut Thalibin dan sarahnya<br />
    *    Nahwu<br />
    *    Fawaid Sugro dan Kabir<br />
    *   Matan al-Jurumiah<br />
    *    Al-Fushul al-fikriah Fiqh<br />
    *    Ar-risalatul al-Jamiah<br />
    *    Safinatun Najah<br />
    *    Mukhtasar Shogir<br />
    *    Mukhtasar Kabir<br />
    *   Abi Syuja’<br />
    *   Fathul Qarib<br />
    *   Zubad<br />
    *   Mutammimah -<br />
    *  Qatrun Nida<br />
    *   Syaddzu adzhab<br />
    *   Alfiah Ibnu Malik<br />
    *   Zawaid (tambahan) Alfiah Ibnu Malik</p>
<p>Setelah menamatkan kitab-kitab diatas para pelajar melanjutkan pada materi-materi lain, seperti Hadist, Tafsir, Usul fiqh.</p>
<p><strong>Waktu Belajar</strong><br />
 <br />
Para pengurus Rubath Tarim memperhatikan semua aktifitas pelajar dengan secara cermat. Jadual rutinitas keseharian para pelajar dimulai sejak sebelum shalat Subuh dengan melaksanakan shalat Tahajud, dilanjutkan shalat Subuh berjamaah di mesjid Babthoin, disertai pembacaan aurad.</p>
<p>Baru kira-kira pukul 05.00 s.d 07.00 pagi, digelar pengajian nahwu atau lebih akrab disebut dars nahwu. Setelah itu para pelajar dipersilahkan makan pagi. Pada jam 07.30 dilaksanakan mudzakarah tiap halaqah selama sekitar setengah jam untuk persiapan pengajian yang akan di pelajari bersama masyayikh yaitu hafalan matan sampai pukul 09.00.</p>
<p>Selama tiga jam berikutnya adalah waktu istirahat hingga Dzuhur, setelah menunaikan shalat Dzuhur diadakan hizb (tadarus) al-Qur’an selama setengah jam. Setelah itu para pelajar dianjurkan tidur siang untuk persiapan mengaji pada sore hari.</p>
<p>Pada pukul 15.00 setelah shalat ashar berjamaah, semua pelajar mengaji tiap halaqah sampai pukul 17.00, setelah shalat magrib dilanjutkan dengan hizb (tadarus) Al-Qur’an dan pengajian halaqah sampai pukul 20.15. Setelah makan malam para pelajar diharuskan mengikuti halaqah selama setengah jam untuk persiapan pelajaran pagi.</p>
<p><strong>Staf Pengajar</strong></p>
<p>1.    Al-Habib Salim bin Abdullah bin Umar as-Syatiri<br />
2.    Syekh Abu Bakar Muhammad Balfaqih<br />
3.    Syekh Umar Abdurrahman al-Atthas<br />
4.    Syekh Abdullah Abdurrahman al-Muhdhar<br />
5.    Syekh Muhammad Ali al-Khatib<br />
6.    Syekh Muhammad Ali Baudhan<br />
7.    Syekh Abdullah Umar bin Smith<br />
8.    Syekh Abdurrahman Muhammad al-Muhdhar<br />
9.    Syekh Hasan Muhsin al-Hamid<br />
10.    Syekh Abdullah Shaleh Ba’bud<br />
11.    Syekh Muhammad Al-Haddad<br />
12.    Syekh Abdullah Umar Bal Faqih<br />
Selain para masyayikh diatas, para senior juga diwajibkan membimbing halaqah tingkat bawahnya.</p>
<p><strong>Fasilitas</strong></p>
<p>    *     50 kamar<br />
    *     Wartel<br />
    *    Toserba<br />
    *     Perpustakaan</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Sebagian ulama yang telah belajar di Rubath Tarim , antara lain:</p>
<p>-    Al-Imam Syaikhul Islam al-Habib Muhammad bin Abdullah        al-Haddar (1340-1418 H), mufti propinsi Baidha, Yaman dan pendiri Rubath al-Haddar lil ulumus Syariat.<br />
-    Al-Allamah Habib Hasan bin Ismail bin Syekh, pendiri Rubath Inat Hadramaut.<br />
-  Al-Allamah al-Habr, pejabat qadhi as-syar’i Baidha, Habib Muhammad bin Husien al-Baidhawi.<br />
-   Al-Habib Abdullah bin Abdurrahman Ibn Syekh Abu Bakar bin Salim, pendiri Rubath Syihir.<br />
-   Al-Habib Husien al-Haddar, ulama besar kelahiran Indonesia dan meninggal di Mukalla Hadramaut.<br />
-  Al-Habib Muhammad bin Salim Bin Hafizd Ibn Syekh Abu Bakar bin Salim, pengarang dari berbagai kitab fikih dan faraid ayah dari al-Habib Ali Masyhur bin Hafizd dan al-Habib Umar bin Hafizd pendiri ma’had Dar Al-Musthafa Tarim Hadramaut.<br />
- Al-Habib al-Wara’ as-Shufi  Ahmad bin Umar as-Syatiri, pengarang kitab Yakutun Nafis, Nailurraja’ syarah Safinatun Naja  dan sebagainya.<br />
- Al-Habib Muhammad bin Ahmad as-Syatiri, pengarang kitab Syarah Yaqutun Nafis, Mandzuma Al-Yawaqit fifanni Al-Mawaqit (ilmu falaq), kitab Al-Fhatawa Al-Muassyirah dan sebagainya.<br />
- Al-Allamah Syekh Muhammad bin Salim al-Baihani, pendiri ma’had Al’ilmi, Aden.<br />
- Al-Allamah Habib Muhammad bin Ali bin Abdurrahman al-Habsyi, Jakarta, Indonesia.<br />
- Al-Wajih an-Nabil al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Balfaqih (wafat tahun 1381 H), pengasuh ma’had Darul Hadist al-Faqihiyyah, Malang, Indonesia.<br />
- Al-Faqih an-Nabil pejabat qadhi as-syar’i Banjarmasin Syekh Ahmad Said Ba Abdah.<br />
-   Habib Abdullah al-Kaff, Tegal, Indonesia.<br />
-    Habib Ahmad bin Ali al-Attas, pekalongan.<br />
-    Habib Abdurrahman bin Syekh al-Attas, Jakarata.<br />
-    Habib Abdullah Syami al-Attas, Jakarta.<br />
-    Syekh al-Allamah Umar Khatib, Singapura.<br />
-    Habib ‘Awad Ba ’Alawi, sesepuh ulama Singapura.<br />
-    Syekh Abdurrahman bin Yahya, qadhi Kelantan, Malaysia.<br />
-    Sayyid al-Muhafizd al-Majid al-Adib Hamid bin Muhammad bin Salim bin Alwi as-Sirri, pengajar di Rubath Tarim dan Jam’iyatul al-Haq di kota yang sama, kemudian pindah dan mengajar di Malang, Indonesia.<br />
-    Habib Alwi bin Thohir Al-Haddad, Mufti Johor, Malaysia.</p>
<p>Dan banyak lagi para ulama yang telah belajar di Rubath Tarim ini, yang tak mungkin disebutkan nama-nama mereka yang mencapai ribuan. Habib Alwi bin Muhammad bin Ahmad al-Muhdhar di Indonesia, berkata:”…tak kutemukan satu daerah atau pulau di Indonesia yang saya masuki, kecuali saya dapati orang orang yang menyebarkan ilmu disana adalah alumni Rubath Tarim ini atau orang yang belajar kepada orang yang telah belajar disini…”.</p>
<p>Habib Musthafa bin Ahmad al-Muhdar menulis pada sebagian surat beliau kepada ahli Tarim: ”Ilmu as-Syatiri (Habib Abdullah bin Umar as-Syatiri) teruji dengan penyebarannya menyebar ke segala penjuru, dari daerah yang satu ke daerah yang lain, menyebar ke Hindia, China, negara-negara Arab, Somalia, Malabar, dan sebagainya..”.</p>
<p>Sayyid Muhammad bin Salimwalaikum sala bin Hafizd menambahkan (Habib Abdullah as-Syatiri) berhak mengatakan jika beliau mau sebagaimana yang dikatakan Imam Abi Ishaq as-Syairozi tatkala memasuki Khurasan,”tak aku dapati disatu kota pun dari kota-kota disana, Qadhi atau Alim kecuali dia adalah muridku atau murid dari muridku..”</p>
<p>    Demikianlah sekelumit sejarah Rubath Tarim yang panjang dan agung, yang telah belajar di sana beribu-ribu ulama, al-allamah, faqih, mufti, qadhi, syair bahkan para aulia Allah SWT. Dan saat ini Rubath Tarim telah memasuki usia yang ke-121 tahun, ratusan pelajar dari Yaman, Indonesia, Malaysia, Singapura, Tanzania, Afrika, dan sebagainya tengah menimba ilmu di sana, di bawah asuhan al-Allamah Habib Salim bin Abdullah as-Syatiri.</p>
<p><em>Allahumma ya Man waffaqa ahla al-khoir  li khoiri wa a’annahum ‘alaihi, waffiqna lil khoiri   wa a’innaa ‘alaihi</em>, Amin…<br />
(berbagai sumber)</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhammadfebri.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhammadfebri.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhammadfebri.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhammadfebri.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhammadfebri.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhammadfebri.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhammadfebri.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhammadfebri.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhammadfebri.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhammadfebri.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhammadfebri.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhammadfebri.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhammadfebri.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhammadfebri.wordpress.com/273/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadfebri.wordpress.com&amp;blog=9734750&amp;post=273&amp;subd=muhammadfebri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/11/03/pesantren-rubat-tarim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70dec2e2087690446f11eb6418465418?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mufe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indo.hadhramaut.info/App_images/Large/ulama%20ribat.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>sebesar-besarnya kejahatan diantara muslim</title>
		<link>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/11/01/sebesar-besarnya-kejahatan-diantara-muslim/</link>
		<comments>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/11/01/sebesar-besarnya-kejahatan-diantara-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 15:00:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muhammad febri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/11/01/sebesar-besarnya-kejahatan-diantara-muslim/</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis Oleh: Munzir Almusawa    Friday, 23 October 2009 Sebesar &#8211; Besarnya Kejahatan Diantara Muslimin Senin, 19 Oktober 2009 قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ وَاْلحَمْدُلِلهِ الَّذِيْ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadfebri.wordpress.com&amp;blog=9734750&amp;post=272&amp;subd=muhammadfebri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td colspan="2" width="70%" align="left" valign="top">Ditulis Oleh: Munzir Almusawa   </td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" valign="top">Friday, 23 October 2009</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" valign="top"><strong><em>S</em>ebesar &#8211; Besarnya Kejahatan Diantara Muslimin<br />
Senin, 19 Oktober 2009 </strong></p>
<p><strong>قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ </strong></p>
<p>Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh</p>
<p><strong>حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ وَاْلحَمْدُلِلهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ الْحَمْدُلِلهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِيْ هَذَااْلمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِيْ هَذَا اْلجَمْعِ اْلعَظِيْمِ وَفي هَذِهِ اْلجَلْسَةِ اْلمُبَارَكَةِ جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مُتَّصِلِيْنَ بِنُوْرِ اْلمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . </strong></p>
<p>Limpahan Puji ke hadirat Allah SWT Yang Maha Luhur, Yang Maha mengundang kita kepada cahaya pengampunanNya hingga hadir dan berkumpul untuk mendapat pengampunan dan kelembutan Ilahi yang ditebarkan kepada hamba-hambaNya sepanjang waktu dan zaman. Sampailah kita di malam yang agung ini kembali berkumpul untuk mendapatkan mutiara-mutiara Ilahi yang abadi, perhiasan yang termulia dan terindah seakan tidak terlihat mata namun terlihat oleh Yang Maha Melihat Maha Raja langit dan bumi, yang sangat dimuliakan oleh Allah perhiasan yang berharga di hadapan Allah dan hal itulah berupa tuntunan-tuntunan Nabi kita Muhammad SAW. Allah sangat menghargai dan menghormati perbuatan-perbuatan luhur, sekecil-kecil perbuatan bahkan sampai perbuatan yang seakan tiada artinya, sampai menyingkirkan duri dari jalan pun dihormati dihargai dan disyukuri oleh Allah kepada kita, ketika seseorang menyingkirkan duri dari jalan, Rasul SAW bersabda riwayat Shahih Al Bukhari :</p>
<p><strong>فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَغَفَرَالله لَهُ . ( رواه البخاري </strong></p>
<p><strong><em>“ Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosanya”. ( HR. Bukhari ) </em></strong></p>
<p>Allah Maha tidak butuh pada perbuatan kita dan tidak pula butuh pada jasa kita, namun Sang Maha Baik berterima kasih atas perbuatan kita yang mau memperbaiki diri kita sendiri. Demikian indah dan cintanya Allah berterima kasih kepadamu karena engkau ingin membenahi diri, Allah yang berterima kasih. Berterima kasih karena kita ingin dekat denganNya, padahal Allah Maha tidak membutuhkan kita. Inilah Sang Maha Indah dan Sang Maha Sejahtera, dari namaNya lah berpijar segenap ciptaan dan kesejahteraan sepanjang waktu dan zaman, dan beruntung mereka yang mengikuti sang pembawa kesejahteraan Sayyidina Muhammad SAW . Maka kemenangan muncul mulai kebangkitan Sang Nabi dan terus keberhasilan dan keberhasilan, kesuksesan dan kesuksesan, kesuksesan seseorang dalam pribadinya selamat dari dosa, kesuksesan seseorang dalam pribadinya selamat dari musibah, kesuksesan suatu wilayah untuk terjauhakan dari suatu musibah, kesuksesan satu majelis atau satu halaqah atau kelompok masyarakat untuk mendapatkan ampunan Allah, kesuksesan dalam kehidupan dunia dan akhirah, semua itu telah diberikan dan dikabarkan oleh Allah SWT di dalam firmanNya :</p>
<p><strong>إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِيْنًا ¤ لِيَغْفِرَ لَكَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيْمًا ¤ وَيَنْصُرَكَ اللهُ نَصْرًا عَزِيْزًا . ( الفتح : 1-3 </strong></p>
<p><strong><em>“ Sungguh Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, agar Allah memberikan ampunan kepadamu atas dosamu yang lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmatNya kepadamu dan menunjukkanmu ke jalan yang lurus, dan agar Allah menolongmu denagn pertolongan yang kuat “. ( QS. Al Fath : 1-3 ) </em></strong></p>
<p>Maksudnya, kemenangan keberhasilan bukan hanya untuk Sang Nabi tapi untuk semua penerusnya hingga akhir zaman, kenapa? karena Rasul SAW tidak merasa sukses dan tidak merasa berhasil kalau beliau hanya berhasil sendiri lantas ummat selanjutnya sirna dan musnah. Terbukti bahwa ummat-ummat sebelum beliau ketika setelah Nabi mereka wafat satu dua generasi sirnalah ajaran dan tuntunannya, membutuhkan tuntunan Nabi yang lain. Berbeda dengan Sang Nabi yang telah diberi oleh Allah<strong><em> Fathan Mubiinaa </em></strong>yaitu keberhasilan yang berkesinambungan, keberhasilan yang sebaik-baiknya, semakin hari ummat beliau bukan makin berkurang tapi semakin bertambah, semakin hari ummat beliau SAW semakin banyak .</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..<br />
Para mufassir ( ahli tafsir ) membuka makna ayat kedua ini :</p>
<p><strong>لِيَغْفِرَ لَكَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ. ( الفتح : 2 </strong></p>
<p><strong><em>“ Dan Allah mengampuni dosamu ( Muhammad SAW ) yang terdahulu dan yang akan datang”. ( QS. Al Fath : 2 ) </em></strong></p>
<p>Sebagian menafsirkan maknanya adalah dosa para sahabat beliau sebelum kebangkitan Sang Nabi dan dosa ummat beliau yang akan datang karena kesemuanya akan menemui Assyafa’ah Al ‘Uzhmaa (syafaat yg mulia) dari Nabiyyuna Muhammad SAW..</p>
<p><strong>وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيْمًا. ( الفتح : 2 </strong></p>
<p><strong><em>“ Dan Allah akan menyempurnakan untukmu kenikmatan dan menunjukkanmu ke jalan yang lurus”. ( QS. Al Fath : 2 ) </em></strong></p>
<p>maksudnya adalah keberhasilanmu ( Muhammad SAW ) dan keberhasilan para penerusmu di dunia hingga akhirah dengan keberhasilan yang abadi dan menunjukkanmu ke jalan yang lurus. Oleh sebab itu diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari Rasul SAW bersabda :</p>
<p><strong>لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ ظَاهِرُوْنَ . ( رواه البخاري </strong></p>
<p><strong><em>“ Masih ada sekelompok dari ummatku yang selalu tegak dalam kebenaran hingga datang pada mereka perintah Allah ( hari kiamat ) . ( HR. Bukhari ) </em></strong></p>
<p>Tiada akan pernah habis-habisnya ummatku ( Muhammad SAW ) itu, sekelompok dari ummatku terus ada dalam kebenaran, dalam kemuliaan dalam keluhuran, tidak bisa dibasmi habis sebagaimana ummat-ummat terdahulu tapi mereka terlihat jelas tidak terlalu sulit mencarinya, kelompok-kelompok pembawa kebenaran dan keluhuran dari ummat Nabi Muhammad SAW, hingga nanti mereka sampai di padang mahsyar mereka masih tetap terlihat dan ada . Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Bari Bisyarh Shahih Al Bukhari menjelaskan makna hadits ini, bahwa tiada akan ada habisnya sekelompok ummat yang mulia ini yang terus membawa kemuliaan dan mereka tidak tersembunyi tapi terlihat jelas muncul pada setiap waktu yang ada, kelompok-kelompok mulia yang membawa kebenaran sampai nanti akhir zaman, dan kelak akan lebih terlihat jelas di padang mahsyar para pengikut Sayyidina Muhammad SAW, para pecinta Rasulullah Ja’alanii Allahu Waiyyakum minhum ( Semoga Allah jadikan aku dan kalian diantara mereka ).</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..<br />
Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika Rasul SAW dalam keadaan gundah, hingga Sayyidina Umar RA memberi salam kepadanya tidak dijawab satu dua kali dan yang ketiga maka Rasul SAW di waktu subuh itu berkata :</p>
<p><strong>لَقَدْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ الَّيْلَةَ سُوْرَةٌ هِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ . ( رواه البخاري </strong></p>
<p>“ Sungguh telah turun kepadaku di malam ini satu surah yang agung, yang aku gembira dengan turunnya surah itu lebih daripada terbitnya matahari. ( HR. Bukhari )</p>
<p>Maka Sayyidina Umar RA berkata : surat apakah Ya Rasulallah?, maka Rasulullah SAW berkata :</p>
<p><strong>إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِيْنًا ¤ لِيَغْفِرَ لَكَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيْمًا ¤ وَيَنْصُرَكَ اللهُ نَصْرًا عَزِيْزًا . ( الفتح : 1-3 </strong></p>
<p>Dan Allah akan memberimu pertolongan dengan pertolongan yang mulia, pertolongan yang dahsyat pertolongan yang hebat, bukan hanya untuk Sang Nabi tapi juga untuk para penerusnya, karena kalau seandainya hanya pertolongan untuk sang Nabi maka tentunya pertolongan itu tidak sempurna karena setelah Rasul SAW maka akan selesai tidak ada pertolongan untuk para penerusnya, karena para penerusnya bersambung cita-citanya dan perjuangannya dengan Sang Nabi SAW maka mereka pun terikat erat dengan hal ini, hal ini disebut dengan<strong><em> hukum taba’iyyah </em>yaitu bersamaan. Sebagaimana Rasul SAW ketika sampai ke ‘Arsy Ar Rahman sampai ke hadirat Allah SWT Rasul SAW tetap dengan sandalnya, ketika Nabiyullah Musa AS menghadap Allah di bukit Turisina maka Allah berkata : </strong></p>
<p><strong>إِنِّيْ أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِاْلوَادِاْلمُقَدَّسِ طُوَى . ( طه : 12 </strong></p>
<p><strong><em>“ Sungguh Aku ( Allah ) adalah Tuhanmu, maka lepaskan kedua terompahmu karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci “. ( QS. Taha : 12 ) </em></strong></p>
<p>Sang Nabi sampai di ‘arsy Ar Rahman tidak diperintah untuk melepas sandalnya, bukan berarti sandalnya lebih mulia dari seluruh makhluk bagaiman Jibril kok tidak bisa naik tapi sandal Rasul SAW bisa sampai ke hadirat Allah?, hingga muncul satu syair “ Mana sih yang lebih mulia Jibril atau sandal Rasul? kok sandal Rasul bisa sampai ke hadirat Allah?, tentunya (sangat lebih mulia) Jibril AS, sandal hanya terbuat dari kulit kambing yang tidak ada artinya, tapi masalahnya karena terikat di kaki Sayyidina Muhammad SAW…!, ini adalah<strong><em> hukum taba’iyyah</em>. Tentunya pakaian Rasul SAW yang dipakai beliau bukan berarti lebih mulia dari semua makhluk, tapi karena hukum taba’iyyah yaitu terikat di pakaian Sang Nabi, nah kalau sandal yang terikat di kaki beliau bisa sampai ke hadirat Allah, terlebih lagi jiwa yang terikat kepada Sayyidina Muhammad SAW…!</strong></p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…</p>
<p><strong>وَيَنْصُرَكَ اللهُ نَصْرًا عَزِيْزًا . ( الفتح :3 </strong></p>
<p><strong><em>“ Allah akan menolongmu dengan pertolongan yang dahsyat “ . ( QS. Al Fath : 3 ) </em></strong></p>
<p>Maka semua ummat ini yang selalu berusaha membenahi diri, yang berusaha semampunya membenahi hari-harinya memperindah hari-harinya, maka ia akan berada dalam cahaya pertolongan yang dahsyat oleh Allah SWT, cahaya kesuksesan dan keberhasilan sangat dekat kepadanya, karena apa? Karena ia kebagian dari biasnya cahaya ayat yang turun ini ( QS. Al Fath ) . Rasul SAW tidak mau memecah beliau dengan ummatnya, dimana pun dan kapan pun disaat-saat apa pun<strong><em> “ Ummatii, Ummatii “, </em>di saat sakaratul maut pun <strong><em>“ Ummatii, Ummatii “, </em>bangkit dari padang mahsyar kalimat pertamanya <strong><em>“ Ummatii, Ummatii”</em>. Sampai ketika di hadapan Allah pun beliau tetap melibatkan ummat beliau, ketika Allah berfirman : </strong></strong></strong></p>
<p><strong>السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ </strong></p>
<p><strong><em>“ Salam sejahtera untukmu wahai Nabi dan rahmat Allah serta keberkahan “</em></strong></p>
<p>Maka Rasul SAW menjawab :</p>
<p><strong>السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ </strong></p>
<p><strong><em>“ Salam sejahtera untuk kami dan semua hamba Allah yang shaleh “</em></strong></p>
<p>Diterima salam Allah itu dipecah untuk seluruh ummatnya dan hamba-hamba Allah yang shaleh, tidak lepas jiwa sang Nabi dari ummat beliau SAW hingga saat sakaratul maut pun seraya berdoa kepada Allah SWT :</p>
<p><strong>شَدِّدْ عَلَيَّ مَوْتِي وَخَفِّفْ عَلَى أُمَّتِيْ </strong></p>
<p><strong><em>“ Wahai Allah pedihkan sakaratul maut ku dan ringankan untuk ummat ku “</em></strong></p>
<p>Demikian Nabi kita Muhammad SAW . Rasul SAW memberikan satu tuntunan yang mulia dengan hadits ini kita mendapat peringatan dari Allah SWT lewat sang Nabi SAW :</p>
<p><strong>إِنَّ أَعْظَمَ اْلمُسْلِمِيْنَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْئٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ. ( رواه البخاري </strong></p>
<p><strong><em>“ Sebesar-besarnya dosa seorang muslim pada muslim lainnya itu adalah orang yang mempermasalahkan hal yang tidak diharamkan menjadi diharamkan karena ia mempermasalahkannya “. ( HR. Bukhari ) </em></strong></p>
<p>Hal seperti ini kata Rasul SAW adalah<strong><em> “ kejahatan muslim kepada muslim lainnya”.</em> Yang harus berhati-hati muncul saudara-saudara di masa kini yang terus melarang hal-hal yang boleh, hal-hal yang mulia dilarang dan dikatakan syirik, dikatakan bid’ah dan lain sebagainya. Boleh tidak ziarah di pagi hari lebaran?, tentunya ziarah mau di siang hari, di malam hari, waktu puasa, waktu lebaran mau kapan pun ziarah itu sunnah. Rasul SAW bersabda :</strong></p>
<p><strong>كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ اْلقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا </strong></p>
<p><strong><em>“ Aku sudah melarang kalian ziarah kubur , tapi sekarang kalian berziarahlah “</em></strong></p>
<p>Ini menunjukkan ziarah kubur itu sunnah, mau siang hari atau malam dan kapan pun. Maka orang mau ziarah di bulan puasa silahkan, ziarah di bulan Rajab tafaddhal, ziarah di hari lebaran tidak ada larangannya. Muncul orang-orang yang mengatakan tidak ada nashnya atau dalilnya ziarah hari lebaran tentunya mau ziarah kapan pun boleh, kalau mau dilarang mana dalilnya?</p>
<p>Hadirin hadirat…hati-hati terkena hadits ini orang-orang yang mempermasalahkan hal-hal yang tidak dilarang sampai menjadi dilarang gara-gara ia mempermasalahkannya. Orang-orang kumpul membaca shalawat pada Nabi SAW, berzikir bersama dikatakan syirik dikatakan bid’ah . Kumpul bersama, zikir bersama, Rasulullah SAW tidak pernah memperbuatnya, MasyaAllah!! Berapa puluh hadits riwayat Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim yang menjelaskan tentang zikir berjama’ah dimana Allah SWT berfirman dalam hadits qudsi :</p>
<p><strong>إِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلاَءٍ خَيْرٌ مِنْهُمْ &#8230; ( رواه البخاري ومسلم </strong></p>
<p><strong><em>“ Jika ia mengingatKu dalam dirinya, Aku pun mengingatnya dalam diriKu, dan jika ia mengingatKu dalam keramaian Aku mengingatNya dalam keramaian yang lebih baik yaitu diantara para malaikat muqarrabin “. ( HR. Bukhari dan Muslim ) </em></strong></p>
<p>Berarti berzikir bersama adalah hal yang sunnah dan mustahab, Rasul SAW juga banyak menyampaikan hadits-hadits tentang orang-orang yang berkumpul atau halaqah az zikr maka para malaikat diturunkan, hadits ini sering saya sampaikan, sampai Rasul SAW berkata firman Allah dalam hadits qudsi :</p>
<p><strong>يَا مَلَائِكَتِيْ أُشْهِدُكُمْ أَنِّيْ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ </strong></p>
<p><strong><em>“ Wahai para malaikat Kujadikan kalian saksi, sungguh Aku ( Allah ) sudah mengampuni dosa mereka” </em></strong></p>
<p>Demikian hadirin hadirat, bagaimana kelompok zikir dikatakan bid’ah, berzikir bersama dengan satu suara menyebut <strong><em>“ Yaa Allah “ </em>, Rasul SAW tidak pernah berbuat seperti itu , Masyaallah!! Zikir bersama mau ditanya lagi caranya seperti apa?? Zikir berjama’ah zikir bersama, adakah satu hadits yang melarang sebutan nama ALLAH digemuruhkan ?? bukankah panggung-panggung maksiat orang menggemuruhkan nama-nama orang yang tidak pernah sujud kepada Allah, bukankah mereka yang lebih berhak ditentang?! Apakah salah jika orang menggemuruhkan nama Allah, salahkah jika orang berkumpul untuk mengelu-elukan keagungan nama Allah?! Sungguh nama Allah lebih berhak digemuruhkan dan diangkat daripada semua nama makhluk, sungguh Allah pencipta seluruh makhluk dan namaNya lebih berhak di sebut dan digemuruhkan daripada nama makhlukNya. Oleh sebab itu, kita tidak mau seperti mereka berkumpul dalam dosa dan kemaksiatan, tapi jangan salahkan kelompok yang mengagungkan nama Allah SWT. Demikian pula telah banyak muncul pelarangan-pelarangan baru padahal hal itu tidak dilarang, jadi kesemua hal itu adalah boleh terkecuali yang ada larangannya. Kecuali ibadah, kalau masalah ibadah berupa As Syari’ah Al Mutahharah (Mutahharah : suci) tidak bisa ditambah misalnya shalat lima waktu ditambah menjadi enam waktu tentunya tidak bisa,demikian pula puasa ramadhan ditambah puasa wajib menjadi puasa Sya’ban dan Ramadhan itu tidak bisa (tetap hanya ramadhan yg merupakan puasa yg fardhu/wajib). Tapi kalau perbuatan-perbuatan yang mengarah pada kebaikan, berkata Al Imam Ibn Rajab Hujjatul islam wabarakatul anam di dalam kitabnya Jaami;ul Uluum walhikam, bahwa firman Allah :</strong></p>
<p><strong>إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ . ( النحل : 90 </strong></p>
<p><strong><em>“ Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan , member bantuan kepada kerabat dan dia ( Allah ) melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia (Allah) memberi pengajaran kepada kamu agar kamu dapat mengambil pelajaran “. ( QS. An Nahl : 90 ) </em></strong></p>
<p>Beliau mengatakan ayat ini tidak menyisakan satu kebaikan kecuali sudah diperintah oleh Allah SWT apakah sudah ada di masa Nabi SAW atau belum ada. Dan ayat ini juga sudah melarang semua hal yang buruk apakah sudah ada di masa Nabi SAW atau belum ada. Ayat itu sudah menjadi sumbernya hukum untuk menjadi penjelas mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, hal yang baik sudah diperintah oleh Allah SWT, yang ada di masa Nabi atau belum ada dan hal yang buruk sudah dilarang oleh Allah SWT baik yang ada di masa Nabi atau belum ada. Seperti narkotika belum ada di masa Nabi tapi kita dilarang, tentunya kalau dilarang itu bid’ah karena tidak ada di masa Nabi SAW?, tentunya tidak demikian, ada qiyasnya karena hal itu memabukkan .</p>
<p>Hadirin hadirat…</p>
<p>Demikian pula hal-hal yang mulia yang belum ada di masa Nabi, seperti penjilidan Al Qur’an Al Karim. Alqur’an itu dikumpulkan dalam satu penjilidan belum di masa Nabi SAW, sebagaimana riwayat Shahih Al Bukhari ketika terjadi pembunuhan ahlul Yamamah banyak para sahabat yang hafal Alqur’an terbunuh pada saat itu, maka berkata Sayyidina Umar Ibn Khattab kepada Khalifah Abu Bakr As Shiddiq RA<strong><em> “ Wahai Khalifah sebaiknya Alqur’an kita jadikan dalam satu buku saja”, </em></strong>karena di saat itu Alqur’an belum dijadikan dalam satu buku, tertibnya ( urutannya) sudah ada dari masa Rasul SAW, Rasul SAW telah berkata ini ayat tentang ini,,taruh ayat ini di surat ini, itu aturannya dari Rasul SAW semua. Tapi penjilidan menjadi satu buku tidak ada perintahnya dari Rasul SAW. Sahabat menghafalnya, ada yang menulisnya di kulit onta ada yang menulisnya di dinding dan lainnya, sebagian besar menjaga dengan hafalan. Maka Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq berkata :<em> kaifa af’alu syaian lam yaf’alhu rasulullah</em> ( bagaimana aku memperbuat suatu hal yang Rasulullah SAW tidak perbuatnya ), engkau ( Sayyidina Umar ) mengatakan agar Alqur’an dijadikan dalam satu buku sedangkan Rasulullah tidak memerintahnya, maka Sayyidina Umar berkata<em> “ Demi kebaikan” kalau nanti sampai orang-orang yang hafal Alqur’an terus wafat dibantai dan habis, generasi setelah kita tidak mengenal Alqur’an engkau bertanggung jawab wahai khalifah Abu Bakr As Shiddiq “. </em>Maka berkatalah Sayyidina Abu Bakr <strong><em>hattaa insyarah shadrii </em>, hingga aku tenang dan akhirnya datang kepada Zaid bin Tsabit orang yang dipercaya, Wahai Zaid engkau orang yang baik yang kami ketahui mulai saat ini kuperintahkan engkau menulis dan menyalin Alqur’an. Dari riwayat semua Sahabat begitu banyak yang hafal Alqur’an di masa itu disalin, maka Zaid bin Tsabit berkata tiada tugas yang lebih berat dariku, lebih baik aku ditindih gunung daripada harus menjilid Alqur’an Alkarim Kalamullah SWT . Maka Sayyidina Zaid menulisnya dan selesai kemudian diresmikan di masa Khalifah Sayyidina Utsman bin Affan RA maka disebut<strong><em> mushaf ‘utsmanii </em>yaitu diresmikan di masa khalifah Utsman bin Affan RA diakui oleh seluruh sahabat, Sayyidina Ali, Sayyidina Abbas, Sayyidina Abdullah bin Abbas dan lain sebagainya yang mengakui<strong><em> mushaf ‘utsmanii </em></strong>sebagai Kalamullah SWT yang sudah banyak dihafal oleh para Sahabat, cuma baru dituliskan. </strong></strong></p>
<p>Jadi kalau semua hal yang baru itu tidak boleh, berarti Alqur’an yang kita pakai itu tidak boleh karena Rasul SAW tidak memerintahkan untuk dibukukan, Rasul SAW menyuruh dihafalkan bukan dibukukan namun kita membukukannya, dan kemudian baru diberi harakat (titik penanda) oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib serta ditambahi titik-titiknya, mana huruf<strong><em> ba’, ta’, tsa’, nun</em></strong>..hal itu tidak diketahui sebelumnya, kalau para sahabat mengerti tapi yang bukan para sahabat yang tidak pernah mendengar dari Rasulullah SAW tidak tau mana yang <strong><em>ta’,</em> mana yang <strong><em>tsa’ </em></strong>dan lain sebagainya , maka dibedakan mana jim, mana<strong><em> kha’ </em></strong>mana <strong><em>ha’ </em></strong>ditambahi titiknya di atas, di bawah dan demikian. Maka di masa khalifah Sayyidina Umar bin Abdul Aziz Alquran diberi harakat fathah, kasrah , dhammah sebelumnya tidak ada harakatnya, orang dari luar bangsa Arab tidak tahu apa ini fathah atau kasrah atau dhammah, maka diberilah harakat. </strong></p>
<p>Semakin kesini banyak orang yang di luar bangsa Arab yang masuk Islam tidak tahu artinya maka ditulislah terjemahannya, tambah kesini ditulislah tafsirnya nanti orang salah menafsirkan ayat ini, maka mulai para Imam menafsirkannya diantaranya Al Imam Thabari, Al Imam Qurthubi dan lainnya, Ini ayat kaitannya dengan hadits ini.. ini ayat maksudnya ini..jangan sampai orang mengatakan kok ini Alqur’an bertentangan yang ini bilang begini…yang itu bilang begini…tidak begitu, diperjelas hadits-haditsnya dan Asbaab Nuzul nya,<br />
demikian hal itu tidak diperintah oleh Rasulullah SAW hal seperti itu boleh karena kebaikan, kalau dilarang bagaimana manusia memahami Alqur’an Alkarim ini dalam hal Alqur’an , demikian pula dengan hal-hal yang lainnya. Rasul SAW bersabda riwayat Shahih Al Bukhari :</p>
<p><strong>وَاللهِ إِنِّيْ لَا أَخْشَى عَلَيْكُمْ الشِّرْكَ مِنْ بَعْدِيْ وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا أَنْ تَنَافَسُوْا فِيْهَا . </strong></p>
<p><strong><em>“ Demi Allah aku tidak takut kemusyrikan menimpa kalian, yang aku takutkan kalian berebutan keduniawian “</em></strong></p>
<p>Jadi zaman sekarang kalau muncul kata-kata hati-hati syirik, hati-hati syirik, katakan padanya Rasul SAW sudah tidak khawatir syirik dari dulu, tidak usah bicara syirik dan syirik Rasul SAW sudah bersabda : “ Demi Allah aku tidak takut kemusyrikan menimpa kalian “, apa yang ditakutkan Rasul?</p>
<p><strong>وَلَكِنِّيْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا أَنْ تَنَافَسُوْا فِيْهَا </strong></p>
<p><strong><em>“tetapi yang kutakutkan kalian berebut keduniawian “</em></strong></p>
<p>Apa ini? Ini jawaban untuk kelompok yang selalu memusyrikkan muslimin muslimat, ini musyrik itu musyrik, memuliakan Nabi musyrik, tawassul musyrik, ziarah kubur musyrik, lihat Negara mereka, mereka berebut keduniawian dengan mendatangkan pasukan-pasukan non muslim untuk menghajar saudara muslimnya sendiri, berebut keduniawian. Sudah dijawab oleh Rasul SAW “ Aku tidak takut syirik menimpa kalian yang kutakutkan kalian berebut keduniawian”, saling hantam untuk mendapatkan keduniawian mendatangkan pasukan Amerika Serikat untuk menghantam saudara muslimnya sendiri, dibayar pasukan dari Luar Negeri untuk membantai saudara muslimnya sendiri. Rasul SAW telah berkata<strong> “ إِنِّيْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تَنَافَسُوْا فِيْهَا &#8220;, </strong>aku takut kalian berebut dalam keduniawian saling hantam. Inilah jawaban dari Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari.</p>
<p>Rasulullah SAW menyampaikan apa yang akan terjadi dan tuntunan-tuntunan mulia kepada kita, namun saudara-saudara kita yang terjebak dalam kerusakan aqidah itu bukan untuk dimusuhi, tapi turut dibenahi. Kalau saudara atau teman kita sakit bukan dibunuh tentunya, tapi diobati. Jangan dimusuhi atau diperangi rangkul mereka kepada kebenaran semampunya, berhasil atau tidak kau sudah dapatkan pahalanya.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..<br />
Juga muncul banyak pertanyaan kepada saya tentang masalah<strong><em> “ isbal “ </em>yaitu menjulurkan celana, sarung atau baju sampai di bawah mata kaki, berlandaskan hadits Nabi SAW :</strong></p>
<p><strong>لَايَنْظُرُ اللهُ إِلَى مَنْ يَجُرُّ ثَوْبَهُ خَيَلاَءَ </strong></p>
<p><strong><em>“ Allah tidak mau melihat ( benci ) kepada orang yang pakaiannya menjulur sampai dibawah mata kaki “</em></strong></p>
<p>Ini diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari, dan orang yang mengatakan hal itu haram karena mereka sepotong-sepotong memahami hadits , karena riwayatnya di dalam Shahih Al Bukhari bahwa ketika Rasul SAW mengucapkan :<strong> لَا يَنْظُرُ اللهُ إِلَى مَنْ يَجُرُّ ثَوْبَهُ خُيَلاَء , </strong>maka berkata Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq : <em>“Ya Rasulallah pakaianku menjulur lebih dari mata kaki”,</em> maka Rasulullah SAW berkata <strong>:إِنَّكَ صَنَعْتَ لَيْسَ خُيَلاَءَ , </strong>engkau perbuat itu bukan karena khuyala’ ( sombong ). Jadi di masa lalu ( bukan masa sekarang ), orang itu diketahui kaya atau miskin dengan pakaiannya, kalau pakaiannya di atas mata kaki itu rata-rata orang yang miskin. Kalau pakaiannya menjulur panjang di bawah mata kaki sampai ke tanah itu rata-rata orang kaya, kenapa? karena selalu naik kereta, selalu naik kuda tidak pernah jalan, selalu jalan di atas karpet saja (maka pakaiannya memanjang dibawah mata kaki karena memamerkan kesombongan akan kekayaannya), tapi kalau orang-orang susah sudah pasti jalan kaki tidak mungkin pakaiannya menjela pasti pakaiannya diatas mata kaki (karena lebih sering jalan ditanah),<br />
“Ya Rasulallah aku memakai seperti itu”, maka Rasulullah menjawab :<em> Engkau perbuat itu bukan karena kesombongan”</em>. Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah kesombongannya, demikian yang dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Atsqalani di dalam Fathul Baari Bisyarh Shahih Al Bukhari.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakn Allah…<br />
Demikian pula yang sering ditanyakan adalah masalah tato, tentunya tato diharamkan oleh Allah SWT, karena tato itu menghalangi wudhu dan mandi wajib kita (hingga air tak sampai kekulit). Berbagai tato itu menghalangi sampainya air wudhu atau air mandi besar ke tubuh kita, maka hal itu dilarang oleh Nabi SAW seraya bersabda :</p>
<p><strong>لَعَنَ اللهُ الوَاشِمَةَ وَاْلمُسْتَوْشِمَةَ </strong></p>
<p><strong><em>“ Allah SWT murka terhadap orang yang memakai tato dan orang yang bekerja untuk mentato “</em></strong></p>
<p>Tapi kalau sudah dipakai tatonya lalu ia bertobat bagaimana? tidak bisa dihilangkan, bagaimana dengan wudhunya?, wudhunya tidak sah mandi besarnya tidak sah,<br />
tentunya tidak demikian, para ulama’ kita diantaranya Al Habib Masyhur bin Al Hafidh mufti tarim kakak dari guru mulia kita menjelaskan bahwa hal itu dimaafkan kalau tidak ada cara untuk menghilangkannya.<br />
(sebagian) Orang mengatakan ada cara untuk menghilangkannya, tapi dengan besi panas maka hal ini diharamkan, jadi memang wajib tato dihilangkan tapi kalau menghilangkannya harus menyakiti tubuh, maka tidak diperbolehkan di dalam syari’ah jadi dimaafkan saja, kalau ia sudah tobat ya sudah dimaafkan wudhunya sah, shalatnya sah, mandinya sah,<br />
dan jangan risau, sungguh banyak pertanyaan pada saya, Habib saya tidak berani shalat, tidak berani ibadah karena saya ada tato dan saya tidak berani juga kalau dibersihkan dengan besi panas. Jalankan tobatmu, shalatmu dan segala ibadahmu Allah sudah sudah memaafkan kita insyaallah. Demikian hadirin hadirat namun memperbuatnya haram kalau belum diperbuat jangan diperbuat, kalau sudah diperbuat bertobatlah maka Allah sudah memaafkan.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…<br />
Rasul SAW bersabda :</p>
<p><strong>إِنَّ مِنْ أَحَبَّكُمْ إِلَيَّ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا </strong></p>
<p><strong><em>“ Orang yang paling kucintai diantara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya “</em></strong></p>
<p>Berlomba-lombalah untuk menjadi orang yang paling dicintai Rasulullah SAW. Saya tidak mampu menjadi orang yang berakhlak baik, tapi usahamu untuk mencapai akhlak yang baik sudah mendapatkan pahalaNya karena sudah berusaha menuju hal itu, sudah terikat dalam hal itu, sudah di jalan menuju kesana di dalam kelembutan Ilahi SWT . Orang yang sedang menuju dalam kebaikan lantas ia wafat di tengah jalan, ia sudah mendapatkan pahala kebaikannya. Demikian pula orang yang berusaha memperbaiki akhlak maka ia di dalam kelompok orang-orang yang dicintai Rasulullah SAW , seraya bersabda riwayat Shahih Al Bukhari<strong> إِنَّ مِنْ أَحَبَّكُمْ إِلَيَّ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا. </strong>orang yang sangat dicintai oleh beliau saw, dan ummat beliau di masa beliau dan di masa setelah beliau. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bagaimana cintanya para ummat sang Nabi, dan saya sering cerita bagaimana cintanya kaum Muhajirin dan Anshar, kaum lelaki cinta kepada Rasul SAW, kita lihat bagaimana cintanya kaum wanita Anshar kepada Rasul SAW. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa datang seorang wanita Anshar berkata kepada Rasul SAW :</p>
<p><strong>يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّيْ وَهَبْتُ لك مِنْكَ نَفْسِيْ </strong></p>
<p><strong><em>“ Wahai Rasulullah aku hadiahkan diriku untukmu ( untuk dijadikan budak Rasulullah SAW ) “.</em></strong></p>
<p>Maka Rasulullah SAW terdiam dan hanya mengangguk-ngangguk saja, beliau bingung mau mengiyakan ia wanita, mau tidak diiyakan dia kecewa maka Rasul SAW diam lantas ada satu orang pria di samping Rasul SAW dan berkata : “Ya Rasulullah nikahkan saja ia denganku”, maka Rasul SAW melihat wanita itu dan berkata: engkau mau dinikahkan dengan pria itu? wanita itu menerima pria itu karena cintanya kepada Nabi Muhammad SAW , maka Rasul SAW berkata pada pria itu : Kau mau menikah dengannya,yang engkau punya apa? Pria itu berkata : tidak punya apa-apa wahai Rasul, maka Rasul SAW berkata : pulang ke rumahmu lihat ada apa, barangkali bisa dijadikan mahar , maka ia kembali tidak punya apa-apa wahai Rasul, walaupun hanya sekedar cincin besi tidak ada? Tidak ada wahai Rasul yang ada hanya pakaianku ini, maka sang Rasul SAW melihat wanita itu dan wanita itu tetap terima, maka Rasul SAW berkata : kalau begitu kau punya hafalan Alqur’an ?, pria itu menjawab : ada wahai Rasulullah, surat ini,,surat ini,,surat ini,,, maka kunikahkan kau dengan wanita ini dengan memberinya hafalan Alqur’an Al Karim, sang wanita terima bukan karena prianya tapi demi cintanya kepada Nabi Muhammad SAW, demikian hadirin hadirat kecintaan para shahabiyyah (sahabat nabi saw dari kaum wanita) kepada Nabi Muhammad SAW. Siapa yang mau terima seorang pria yang tidak ia kenal, tidak mempunyai apa-apa pula tapi demi cintanya kepada Muhammad Rasulullah SAW maka ia menerimanya.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…<br />
Demikian para sahabat RA, dikatakan bahwa Sayyidina Jabir Bin Abdillah RA ketika Rasul SAW sudah wafat, ia pergi perjalanan satu bulan untuk mendengar satu hadits Nabi Muhammad SAW yang belum pernah ia dengar, yaitu dari Abdullah bin Unays, ia pergi ke Syam satu bulan perjalanan, sampai di Syam ketemu dengan Abdullah bin Unays dan berkata Wahai sahabatku Jabir kenapa kau kesini? Maka Jabir berkata : “aku dengar kau punya satu hadits yang aku belum tahu”, (berkata Abdullah bin uneis ra) Jabir engkau datang kesini menempuh satu bulan perjalanan untuk satu hadits ? maka Jabir berkata<strong> “ أَخْشَى أَنْ أَمُوْتَ قَبْلَ أَنْ أَسْمَعَهُ <em>“ aku takut wafat sebelum aku mendengar satu hadits itu,</em></strong> demikian keadaan mereka di masa itu. Sekarang majelis ta’lim Jakarta ada lebih dari 2000 majelis ta’lim, masing-masing membahas hadits, fiqh, tajwid, tauhid. Silahkan hadirin hadirat..<br />
zaman dahulu sahabat menempuh perjalanan satu bulan untuk mendengarkan satu hadits Nabi SAW, sampai berkata<strong> “أَخْشَى أَنْ أَمُوْتَ قَبْلَ أَنْ أَسْمَعَهُ “,</strong> aku takut meninggal sebelum mendengar satu hadits itu, demikian indah dan cintanya mereka kepada hadits Nabi Muhammad SAW . Di sini dijelaskan Shahih Bukhari di majelis Rasul SAW , dan majelis ta’lim yang lainnya diperbanyak menjelaskan ilmu As Syari’ah Al Muthahharah kita tidak perlu perjalanan satu bulan, perjalanan beberapa menit, beberapa jam saja sudah sampai syukurilah kenikmatan ini.</p>
<p>Kita bermunajat kepada Allah, semoga Allah SWT memuliakan hari;hari kita dengan keluhuran, semoga Allah SWT memuliakan kita dengan pengampunan, semoga Allah SWT memuliakan kita dengan kebahagiaan dunia dan akhirah, dan juga kita berdoa memohon kepada Allah SWT karena beberapa waktu mendatang sudah semakin dekat kunjungan guru mulia kita Al ‘Arif Billah Al ‘Allamah Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh yang kita ajukan untuk tiba tanggal 31 Desember 2009 dan akan hadir Tabligh Akbar malam 1 Januari di Parkir Timur Senayan, InsyaAllah acara ini tuntas dengan baik dan sukses, kemudian haul Al Imam Fakhrul Wujud yang dihadiri beliau sendiri pada hari Ahad sebagaimana biasanya, lalu malam selasa di Monas tanggal 4 Januari Insyaallah acara ini sukses dan tidak ada halangan dari Allah SWT, tentunya saya juga berat menyampaikannya karena pengajuan ini masih belum pasti, tapi saya sampaikan demi memohon doa dari hadirin sekalian agara acara ini sukses dan terlaksana. Malam 1 Januari malam paling banyak yang bermaksiat di bumi Jakarta ini, kita sudah dikelilingi oleh bencana di Tasikmalaya, di Sumatera Barat, di Banten terus bencana mengelilingi Jakarta, ini paling banyak dosa di Jakarta malam 1 Januari malam paling banyaknya zina, banyak perjudian, dan narkotika di malam itu kita makmurkan dengan zikir akbar setiap tahunnya memang tetapi tahun ini insyaallah dihadiri oleh guru mulia Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh, insyaallah menjadi gemuruh hujan hidayah bagi wilayah kita Jakarta khususnya agar menjadi kota yang paling damai dan dilimpahi rahmah dan juga untuk seluruh wilayah muslimin di negeri kita ini di barat dan timur, Amin Allahumma Amiin.</p>
<p><strong>فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا&#8230; </strong></p>
<p>Katakanlah bersama-sama..</p>
<p><strong>يَا اللهْ يَا اَللهْ يَا اللهْ&#8230;يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ يَا رَحِيْمُ&#8230;لَاإِلهَ إِلَّا الله&#8230; مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ </strong></p>
<p>Kita lanjutkan dengan mengenang kembali indahnya Nabi kita Muhammad SAW, Tafaddhal..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(صحيح البخاري)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sabda Rasulullah saw :<br />
“Sungguh sebesar besar kejahatan diantara muslimin adalah orang yg mempermasalahkan hal yg tidak diharamkan, namun menjadi diharamkan sebab ia mempermasalahkannya” (Shahih Bukhari)</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" align="left">Terakhir Diperbaharui ( Friday, 23 October 2009 )</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhammadfebri.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhammadfebri.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhammadfebri.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhammadfebri.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhammadfebri.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhammadfebri.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhammadfebri.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhammadfebri.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhammadfebri.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhammadfebri.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhammadfebri.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhammadfebri.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhammadfebri.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhammadfebri.wordpress.com/272/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadfebri.wordpress.com&amp;blog=9734750&amp;post=272&amp;subd=muhammadfebri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/11/01/sebesar-besarnya-kejahatan-diantara-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70dec2e2087690446f11eb6418465418?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mufe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>keadaan jenazah ketika wafat</title>
		<link>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/11/01/keadaan-jenazah-ketika-wafat/</link>
		<comments>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/11/01/keadaan-jenazah-ketika-wafat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 14:54:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muhammad febri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/11/01/keadaan-jenazah-ketika-wafat/</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis Oleh: Munzir Almusawa    Friday, 30 October 2009 Keadaan Jenazah Ketika Wafat Senin, 26 Oktober 2009 قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا وُضِعَتْ الْجِنَازَةُ وَاحْتَمَلَهَا الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ قَدِّمُونِي وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ يَا وَيْلَهَا أَيْنَ يَذْهَبُونَ بِهَا يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الْإِنْسَانَ وَلَوْ سَمِعَهُ صَعِقَ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadfebri.wordpress.com&amp;blog=9734750&amp;post=271&amp;subd=muhammadfebri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td colspan="2" width="70%" align="left" valign="top">Ditulis Oleh: Munzir Almusawa   </td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" valign="top">Friday, 30 October 2009</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" valign="top"><strong><em>K</em>eadaan Jenazah Ketika Wafat<br />
Senin, 26 Oktober 2009 </strong></p>
<p><strong>قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا وُضِعَتْ الْجِنَازَةُ وَاحْتَمَلَهَا الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ قَدِّمُونِي وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ يَا وَيْلَهَا أَيْنَ يَذْهَبُونَ بِهَا يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الْإِنْسَانَ وَلَوْ سَمِعَهُ صَعِقَ </strong></p>
<p>Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…</p>
<p><strong>حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ وَاْلحَمْدُلِلهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ الْحَمْدُلِلهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِيْ هَذَااْلمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَاْلحَمْدُلِلهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِيْ هَذَا اْلجَمْعِ اْلعَظِيْمِ </strong></p>
<p>Limpahan Puji ke hadirat Allah SWT Yang Maha Luhur, Maha penguasa tunggal dan abadi sepanjang waktu dan zaman , Maha menciptakan kehidupan dan Maha melimpahkan anugerah tiada berhenti dan rahmatNya yang tiada pernah terputus, berjuta-juta kenikmatan bagaikan rantai yang terus tersambung kepada kehidupan segenap hambaNya, kenikmatan hidup kenikmatan bergerak kenikamatan diam kenikmatan melihat dan lain sebagainya dari kenikmatan yang terus mengalir di muka bumi ini, bagaikan rantai-rantai kasih sayang Ilahi yang langsung bersambung kepada segenap hamba-hambaNya, dan itu merupakan seruan dan merupakan isyarat dan juga merupakan panggilan dari Allah SWT agar kita menerima cintaNya, menerima kasih sayang dan kelembutan Ilahi, sebagaimana firmanNya :</p>
<p><strong>وَإِذَا سَألَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ( البقرة : 186 </strong></p>
<p>“ Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhamamad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu”. ( QS. Al Baqarah : 186 )</p>
<p>Hadirin hadirat…<strong>فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ </strong>“Sungguh Aku ini Maha dekat”, karena memang selalu melimpahkan kenikmatan dan anugerah kepada hamba lebih daripada segenap hamba satu sama lain. Tiadalah seorang kekasih yang pemberiannya melebihi pemberiaan Allah kepada kekasihNya di antara makhluk dan lainnya, namun Allah Maha Raja alam semesta terus memberi dan menganugerahi hamba-hambaNya dan itu adalah bukti yang terjelas atas makna kalimat “ Sungguh Aku Maha dekat”, karena memang tidak ada yang lebih dekat kepada kita dari Allah SWT dan kedekatan tentunya bukan kedekatan jarak yang bisa dibatasi dengan jarak, tapi kedekatan ini adalah kedekatanNya yang teramat dekat melebihi segenap kasih sayang hamba satu sama lain, dan inilah maksudnya,<strong> فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ </strong>paling cepat memaafkan segenap kesalahan, paling cepat menjawab tobat dan penyesalan hamba diganti dengan maaf dan limpahan pahala, sebagaimana firman Allah SWT :</p>
<p><strong>إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ وَعَمَلَ عَمَلاً صَالِحًا فَألُئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّأتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللهُ غَفُوْرًا رَحِيْمًا . الفرقان : 70 ) </strong></p>
<p><strong><em>“Kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan , maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. ( QS. Al Furqan : 70 )</em></strong></p>
<p>Inilah Yang Maha baik dan tiada kasih sayang melebihi ini, kalau seandainya kita mempunyai orang yang bersalah kepada kita atau berbuat jahat kepada kita belum tentu kita memaafkannya, kalau kita maafkan pun apa iya kita akan memberi sekedar kesalahannya itu diganti dengan anugerah dan pemberian?? Itu hanya ada pada Allah SWT :</p>
<p><strong>يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّأتِهِمْ حَسَنَاتٍ </strong></p>
<p><strong><em>“ Allah ganti kejahatan (dosa) mereka dengan kebaikan “</em></strong></p>
<p>Sebanyak apa dosanya di ganti dengan pahala, karena mau mendekat kepada Allah SWT. Semoga seluruh jiwaku dan kalian setiap waktu dan saat bercahaya dengan cahaya keinginan dekat dengan Allah SWT, yang dengan itu pengampunan dan anugerahNya dunia dan akhirah bathinan wa zhahiran selalu berlimpah.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…<br />
Sampailah kita pada hadits mulia ini, dimana Rasul SAW menjelaskan bagaimana keadaan kematian, ketika seseorang telah wafat jika ia jenazah orang yang baik maka ketika jenazah itu di angkat dan diusung di atas leher orang-orang yang mengangkatnya di pundak mereka, maka di saat itu berkatalah ruh nya :</p>
<p><strong>قَدِّمُوْنِيْ قَدِّمُوْنِيْ </strong></p>
<p><strong><em>“ Percepatlah percepatlah (sampai ke kuburku)”</em></strong></p>
<p>Karena ia tau ia akan sampai kepada kebahagiaan yang kekal, ia akan sampai kepada keluhuran, ia tak akan lagi menemui fitnah dan kesusahan, ia tak akan lagi menemui musibah dan masalah, selesai sudah. Maka ruh itu berkata<strong><em> “ percepat percepat kalian untuk menguburkan ku”.</em> Kalau bukan orang yang shalih, orang yang banyak berbuat jahat maka ruh nya berseru :</strong></p>
<p><strong>يَا وَيْلَهَا أَيْنَ يَذْهَبُوْنْ بِهَا ( رواه البخاري </strong></p>
<p><strong><em>“ Sungguh celaka mau dibawa kemana jenazah ini “. ( HR. Bukhari) </em></strong></p>
<p>Mau di bawa kemana jenazahku ini, mau di bawa kemana tubuhku ini betapa meruginya ia,celaka lah aku celakalah tubuhku yang penuh kesalahan ini karena akan dimintai pertanggung jawaban. Maka Rasulullah SAW <strong><em>bersabda suara itu di dengar oleh seluruh apa-apa yang ada di alam ini kecuali manusia,</em></strong></p>
<p><strong>يَسْمَعُهَا كُلُّ شَيْئٍ إِلَّا اْلإِنْسَانُ لَوْ سَمِعَهُ لَصَعِقَ ( رواه البخاري </strong></p>
<p><strong><em>“Segala sesuatu mendengar suara itu (jeritan ruh) kecuali manusia, kalau manusia mendengarnya maka ia akan pingsan ”. ( HR. Bukhari ) </em></strong></p>
<p>Hadirin hadirat…<br />
Dari hadits ini kita memahami dan sedikit memecah pertanyaan yang sering muncul kepada saya, apakah iya orang yang sudah wafat itu bisa menghantui? (jawabannya adalah) Tidak bisa, kecuali para shalihin. kalau orang-orang shalih, orang baik maka bisa saja ia mengunjungi keluarganya atau kerabatnya untuk menyampaikan wasiat bukan menghantui, kalau menghantui tidak bisa. Orang yang sudah wafat itu kalau dia orang yang banyak dosa maka ia dipenjara untuk menebus dosa-dosanya, kalau seandainya ia orang yang baik maka ia di istirahatkan. Jadi yang menghantui itu adalah makhluk ghaib yang disebut jin atau dari kaum syaitan bukan orang itu barangkali berwujud dengan wujud orang itu, nafikan (hilangkan/jangan percaya) segala hal seperti ini dari fikiran kalian. Orang yang wafat akan menjadi hantu, mengganggu manusia, jangankan mengganggu manusia, ia sibuk dengan dirinya sendiri tidak sempat mengganggu orang lain. Ketika ia berdosa ia sibuk bertanggung jawab atas dosanya tidak bisa mengganggu apalagi mendatangi orang lain.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…<br />
Ingatlah suata saat kelak bahwa semua teman kita akan kita tinggalkan, dan di saat itu kita hanya sendiri bersama Allah. Coba kita renungkan jika seandainya dipastikan pada diri kita, kita akan berpindah ke suatu tempat ke suatu hutan belantara yang ada pemiliknya, di situ banyak binatang buasnya dan di situ juga ada istana-istana mewah, apa yang akan kau perbuat ? Surat sudah datang kepadamu pasti kau akan pindah di waktu yang kau tidak tahu, bisa saat ini, bisa besok,atau tahun depan tapi pasti datang, apa yang kita perbuat ? Kita akan pindah kesana, di sana itu tidak ada orang yang kita kenal kecuali hutan belantara tapi pemiliknya memberikan istana-istana yang mewah, tempat yang indah dan tempat yang mulia untuk tamu-tamu nya, kalau tidak menjadi tamunya kita di dalam hutan belantara yang penuh binatang buas yang belum tentu ada makanan dan barangkali ada jurang api, barangkali ada perangkap dan lain sebagainya, maka apa yang kita perbuat ? Tentunya kita ingin menjalin hubungan dengan sang pemilik tempat tersebut, agar apa ? Agar kita sampai disana menjadi tamunya yang mulia, (maka) lebih-lebih lagi di alam barzah.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…<br />
Sebelum kita ingin menjalin hubungan dengan Allah, Allah SWT telah menawarkan jalinan hubungan dengan kita dengan Alqur’an Al Karim, dengan tuntunan para Nabi dan Rasul. Allah SWT pemilik alam barzah dan alam akhirah sudah menginginkan kita mendekat denganNya, ingin kau menjadi tamuNya yang mulia di dunia, tamunya yang mulia di alam kubur, tamunya yang mulia di alam barzah , tamunya yang mulia di alam akhirah nanti, ini sudah ditawarkan kepada kita, cuma kita yang terus menolaknya.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…<br />
Terimalah tawaran kasih sayang Ilahi ini, ingatlah nanti kita akan pindah ke tempat itu bukan tempat yang jauh bagaikan dua ruangan yang terpisah dengan satu pintu, masing-masing pindah semuanya akan melewati pintu itu pindah kesana, kalau ia orang yang banyak berbuat jahat maka keadaannya seperti orang yang tadi di sebut dalam hadits, ia berkata <strong><em>“sungguh celaka mau di bawa kemana jenazahku itu yang penuh dengan dosa, nanti akan dipertanggung jawabkan oleh Allah SWT”,</em> tapi kalau ia orang yang baik, ia akan berkata <strong><em>“percepatlah aku ke kuburku, aku akan sampai ke tempat kebahagiaan”.</em></strong>&lt;./p&gt; </strong></p>
<p>Hadirin hadirat…Di sana keputusan tergantung pada Yang Maha Abadi, Allah. Di mana tempat kita, apakah di dalam penjara alam kubur, penjara alam kubur lebih dahsyat dari penjara di dunia, (dan selain itu) ada yang ditidurkan, ada yang diperjumpakan dengan arwah kerabatnya yang sudah wafat juga, ada yang diperjumpakan dengan Rasulullah SAW, mana yang kau pilih, ini pilihan sudah di hadapan kita, A B C D E F mana yang kau pilih?, Hadirin hadirat..beruntung mereka yang memilih ingin bersama ruh Sayyidina Muhammad SAW, maka jawablah dengan perbuatan, jawablah dengan niat, jawablah dengan penyesalan atas dosa-dosa kita, jawablah dengan membenahi diri kita.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…<br />
Rasul SAW menyampaikan hadits ini, seraya Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam kitab Fathul Bari Bisyarh Shahih Al Bukhari mensyarahkan makna hadits ini, sebagian Ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan kalau sampai suara itu di dengar oleh manusia maka akan mati, maka itu adalah jeritan jenazah yang pendosa, kalau jenazah yang shalih maka orang yang mendengarnya akan membuatnya tenang, namun pendapat lain di dalam Fathul Bari Al Imam Ibn Hajar menjelaskan pendapat yang kedua adalah bahwa manusia tidak bisa mendengar suara ruh, kalau manusia mendengar suara ruh maka mereka akan kaget dan terguncang ruhnya dan wafat, karena suara ruh jauh lebih tajam daripada suara lisan, karena suara ruh sudah di pendam di bentengi atau di saring oleh getaran pita suara, kalau seandainya suara ruhnya masih terdengar maka akan membuat manusia wafat, namun Al Imam Ibn Hajar menukil pendapat yang pertama bahwa suara ruh itu tidak bisa di dengar dan jeritan ruh para pendosa itu akan membuat manusia ketakutan. Demikian hadirin hadirat…tentunya kita berharap tidak satu pun diantara kita yang hadir ini dalam kehinaan di alam kubur. Semoga kita semua saat jenazah sudah di angkat,saat tubuh kita di usung ruh kita berkata<strong> قَدِّمُوْنِيْ قَدِّمُوْنِيْ </strong><em>“ percepat, percepat”,</em> segera mendapatkan kebahagiaan yang kekal. Panjangkan usia kami dalam keberkahan dan kemakmuran dalam hidayah dan kasih sayangMu Ya Allah.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah<br />
Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika Sayyidina Sa’ad ibn Ubadah RA sakit, Rasul SAW menjenguknya bersama Sayyidina Abdurrahman Ibn ‘Auf dan para sahabat lainnya, ketika sampai Sa’ad bin ‘Ubadah dalam keadaan sakit dan tersengal-sengal dan dikira sudah sakaratul maut maka Rasul SAW berkata <strong><em>“ apakah dia sudah menghembuskan nafas yang terakhir”?, </em>maka para sahabat berkata <strong><em>“ tidak Wahai Rasulallah, belum wafat”, </em>maka Rasul SAW melihat Sa’ad bin Ubadah lalu mengalirlah air mata Rasulullah SAW, para sahabat melihat Rasulullah SAW mengalirkan air mata, merekapun ikut menangis juga. Maka Rasulullah SAW berkata : </strong></strong></p>
<p><strong>أَلَا تَسْمَعُوْنَ إِنَّ اللهَ لَا يُعَذِّبُ بِدَمْعِ اْلعَيْنِ وَلَابِحُزْنِ اْلقَلْبِ وَلَكِنْ يُعَذّبُ بِهَذَا فَأشَارَ إِلَى لِسَانِهِ أَوْ يرْحَمُ . ( صحيح البخاري </strong></p>
<p><strong><em>“ Bukankah kalian mendengar? Bahwa Allah tidak mengazab air mata yang mengalir dan tidak juga hati yang sedih,akan tetapi Allah mengazab sebab ini ( sambil menunjuk ke lisannya SAW ) atau dikasihi sebab lisan. ( HR. Bukhari )</em></strong></p>
<p>Maksudnya Al Imam Ibn Hajar di dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa menangisi mayyit itu yang paling baik kalau tidak bisa bertahan maka jangan bersuara, cukup mengalirkan air mata saja, tapi jika bersuara pun hal ini bukan hal yang mungkar dan membuat mayyit tersiksa, tidak. Tapi yang diharamkan adalah niyaahah, niyahah itu sampai menarik rambut dan menjerit – jerit dan meronta-ronta lalu menyalahkan takdir, tidak menerima takdir, ini yang disebut niyahah. Kita lanjutkan hadits Rasul SAW<br />
<strong><em>“ Tidakkah kalian mendengar suara tangisku ”, kata Rasul SAW tentunya para sahabat mendengar. Maka Rasul SAW berkata Allah itu tidak akan marah kalau seandainya kita mengalirkan air mata kesedihan atau hati kita bersedih atas saudara kita yang wafat, tidak akan murka Allah, namanya kekasih di tinggal oleh orang yang dicintainya, anaknya kah, suaminya kah, temannya kah, tentunya ia menangis dan sedih, maka Allah tidak akan murka akan hal itu tetapi Allah bisa murka karena ini ( seraya menunjuk ke lidah beliau) atau mengasihani dan melimpahkan kasih sayang sebab lidah. Maksudnya apa? Allah SWT bisa murka karena ucapan kita, Allah juga bisa menyayangi kita karena ucapan kita , demikian pula jenazah, akan menyulitkannya kalau keluarganya terus tidak menerima takdir kematiannya ( misalnya berkata : aku tidak rela saudaraku ini mati, kenapa takdir begini, kenapa Allah tidak adil ) hal itu akan memberatkan jenazah, karena Allah akan menuntutnya, engkau tidak mengajari saudara, kerabat dan keluargamu tentang kesabaran? Dan sebaliknya Allah bisa mengasihi jenazah kalau di doakan oleh keluarganya dan kerabatnya .</em></strong></p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..</p>
<p><strong>أَلَا تَسْمَعُوْنَ إِنَّ اللهَ لَا يُعَذِّبُ بِدَمْعِ اْلعَيْنِ وَلَابِحُزْنِ اْلقَلْبِ وَلَكِنْ يُعَذّبُ بِهَذَا فَأشَارَ إِلَى لِسَانِهِ أَوْ يرْحَمُ </strong></p>
<p>Ingatlah ucapan ini, hati-hatilah Allah itu bisa murka atau melimpahkan kasih sayang karena ucapan lidah kita. Jadi, kelanjutannya adalah memperbanyak doa menambah kasih sayang Allah kepada kita, memperbanyak zikir menambah kasih sayang Allah kepada kita, oleh sebab itu berkumpul untuk mendoakan jenazah dan lain sebagainya sudah jelas hadits ini bisa di angkat sebagai dalil, bahwa orang yang di dalam kubur sungguh mendapat kasih sayang sebab lisan, ucapan zikir seperti tahlil dan lain sebagainya, dan tentunya di dalam seluruh mazhab telah berittifaq semua amal pahala yang dikirimkan kepada yang wafat sampai kepada yang wafat. Dan yang disebut putus amalnya adalah amalnya dia karena dia tidak bisa beramal lagi kecuali tiga hal saja yaitu shadaqah jariyah, anak shalih yang mendoakannya dan ilmu yang bermanfaat, selain itu tidak ada lagi dia bisa beramal, namun amal orang lain yang dikirimkan tentunya hal itu sampai dan hal itu sudah dilakukan oleh Rasulullah SAW sebelum semua orang melakukannya, bahkan Rasulullah SAW mengirimkan pahala untuk semua yang hidup dan yang wafat . Diriwayatkan dalam Shahih Muslim saat Rasulullah SAW menyembelih kurban seraya berkata :</p>
<p><strong>اَللَّهُمَّ فَتَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّد وَمِنْ آلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ </strong></p>
<p><strong><em>“ Wahai Allah terimalah kurban ini dari Muhammad, dari keluarga Muhammad dan dari seluruh ummat Muhammad “</em></strong></p>
<p>Sembelihan untuk seluruh ummat beliau yang masih hidup,yang sudah wafat atau yang belum lahir di masa itu kebagian dari pahala kurbannya Rasulullah SAW, demikian hadits riwayat Shahih Muslim.</p>
<p>Hadirin hadirat…<br />
Lantas hadits yang tadi disebutkan:</p>
<p><strong>إِنَّ اْلمَيِّتَ لَيُعَذَّبَ بِبُكَاء أَهْلِهِ عَلَيْهِ </strong></p>
<p><strong><em>“ Sesungguhnya mayyit itu di siksa karena tangisan keluarganya atasnya”. </em></strong></p>
<p>Al Imam Ibn Hajar di dalam Fathul Bari mensyarahkan makna hadits ini, menukil beberapa hadits shahih bahwa yang dimaksud adalah di masa itu orang-orang yang akan wafat itu sudah berwasiat kalau aku wafat nanti tangisi, ada kelompok penangis yang memang tugasnya menangisi mayyit, maksudnya kalau seandainya orang-orang yang tidak baik maka tentunya banyak yang tidak menangis, maka dibayarlah orang-orang untuk menangisi mayyit itu, ini yang dimaksud dalam hadits tersebut. Makna yang kedua adalah orang yang minta ditangisi ketika ia wafat, nanti kalau aku wafat kalian harus menangisiku maka hal ini yang di maksud oleh Al Imam Ibn Hajar. Yang ketiga, orang yang tidak mengajari keluarganya untuk bersabar kalau seandainya ada kematian dari keluarganya. Namun pendapat yang terkuat adalah yang pertama dan yang kedua, dan yang ketiga ini bukan pendapat jumhur (jumhur : mayoritas) . Pendapat jumhur adalah dulu di masa jahiliyah ada orang yang sengaja membayar kelompok tertentu untuk menangisi, hal itu yang membuat mayyit tersiksa disebabkan perbuatan orang itu menangisi, tapi jika seseorang menangisi mayyit begitu saja hal itu terjadi di masa Rasulullah SAW, demikian juga para shahabat besar sebagaimana riwayat tadi Sa’ad bin Ubadah RA, namun karena Rasulullah menjenguknya ia belum wafat, maka di saat itu Sa’ad Bin Ubadah sembuh dari sakitnya dan tidak wafat.</p>
<p>Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari ketika Sayyidina Jabir bin Abdillah RA meriwayatkan ayahnya wafat ,<strong><em> “ di saat ayahku wafat aku menangisi jenazah ayahku yang wafat, dan orang-orang melarang aku, supaya jangan menangis keras, tapi Rasullullah tidak melarangku “.</em> Orang sedang menagis sedih mau dilarang dihardik lagi, Rasul SAW adalah orang yang paling lembut, beliau diam. Namun ketika datang Fathimah Ra (bibi Jabir bin Abdillah) maka ia menangisinya (tidak melarang/menghardik), lihat (bagaimana) cara Rasul untuk mendiamkan orang yang menangis , Rasul SAW tidak menghardik<strong><em> “keluar jangan tangisi mayyit..!!” </em>beliau tidak berkata begitu, tapi beliau berkata : </strong></strong></p>
<p><strong>تَبْكِيْنَ عَلَيْهِ أَوْلَا تَبْكِيْنَ مَا زَالَتِ اْلمَلاَئِكَةُ تَظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا حَتَّى رَفَعْتُمُوْهُ </strong></p>
<p><strong><em>“Engkau menangisi atau tidak menangisi jenazah ini, sungguh malaikat tetap menaunginya sampai kalian mengangkat jenazahnya “.</em></strong></p>
<p>Lihat cara Nabi SAW menenangkan orang yang sedang dalam kesedihan, ditenangkan, maksudnya apa? Supaya berhenti tangisnya, supaya terhibur dari kesedihannya, bukan dihardik. Demikianlah akhlak Nabi Muhammad SAW ketika Sayyidina Jabir menangis, Rasul tidak melarang yang lain melarang sedangkan Rasul diam. Tapi ketika bibinya datang dan menagis, maka Rasul menenangkan denagn ucapan ini :</p>
<p><strong>تَبْكِيْنَ عَلَيْهِ أَوْلَا تَبْكِيْنَ مَا زَالَتِ اْلمَلاَئِكَةُ تَظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا حَتَّى رَفَعْتُمُوْهُ </strong></p>
<p>Demikian indahnya cara dan metode yang sangat luhur dan sempurna dari budi pekerti Rasulullah SAW.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…</p>
<p>Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari, tentunya ini berkaitan dengan pertanyaan yang sering muncul tentang hadits Rasul SAW :</p>
<p><strong>قَاتَلَ اللهُ اْليَهُوْدُ إِتَّخَذُوْا قُبُوْرَأَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ </strong></p>
<p><strong><em>“ Allah memurkai orang-orang Yahudi yang menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid” </em></strong></p>
<p>Ini diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari, dan dijadikan dalil oleh sebagian saudara-saudari kita muslimin muslimat bahwa kuburan ulama di masjid haram hukumnya dan dimurkai Allah, tentunya tidak demikian makna dari hadits ini. Dijelaskan oleh Hujjatul Islam Wabarakatul Anam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Bari Bisyarh Shahih Al Bukhari mensyarahkan makna hadits ini adalah, bahwa yang dimaksud adalah menjadikan di atas kubur para Nabi sebagai tempat shalat, menginjak-injaknya atau menyembahnya, itu yang dilarang. Tapi kalau seandainya kuburan Ulama atau Shalihin di samping masjid atau di wilayah masjid hal itu tidak dilarang karena hal itu tidak ada larangannya, demikian yang dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Bari Bisyarh Shahih Al Bukhari. Jadi, bertabarruk dengan para shalihin dan ulama dan juga barangkali pewakaf masjid menjadikan kuburan di dekat masjid hal itu tidak apa-apa. Dan dijelaskan pada Faidhul Qadiir menjelaskan bahwa berkata Al Imam Baidhawi bahwa kuburan Nabi Ismail adalah di Masjidil Haram justru orang thawaf disitu dan dijadikan tempat shalat, bahkan juga Masjid An Nabawy yang padanya terdapat kuburan Nabi Muhammad SAW, memang di masa Rasul SAW kuburan Nabi itu belum masuk menjadi wilayah masjid namun setelah perluasan di masa Khalifah Utsman bin Affan RA, diperluas di masa Khalifah Ali bin Abi Thalib Kw terus diperluas dan diperluas sampai lingkungan makam Rasul itu termasuk ke dalam lingkungan masjid, tapi kan tidak menginjak makamnya tentunya di situ ada temboknya, kan orang rukuk dan sujud di hadapannya kubur Rasul SAW hal itu sudah berjalan di masa para sahabat, hal itu sudah ada di masa Al Imam Bukhari , Al Imam Muslim dan Imam seluruh mazhab, para ulama dan para hujjatul Islam, jika hal itu munkar maka tentunya mereka tidak akan diam, bukan orang di zaman sekarang yang protes terhadap sesuatu yang sudah berjalan di masa Rasululullah SAW. Jadi yang dimaksud adalah menjadikan kubur para Nabi untuk disembah, demikian hadirin hadirat yang dijelaskan oleh Al Imam Bukhari dalam Shahihnya. Dan juga yang sering ditanyakan tentang hadits :</p>
<p><strong>لَاتُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ اَلْمَسْجِدِ اْلحَرَامِ وَمَسْجِدِيْ هَذَا وَمَسْجِدِ اْلأَقْصَى </strong></p>
<p><strong><em>&#8221; Janganlah memaksakan ( berusaha keras) mengadakan perjalanan kecuali pada tiga masjid, Masjidil Haram dan Masjid ku ini ( Masjid Nabawy) dan Masjidil Aqsa” </em></strong></p>
<p>Hadits ini sebagian saudara-saudara kita menjadikannya dalil larangan ziarah, tentunya beda. Dimana ziarah, dimana urusan Masjid Al Aqsa, Masjid An Nabawy dan Masjidil Haram. Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Bari mensyarahkan makna hadits ini bahwa tidak ada larangan pergi ke masjid lain kalau disitu ada makam para shalihin atau bertabarruk padanya, yang menjadi makruh adalah mengkhususkannya untuk shalat, kalau untuk shalat tidak ada tempat yang lebih afdhal dari masjid itu, masjid di barat dan timur orang bilang kemuliaannya seperti apapun, tidak ada masjid yang lebih mulia shalat padanya daripada tiga masjid itu, Jadi semua masjid sama pahala shalatnya kecuali tiga masjid itu, jadi kalau datang ke suatu masjid untuk shalat di dalamnya, Rasul katakana semua Masjid itu sama hukum shalatnya jangan kalian terlalu bersemangat untuk mengunjungi masjid ini, atau masjid ini, itu makruh hukumnya bukan haram, kecuali tiga masjid tadi kalau ke Masjidil Haram, masjidil Aqsa, dan Masjid An Nabawy sangat bersemangat itu boleh. Tapi Al Imam Ibn Hajar menjelaskan diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasul SAW berkunjung ke masjid Quba setiap hari sabtu, ini menunjukkan tidak ada larangan datang ke masjid manapun yang ingin kita kunjungi. Rasul SAW setiap hari sabtu datang ke masjid Quba dekat Madinah Al Munawwarah dan tidak pernah meninggalkannya, ini menunjukkan bahwa berkunjung ke masjid-masjid manapun ini boleh-boleh saja demikian ziarah shalihin, dan berkata Al Imam Ibn Hajar bahwa hadits ini juga membatalkan pendapat yang mengatakan larangan ziarah ke makam para shalihin dan masjid-masjid yang di bangun para shalihin, karena yang dimaksud larangan adalah kemuliaan masjidnya bukan shahib makam orang shalih yang ada di masjid tersebut, ziarah boleh-boleh saja.</p>
<p>Demikian hadirin hadirat dua hal yang saya sampaikan tadi, hadits tentang :</p>
<p><strong>لَاتُشَدُّ الرِّحَالُ, dan إِتِّخَاذُ اْلقُبُوْر مَسَاجِدَ </strong></p>
<p>Mengenai kubah diatas kuburan, di dalam mazhab Al Imam Syafi’I bahwa hal itu tidak diperbolehkan kalau tanpa seijin pewakafnya, kalau pewakafnya mengizinkan maka tidak ada lagi larangannya. Namun hal itu mustahab (dianjurkan) bagi para Shalihin demikian yang dijelaskan oleh Al Imam An Nawawy Hujjatul islam dan Imam lainnyabahwa dibuatnya kubah-kubah untuk para shalihin itu mustahab fih ( di sunnahkan).<br />
Tentunya supaya orang yang ziarah kesitu tidak kepanasan dan tidak kehujanan, kalau mau berdoa atau apa maka tidak repot dan tidak terganggu, kasian para peziarah itu maka di bangun tempat untuk mereka, bukan untuk mereka yang wafat, mereka yang wafat sudah lewat dengan amal pahalanya, jika mereka mulia maka mereka akan dalam kemuliaan dan jika mereka hina maka mereka dalam kehinaan, namun orang yang berziarah kasihan, kalau banyak orang yang berziarah ke tempat itu kepanasan atau kehujanan dan lain sebagainya maka dibikinkan kubah saja untuk orang-orang yang hidup di dunia, kalau mereka yang wafat sudah di dalam istana kemegahan yang abadi di dalam kubur tanpa perlu ada kubah, demikian hadirin, tapi untuk orang biasa sebagian ulama bermazhab syafi’i mengatakannya makruh kecuali kalau tidak diizinkan oleh pewakaf maka tentunya menjadi haram hukumnya.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…<br />
Rasul SAW adalah manusia yang paling indah budi pekertinya, berkata salah seorang sahabat Ra ketika seorang wanita memberi kabar kepada Rasul SAW, diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari, bahwa putrinya wafat maka Rasul SAW berkata katakan pada wanita itu <strong><em>ittaqillah washbirii </em></strong>: bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, Allah mengambil apa yang dimilikiNya.</p>
<p><strong>إِنَّ لِلهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى ( رواه البخاري </strong></p>
<p><strong><em>“Sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang Ia ambil dan kepunyaanNya apa yang Ia berikan dan segala sesuatu pada sisiNya itu ada ketentuannya”. ( HR. Bukhari ) </em></strong></p>
<p>Namun wanita itu mengirim lagi utusan kepada Rasul SAW dia belum bisa tenang atas kematian putrinya, maka Rasulullah SAW keluar bersama para sahabat untuk mengunjungi rumah duka, rumah jenazah. Sampai di rumah jenazah Rasul SAW tidak kuat menahan air matanya. Inilah yang saya sebutkan tadi bahwa Rasul SAW juga menangisi jenazah, menunjukkan hal ini tidak dilarang, maka Rasul menangis, kemudian para sahabat berkata <em>“ Wahai Rasullullah engkau menangisi jenazah”?</em>, Rasul berkata :</p>
<p><strong>هَذِهِ رَحْمَةٌ جَعَلَهَا اللهُ فِي قُلُوْبِ عِبَادِهِ وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءُ </strong></p>
<p><strong><em>&#8221; Ini adalah kasih sayang yang dijadikan Allah pada setiap hati hambaNya, sesungguhnya Allah akan mengasihi hamba-hambaNya yang penyayang”. </em></strong><br />
<strong><em>Ini kasih saying</em></strong> kata Rasul, dan orang punya kasih sayang dan Allah beri kasih sayang itu sebagai anugerah yang agung. Manusia yang paling berkasih sayang Nabi kita Muhammad SAW. Allah jadikan kasih sayang itu ada pada setiap hati hambaNya. <strong>Dan sungguh Allah itu mengasihani dan menyayangi orang-orang yang berjiwa kasih sayang, </strong>makin berkasih sayang seseorang, makin disayangi oleh Allah. Semoga Allah menyinari dan menerangi hati kita dengan cahaya sifat kasih sayang kepada seluruh makhluknya hingga Allah selalu berkasih sayang kepada kita.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…<br />
Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasul SAW ini orang yang sangat peduli khususnya kepada fuqara’ , bagaimana Rasul SAW peduli kepada orang-orang susah,sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika Rasul saw sedang shalat dan selepas salam beliau langsung berdiri dan keluar dari shaf shalat, nah dalam hadits ini ada dua dalil yang bisa kita ambil, dalil yang pertama Rasulullah selepas shalat pasti berzikir dulu kenapa? karena ketika Rasul SAW selesai salam langsung keluar, maka para sahabat bertanya : “ ada apa Ya <em>Rasulullah kok terburu-buru?” </em>Rasulullah tidak menjawab terus keluar dari shaf shalat, menunjukkan bahwa Rasul SAW selepas shalat berzikir dulu. Kalau zaman sekarang orang yang mengatakan Rasulullah itu selepas shalat tidak berzikir , jadi berzikir selepas shalat itu hukumnya bid’ah? maka tentunya ia bertentangan dengan hadits ini.</p>
<p>Hadirin hadirat… Rasulullah SAW terus keluar tidak ikut berzikir bersama jama’ah selepas salam selesai shalat, ditanya tidak jawab, tidak lama kemudian beliau berjumpa dengan para sahabat, ditanya oleh para sahabat <em>“ Ya Rasulullah tadi engkau terburu-buru, kenapa? seakan-akan ada sesuatu yang membuatmu terkejar-kejar selepas salam tanpa zikir dan doa langsung keluar meninggalkan shaf shalat “, </em>maka Rasul SAW berkata: <strong>“tadi aku selepas salam teringat ada butiran kecil daripada perak kusimpan di rumah lupa belum ku sampaikan kepada orang yang berhak, belum ku sedekahkan”</strong>. Mungkin kalau kita sekarang sebutir kecil perak itu harganya hanya lima ratus atau seribu rupiah. Selepas salam teringat kalau itu belum disedekahkan kepada fuqara’ maka keluar dari shalatnya terburu-buru, demikian indahnya budi pekerti Nabi Muhammad SAW, kalau sudah urusan hak para fuqara’ beliau tidak akan melambatkannya tetapi segera terburu-buru menyelesaikannya, padahal sebutir kecil perak saja, apalagi kalau emas atau uang yang banyak.</p>
<p>Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bagaimana indahnya budi pekerti Nabi kita Muhammad SAW, ketika Rasul SAW didatangi seorang wanita yang membawa sebuah kain dan ia berkata ini aku tenun sendiri pakaian ini supaya engkau pakai wahai Rasulullah, maka Rasul SAW menerimanya dengan gembira dan senang, maka Rasulullah berterima kasih, dan wanita itu pergi kemudian Rasulullah pakai kain itu. Saat kain itu dipakai datang orang lain bersama para sahabat dan satu orang berkata : aku minta pakaian ini Ya Rasulullah, para sahabat lain marah mendengar hal itu, orang ini tidak punya akhlak kenapa? lagi di pakai oleh Rasul SAW diminta, pertama tidak punya akhlak kepada Rasul SAW, kedua lebih marah lagi karena mereka tahu bahwa Rasulullah tidak pernah menolak permintaan orang yang meminta kepadanya, tidak pernah mengatakan tidak,</p>
<p><strong>مَا سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ شَيْئًا قَطٌّ فَقَالَ لَا </strong></p>
<p><strong><em>“ Tidaklah sesekali Rasulullah dimintai sesuatu kemudian berkata “ Tidak”. (shahih Bukhari) </em></strong></p>
<p>selalu memberi inilah Rasul SAW. Minta kepada orang yang tidak pernah menolak maka keterlaluan sekali kata sahabat kira-kira berkata seperti itu. Maka Rasul pun membukanya dan memberikannya. Maka para sahabat lain marah kepada orang itu dan sahabat berkata : tidak punya adab kamu ini, Rasulullah lagi pakai kau memintanya, maka orang itu berkata : bukan itu yang ku inginkan wahai sahabatku <strong>tapi aku ingin dikafani dengan pakaian yang telah di sentuh oleh tubuh Nabi Muhammad SAW, </strong>demikian riwayat Shahih Al Bukhari . Maka ketika orang itu wafat ia dikafani dengan kain itu, karena ia ingin dikafani dengan pakaian yang sudah bersentuhan dengan kulitnya Nabi Muhammad SAW.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…<br />
Manusia yang budi pekertinya paling indah dan Rasul SAW bersabda :</p>
<p><strong>أَحَبُّكُمْ إِلَيَّ أَحْسَنُكُمْ أَخْلَاقًا </strong></p>
<p><strong><em>“ Orang yang paling kucintai di antara kalian adalah orang yang paling bagus budi pekertinya” . (Shahih Bukhari) </em></strong></p>
<p>Kita bermunajat kepada Allah SWT semoga Allah memuliakan kita di dunia dan akhirah , Rabbi..limpahkan kepada kami kebahagiaan, limpahkan kepada kami kekhusyu’an limpahkan kepada kami kedamaian Rabbi kami bermunajat atas namaMu yang Maha Indah ,namaMu Yang Maha Abadi, namaMu yang Maha Tunggal. Rabbi..dari namaMu terpecah seluruh kemuliaan di alam semesta sepanjang waktu dan zaman, yang dari ketentuanMu seluruh kejadian dan kehidupan. Wahai pemilik dunia dan akhirah. Wahai pemilik barzakh, wahai pemilik alam zhahir dan alam bathin, wahai pemilik setiap sanubari, wahai yang maha membolak-balikkan sanubari dengan kehendaknya, maka terangi jiwa kami dengan cahaya namaMu yang Maha Indah, terangi hari-hari kami dengan keindahan anugerahmu , terangi siang dan malam kami dengan cahaya pengampunanMu</p>
<p><strong>اَللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا خَيْرَ مَا عِنْدَكَ بِشَرِّ مَا عِنْدَنَا فَضْلاً وَإِحْسَانًا </strong></p>
<p>Ya Allah jangan Engkau halangi kami dari anugerah yang akan Kau beri karena dosa-dosa kami, jangan sampi terhalang anugerah itu wahai Allah, terus sampaikan pada kami walaupun kami banyak berbuat dosa, tambahi pula anugerah kepada kami untuk ingin bertaubat, untuk ingin beristighfar untuk ingin membenahi diri, untuk ingin meninggalkan dosa. Ya Rabbi kami berdoa kepadaMu agar Kau amankan kami , amankan rumah tangga kami, amankan keluarga kami, amankan wilayah kami , tenangkan bumi Jakarta dari bahaya gempa dan jauhkan bumi Jakarta dari bahaya banjir dan bencana alam dan juga seluruh wilayah di negeri Indonesia ini, tenangkan bumi dari gempa tenangkan gunung daripada apinya, tenangkan hujan daripada membawa banjir dan musibah dan bencana alam lainnya gantikan Rabbi dengan guncangan jiwa yang menginginkan keluhuran jiwa yang terguncang dengan khusyu’ jiwa yang bergetar memanggil namaMu, Ya Rahman Ya Rahim..tenangkan alam semesta gemuruhkan jiwa dengan khusyu’ dan hidayah..</p>
<p><strong>فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا&#8230; </strong></p>
<p>Katakanlah bersama-sama…</p>
<p><strong>يَا اللهْ يَا اَللهْ يَا اللهْ&#8230;يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ يَا رَحِيْمُ&#8230;لَاإِلهَ إِلَّا الله&#8230; مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوْتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ اْلأَمِنِيْنَ. </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(صحيح البخاري)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sabda Rasulullah saw :<br />
“Jika telah diletakkan jenazah untuk diusung di leher mereka, jika Jenazah orang shalih maka ia (ruh nya) berkata : percepatlah..!, jika bukan orang baik maka ia berkata : wahai celakalah tubuh, kemana mereka akan membawa tubuh ini..!, suara itu didengar oleh segala sesuatu kecuali manusia, jika manusia mendengarnya ia akan roboh pingsan/wafat” (Shahih Bukhari)</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhammadfebri.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhammadfebri.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhammadfebri.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhammadfebri.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhammadfebri.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhammadfebri.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhammadfebri.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhammadfebri.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhammadfebri.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhammadfebri.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhammadfebri.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhammadfebri.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhammadfebri.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhammadfebri.wordpress.com/271/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadfebri.wordpress.com&amp;blog=9734750&amp;post=271&amp;subd=muhammadfebri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/11/01/keadaan-jenazah-ketika-wafat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70dec2e2087690446f11eb6418465418?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mufe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>dimana sholat dimasjid</title>
		<link>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/10/20/dimana-sholat-dimasjid/</link>
		<comments>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/10/20/dimana-sholat-dimasjid/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 12:49:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muhammad febri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammadfebri.wordpress.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[Hadis riwayat Abu Zar ra., ia berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, mesjid manakah yang pertama dibangun di muka bumi ini? Rasulullah menjawab: Masjidilharam. Aku bertanya: Kemudian mesjid mana? Beliau menjawab: Masjidilaksa. Aku bertanya: Berapakah jarak waktu antara keduanya? Beliau menjawab: Empat puluh tahun. Di mana saja datang waktu salat, maka salatlah, karena di situ juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadfebri.wordpress.com&amp;blog=9734750&amp;post=263&amp;subd=muhammadfebri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#40b050;">Hadis riwayat <a id="صحابي" name="Abu Zar ra8310">Abu Zar ra., </a>ia berkata:<br />
Aku bertanya: Wahai Rasulullah, mesjid manakah yang pertama dibangun di muka bumi ini? Rasulullah menjawab: <a id="مكان" name="Masjidilharam9084">Masjidilharam. </a>Aku bertanya: Kemudian mesjid mana? Beliau menjawab: <a id="مكان" name="Masjidilaksa11594">Masjidilaksa. </a>Aku bertanya: Berapakah jarak waktu antara keduanya? Beliau menjawab: Empat puluh tahun. Di mana saja datang waktu salat, maka salatlah, karena di situ juga mesjid </span></p>
<p><a href="http://hadith.al-islam.com/Display/Hierarchy.asp?Src=1&amp;AlmiaNum=807">Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 808</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhammadfebri.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhammadfebri.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhammadfebri.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhammadfebri.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhammadfebri.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhammadfebri.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhammadfebri.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhammadfebri.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhammadfebri.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhammadfebri.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhammadfebri.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhammadfebri.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhammadfebri.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhammadfebri.wordpress.com/263/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadfebri.wordpress.com&amp;blog=9734750&amp;post=263&amp;subd=muhammadfebri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/10/20/dimana-sholat-dimasjid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70dec2e2087690446f11eb6418465418?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mufe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>doa sang nabi untuk berlindung kepada allah swt</title>
		<link>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/10/16/doa-sang-nabi-untuk-berlindung-kepada-allah-swt/</link>
		<comments>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/10/16/doa-sang-nabi-untuk-berlindung-kepada-allah-swt/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 13:11:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muhammad febri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammadfebri.wordpress.com/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis Oleh: Munzir Almusawa Thursday, 15 October 2009 Doa Sang Nabi Untuk Berlindung Kepada ALLAH SWT Senin, 12 Oktober 2009 قال أنس بن مالك رضي الله عنه : كُنْتُ أَسْمَعُ النبي صلى الله عليه وسلم، كَثِيرًا، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ (صحيح البخاري) Berkata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadfebri.wordpress.com&amp;blog=9734750&amp;post=257&amp;subd=muhammadfebri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td width="100%" align="right"><a title="PDF" href="//majelisrasulullah.org/index2.php?option=com_content&amp;do_pdf=1&amp;id=241',%20'win2',%20'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no');"> <img src="http://majelisrasulullah.org/images/M_images/pdf_button.png" border="0" alt="PDF" align="middle" /> </a></td>
<td width="100%" align="right"><a title="Print" href="//majelisrasulullah.org/index2.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=241&amp;Itemid=1&amp;pop=1&amp;page=0',%20'win2',%20'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no');"> <img src="http://majelisrasulullah.org/images/M_images/printButton.png" border="0" alt="Print" align="middle" /> </a></td>
<td width="100%" align="right"><a title="E-mail" href="//majelisrasulullah.org/index2.php?option=com_content&amp;task=emailform&amp;id=241',%20'win2',%20'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=400,height=250,directories=no,location=no');"> <img src="http://majelisrasulullah.org/images/M_images/emailButton.png" border="0" alt="E-mail" align="middle" /> </a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a style="border:0 none;margin:0;padding:0;" href="http://tellafriend.socialtwist.com/"><img style="border:0 none;margin:0;padding:0;" src="http://images.socialtwist.com/2009040514500/button.png" alt="SocialTwist Tell-a-Friend" /></a> </p>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td colspan="2" width="70%" align="left" valign="top">Ditulis Oleh: Munzir Almusawa</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" valign="top">Thursday, 15 October 2009</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" valign="top"><strong><em>D</em>oa Sang Nabi Untuk Berlindung Kepada ALLAH SWT<br />
Senin, 12 Oktober 2009 </strong></p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> قال أنس بن مالك رضي الله عنه : كُنْتُ أَسْمَعُ النبي صلى الله عليه وسلم، كَثِيرًا، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ </strong></p>
<p><strong>(صحيح البخاري)</strong></p>
<p><strong>Berkata Anas bin  Malik ra :<br />
Aku mendengar Nabi saw sering berdoa : “wahai Allah Sungguh Aku Berlindung pada Mu dari Gundah dan Sedih, juga dari Lemah dan Malas, dan dari Kikir dan penakut, dan dari himpitan hutang dan penindasan orang lain” (Shahih Bukhari) </strong></p>
<p>Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong>حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ، وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِر،ِ الحَمْدُلِلهِ الَّذِيْ هَدَانَا، بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَار مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ، وَقَدْ نَادَانَا، لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ<br />
عَلَيْهِ وَعَلَى آلهِ, الحَمْدُللهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا اْلمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ، وَاْلحَمْدُلِلهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا اْلإِجْتِمَاعِ اْلعَظِيْمِ، وَاجْتَمَعْنَا فِيْ سِرِّ اْلعَظِيْمِ اْلأَعْظَمِ، جَلَّ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَمَحَبَّةِ رَسُوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَّ، نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِمَحَبِّتِهِ، وَبِخِدْمَةِ شَرِيْعَتِهِ، وَبِعَمِلِ سُنَّتِهِ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ </strong></p>
<p>Limpahan Puji ke hadirat Allah atas kehadiran mulia kita di dalam perjamuan Ilahi yang Maha Agung , Yang Maha membuka keluhuran sepanjang waktu dan zaman, dan keluhuran terbesar terbuka dengan kebangkitan Sayyidina Muhammad SAW, sepanjang waktu dicipta dan alam semesta dihamparkan belum ada keluhuran yang dibuka sedahsyat kebangkitan Muhammad Rasulullah SAW, dan terbukalah sedemikian banyak rahasia kebahagiaan dan keluhuran dunia dan akhirah terbuka dari tuntunan Sang Nabi, mutiara kelembutan Ilahi menuntun hamba-hamba yang keras hati menjadi lembut dan menjadi lentur hatinya, menuntun para pencaci dan para penggunjing kepada para pencinta dan ahlu zikir yang terus basah lidahnya dengan zikrullah, menuntun para pemilik jiwa yang keras menjadi para pemilik jiwa yang selalu mengalirkan airmata khusyu’, inilah kebangkitan Sayyidina Muhammad <em>Siraajan muniraa </em> pelita yang menerangi jiwa hamba-hamba Ilahi, dicipta oleh Allah sebagai penerang sanubari,</p>
<p>Muhammad Rasulullah SAW, yang dengan mengikuti tuntunan beliau dan mutiara keindahan beliau maka bergetarlah jiwa, terbuka pintu-pintu keagungan Rabbul ‘Alamin, pintu-pintu khusyu’, tangga-tangga keluhuran menuju kedekatan ke hadirat Allah kepada derajat Shiddiqin, walmuqarrabin, wasshalihin, terangkatlah derajat para pendosa menuju derajat para muqarrabin, jiwa yang suci, jiwa yang luhur, ucapan yang suci, ucapan yang luhur, perbuatan yang suci, perbuatan yang luhur, kehidupan yang suci, kehidupan yang luhur, demikian kemuliaan tuntunan Sang Nabi.(saw)</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..<br />
Allah SWT membuka rahasia kenikmatan dan rahasia kemudahan untuk mencapai keluhuran didalam perbuatan sehari-hari kita, dengan mengajarkan kita selalu melakukan shalat yang di dalamnya tersimpan padanya kalimat-kalimat agung, pembuka rahasia kenikmatan yang jika kita mendalaminya maka sungguh berbeda dengan mereka yang mengucapkannya tanpa mendalaminya,</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> إِهْدِنَا الصِّرَاطَ اْلمُسْتَقِيْمَ ( الفَاتِحَةْ : 6 </strong></p>
<p><strong><em>“ Tunjukkan kami ke jalan yang lurus “. ( QS. Alfatihah : 6 </em></strong></p>
<p>Ucapan ini membuka sedemikian banyak keluhuran di dalam hari-harimu.</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ( الفَاتِحَة : 7 </strong></p>
<p><em><strong>“Jalan orang-orang yang Kau limpahi kenikmatan pada mereka”. ( QS. Alfatihah : 7) </strong></em></p>
<p>Ucapan ini membuka beribu-ribu kenikmatan yang sebelumnya belum terbuka untuk kita, dan ucapan :</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> غَيْرِ اْلمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَآلِّيْنَ ( الفاتحة : 7 </strong></p>
<p><strong><em>“ Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat”. (QS. Alfatihah : 7 )</em></strong></p>
<p>Maka ucapan ini menutup sedemikian banyak pintu kemurkaan Ilahi pada hari-harimu, demikian keagungan kalimat-kalimat suci yang menuntun pada kesucian, maka dalamilah maka renungilah maka tafakkurilah di saat kau berdiri menghadap Rabbul ‘Alamin di dalam shalatmu ketika mengucapkan kalimat-kalimat luhur ini, sungguh Allah melihat sanubari hamba-hambaNya sebagaimana riwayat Shahih Muslim, ketika seseorang membaca :</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> إِهْدِنَا الصِّرَاطَ اْلمُسْتَقِيْمَ ( الفَاتِحَةْ : 6 </strong></p>
<p>maka Allah menjawab:</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> هَذَا لِعَبْدِيْ وَلِعَبْدِيْ مَاسَأَلَ</strong></p>
<p><strong><em>“ ini ucapan untuk hambaKu, dan bagi hambaKu apa yang ia minta”</em></strong></p>
<p>Dan ketika hamba meneruskan sampai kalimat<strong> وَلَا الضّآلَينَ </strong>, Allah menjawab:</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> هَذَا لِعَبْدِيْ وَلِعَبْدِيْ مَا سَأَلَ </strong></p>
<p>Jangan risau akan pengabulan doa dalam ucapanmu di surah Al Fatihah yang merupakan Sab’u Al matsaani (7 ayat luhur) dan qalb Al qur’an (hati sanubari Alqur’an), yang merupakan rahasia keagungan Alqur’an al karim. Ketika kau mengucapkan :</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> إِهْدِنَا الصِّرَاطَ اْلمُسْتَقِيْمَ</strong></p>
<p><strong><em>“Tunjukkan kami ke jalan yang lurus”,</em></strong> ucapakan pula dengan jiwamu kepada Sang pemilik jalan keluhuran, maka Allah akan menjawabnya:<strong><em> “ ini ucapan untuk hambaKu, dan bagi hambaKu apa yang ia minta”,</em></strong> kan terbuka padamu jalan keluhuran dan kebahagiaan, jalan yang dicintai dan diridhai Allah.</p>
<p>Dan ketika kau mengucapakan :</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ اْلمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِيْنَ ( الفاتحة : 7 </strong></p>
<p>Jalan kehidupan orang yang Engkau beri kenikmatan oleh Mu dan dilimpahi keridhaanMu, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan orang-orang yang dalam kesesatan. Maka ketika kau mendalami maknanya, beri kami kenikmatan yang kami dambakan dan yang belum kami ketahui,<br />
karena Allah menjanjikanmu kenikmatan yang lebih dari yang kita ketahui ,</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِيْنَ مَا لَا عَيْنٌ رأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ </strong></p>
<p><strong><em>“ Kusiapkan untuk hamba-hambaKu yang shaleh apa-apa (kenikmatan) yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, ataupun terlintas di hati seorangpun“ (Shahih Bukhari)</em></strong></p>
<p>Kenikmatan yang belum terlintas pun telah disiapkan untuk mereka yang mau khusyu’ di dalam pembacaan surah Al Fatihah ini, ia meminta kenikmatan dari Allah:</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ اْلمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِيْنَ</strong></p>
<p>Maka berdoalah, maka memohonlah pada Yang Maha memilikimu, Maha memiliki hari esokmu, maha memiliki siang dan malam, maha memiliki langit dan bumi, maha memiliki setiap daratan dan lautan, maha mendengar setiap getaran perasaan, maha merubah beribu-ribu takdir hari esokmu dengan limpahan kenikmatan dan kebahagiaan ataupun menjadikannya cobaan, maka panggillah namaNya Yang Maha Luhur untuk meminta kepadaNya jalan yang benar, jalan orang yang dilimpahi kenikmatan bukan jalan orang yang dilimpahi kesesatan.</p>
<p>Maka setelah selesai di dalam shalat kita, kita akan melihat bagaimana keindahan dan kenikmatan bertebaran dalam hari-hari kita, karena Allah telah menjanjikannya, jika mereka yang belum percaya maka cobalah buktikan keagungan surah Al Fatihah kalimat Ilahi yang ditafakkuri, kalau tidak ditafakkuri seperti orang yang diberi kendaraan bermotor tapi tidak bisa menjalankannya, dibiarkan saja di depan matanya tidak bisa dipakai, punya kendaraan tapi tidak bisa memakainya tidak bisa menjalankannya, lebih baik ia berjalan kaki daripada ia duduk di depan kendaraan bermotor karena dia tidak bisa menjalankannya.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..<br />
Demikian pula mereka yang tidak mendalami agungnya surah Al Fatihah maka hilanglah beribu-ribu kenikmatan dalam setiap ucapan surah Al Fatihah, sirnalah dan lewatlah kesempatan-kesempatan luhur yang semestinya ia dapatkan dalam detik-detik kehidupan nya.</p>
<p>Hadirin hadirat… ada detik-detik mahabbah, ada detik-detik rindu kepada Allah, ada detik-detik air mata mengalir mengharapkan ridhaNya, ada detik-detik munajat terindah yang menenangkan jiwamu dari kegundahan, ada detik-detik turunnya pengampunan, ada detik cahaya ijabah mengangkat segala kesulitan.</p>
<p>Hadirin hadirat…bumi beserta segala pendamannya telah Allah pasrahkan dan Allah berikan kepada Sayyidina Muhammad SAW. Rasul SAW bersabda diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari :</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> أُعْطِيْتُ مَفَاتِيْحَ خَزَائِنِ اْلأَرْضِ حَتَّى وُضِعَتْ فِي يَدِيْ </strong></p>
<p><strong><em>“ Aku diberi seluruh kunci dari pendaman bumi hingga diletakkan di tangan ku “ </em></strong></p>
<p>apakah itu berupa musim kemarau yang tidak membawa kerusakan tapi membawa keuntungan, musim hujan yang membawa keberuntungan, tanaman yang selalu berhasil, tambang-tambang yang mudah dimunculkan. Semua apa yang ada di bumi ini sudah diberikan kunci-kunci keberkahannya kepada Nabi Muhammad dan diletakkan di tangan beliau, ditaruhkan seluruh kunci-kunci pendaman bumi di tanganku, kata Rasulullah SAW.</p>
<p>Perbanyak shalawat kepada Sayyidina Muhammad SAW, karena shalawat membuka kemakmuran dunia dan akhirah, keberkahan dunia dan akhirah karena Rasul SAW telah bersabda :</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> أَنَا قَاسِمٌ وَاللهُ يُعْطِي</strong></p>
<p><strong><em>“ Aku yang membagi-bagikan dan Allah Yang Maha Memberi “(shahih Bukhari)</em></strong></p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…</p>
<p>Allah sudah serahkan kunci-kunci keberkahan kehidupan ini beserta rizki, kemudahan dan lain sebagainya, tinggallah kita ingin mencapainya dengan mengikuti tununan Sang Nabi makin barakah hidup kita.<br />
(mungkin dihati kita berucap) <em>“Banyak kok orang-orang makmur dan kaya tanpa mengikuti Sunnah”</em>, lihat nanti akhirnya, lihat nanti hari kedepannya, apakah kekayaannya abadi atau sekarang ia dimuliakan, dicintai dan terpuji, satu dua tahun kemudian ia dicela oleh semua orang, atau saat ini ia dalam kemuliaan sebentar lagi dalam kehinaan!? namun mereka yang berada dalam tuntunan Sayyidina Muhammad SAW :</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> أنَّ اْلأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُوْنَ </strong></p>
<p><strong><em>“ Sesungguhnya bumi ini diberikan dan diwariskan kepada hamba-hambaKu ( Allah ) yang shalih “ (QS Al Anbiya 105)</em></strong></p>
<p>Hadirin hadirat…Para shalihin shalihat sebagian di antara mereka terlihat kehidupannya sederhana karena memang tidak menginginkannya, mereka yang menginginkannya untuk membantu para fuqaraa’ maka Allah akan berikan keluasan seluas-luasnya.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..<br />
Maka mintalah kemakmuran kepada yang memilikinya ( Allah ), dan bukalah kunci keberkahan kehidupan dunia ini pada yang telah diserahkan kuncinya oleh Allah yaitu Nabiyyuna Muhammad SAW,perbanyaklah shalawat dan salam pada Sang Nabi, hari-hari kita akan dilimpahi keberkahan dan kemakmuran dunia wal akhirah, amin.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…<br />
Munculnya musibah, munculnya kesulitan, munculnya berbagai macam bencana alam,munculnya hal-hal fitnah, pembunuhan dan lain sebagainya ini, bagi orang yang mengerti ilmu hadits ini merupakan satu syarat akan munculnya hal yang menggembirakan sebagaimana janji Sang Nabi SAW, beliau telah mengatakan ini<strong><em> “ akan terjadi nanti di akhir zaman banyak pembunuhan, banyak gempa bumi, banyak yang mengaku Nabi , banyak terjadi perpecahan dan setelah itu Allah tumpahkan kemakmuran”,</em></strong> karena ummatNya ini berubah menjadi baik, karena para sahabat bertanya : Ya Rasulallah, kami ingin tahu hari-hari di saat Allah tumpahkan maal ( harta ) seluas-luasnya dan kemakmuran pada muslimin muslimat, keadaan orang-orang seperti apa saat itu ? Rasul berkata :</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> سَجَّادَةٌ وَاحِدَةٌ خَيْرٌلَهُمْ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا </strong></p>
<p><strong><em>“  Mereka lebih mencintai satu kali sujud daripada dunia dan seisinya “(shahih Bukhari)</em></strong></p>
<p>Untuk orang seperti itulah kelak kemakmuran brelimpah, semoga Allah memuliakan kita dengan rahasia keagungan sujud. Bencana alam kita sudah lihat, gempa bumi dan lain sebagainya terus dan terus, yang mengaku nabi, yang pembunuhan dan lain sebagainya semua sudah terjadi. Itu semua menandakan bahwa yang disebut oleh Nabi itu sudah terjadi, tinggal satu lagi kemakmuran yang akan muncul.</p>
<p>Aku bersumpah demi hadits mulia Sang Nabi SAW riwayat Shahih Bukhari itu, lima atau enam tahun yang akan datang kita akan melihat kemakmuran bagi muslimin jauh daripada sekarang. Bagi yang panjang umurnya sampai lima atau enam tahun kedepan akan melihat bagaimana limpahan kemakmuran dari Allah SWT, sebagaimana janji Sayyidina Muhammad SAW,</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> اَلَّذِيْ لَايَنْطِقُ عَنِ اْلهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوْحىَ</strong></p>
<p><strong><em>“ Yang tidak berbicara dengan mengikuti hawa nafsu, melainkan wahyu yang telah disampaikan” (Annajm 3-4)</em></strong></p>
<p>Sekarang ada orang yang menangis sedih karena kesulitan, karena masalah dan lain sebagainnya, lihat lima atau enam tahun yang akan datang Allah akan tumpahkan kemakmuran kepada muslimin muslimat. Dikatakan oleh para Mufassir (para ahli tafsir), pada saat itu Allah SWT memberikan kemakmuran pada orang-orang muslim sampai semua orang mengarah pada orang orang muslim dan para shalihin, karena mereka diberi kemakmuran. Orang muslim mengadakan usaha berhasil, bikin perkebunan berhasil, peternakan berhasil, tambang berhasil semuanya berhasil. Orang-orang yang memusuhi Islam usahanya dirusak oleh Allah, tanamannya dirusak, ternaknya terkena wabah, terus dihujani kesulitan oleh Allah, sehingga orang-orang lari kepada muslimin, lari kepada shalihin karena kemakmuran di tangan muslimin dan para shalihin.</p>
<p>Hadirin hadirat ..Ucapan itu seakan-akan angan-angan bagi kita sekarang, tapi kalian dengar ucapan ini lima atau enam tahun kedepan buktikan ucapan ini muncul, (kalian akan berkata) lima enam tahun yang lalu aku mendengar ucapan ini dan (kini) terjadi, dan hal itu pasti terjadi karena itu bukan ucapan saya tapi janji Sayyidina Muhammad SAW.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..<br />
Sang Nabi Muhammad SAW sangat mengetahui bahwa ummatnya sering berada dalam kesedihan, sering berada di dalam masalah, sering berada di dalam himpitan dalam kehidupan di dunia, maka seraya mengajarkan hadits mulia ini yaitu doa yang diajarkan kepada Anas Ibn Malik RA dan para shahabat :</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ اْلهَمِّ وَاْلحَزَنِ وَاْلعَجْزِ وَاْلكَسَلِ وَاْلبُخْلِ وَاْلجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ </strong></p>
<p><strong><em>“ Wahai Allah aku berlindung kepadaMu dari gundah dan sedih “(Shahih Bukhari)</em></strong></p>
<p>Manusia itu tentunya tidak hilang dari gundah, tapi kalau gundah dan sedih itu terus menyiksanya hancurlah hidupnya, tidak terasa kenikmatannya dan semakin berat cobaannya. Padahal kalau ia tidak gundah dan tidak sedih, maka niscaya kenikmatannya terasa walaupun ada satu atau dua musibah ia tetap merasa dalam kenikmatan, demikian pula kalau dalam musibah ia akan merasa tenang dan bersabar karena hatinya damai dan tenang. Tapi kalau gundah dan sedih muncul dalam kenikmatan atau dalam musibah, tetap kita seperti di dalam neraka kehidupan, Sang Nabi mengetahui itu bagaimana mengobatinya?, maka berlindunglah kepada Yang Maha sangat menenangkan jiwa seraya berkata :</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ اْلهَمِّ وَاْلحَزَنِ </strong></p>
<p><strong><em>“ Wahai Allah aku berlindung kepadaMu dari gundah dan sedih “ </em></strong></p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> وَاْلعَجْزِ وَاْلكَسَلِ </strong></p>
<p><strong><em>“ dan dari kelemahan dan rasa malas” </em></strong></p>
<p>Dan berlindung daripada tubuh yang lemah, iman yang lemah,atau semangat yang lemah atau kehidupan yang lemah . <strong>وَاْلكَسَلِ </strong>( dan malas ), waktu ada untuk untuk melakukan hal-hal yang mulia, mau silaturrahmi bisa tapi malas, mau nasehati orang tinggal buka hp nya sms semua orang, sudah shalat asar belum?, sudah shalat maghrib belum?, berapa harga sms dibagikan!? Tapi malas, padahal itu mulia dan luhur, itu mewakili seruan Nabi Muhammad SAW,<br />
bangun shalat subuh atau shalat tahajjud sms temanmu, sudah shalat subuh belum?, sudah bangun tahajjud belum,,?, ini kemuliaan .</p>
<p>Zaman sekarang masuk sms sana sini ;<em> “kalau yang menyebarkan sms ini sebanyak sepuluh sms maka akan dapat keberkahan, yang tidak menyebarkan akan mendapat kehinaan”,</em> jangan percaya sms seperti itu, karena takdir Allah bukan dari sms, rizki dan kesulitan bukan dari sms demi Allah.. tapi dari Rabbul ‘Alamin SWT.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..<br />
Bisa sebarkan dakwah Sang Nabi lewat hp kita itu, jadikan hp itu saksi di yaumul qiyamah bahwa kita memakainya dalam keluhuran. Lanjutan dari hadits ini :</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> وَاْلجُبْنِ وَاْلبُخْلِ </strong></p>
<p><strong><em>“ dan dari rasa takut dan rasa kikir “</em></strong></p>
<p>Rasa takut disini, bisa takut pada musibah, bisa takut kepada manusia, bisa takut kepada makhluk ghaib. Sebagian orang mengadukan kepada saya mau shalat tahajjud takut, takut kenapa?, justru kalau bermaksiat setan banyak mengerubuti, kalau tahajjud tidak ada setan mendekat.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…<br />
Kalau zikir atau tahajjud tengah malam maka Malaikat menjagamu, Allah turunkan para malaikat untuk menjaga kita, jangankan setan mengganggu mendekatpun setan tidak bisa karena ikhlas lillahi ta’ala mau dekat kepada Allah menjalankan sunnah Nabi, jangankan mengganggu, mendekat pun setan tidak bisa. Kalau dalam maksiat banyak setannya, kalau dalam tahajjud tidak ada setan yang mendekat,<br />
cuma setan merisaukan kita ;<em> “kamu bangun malam nanti kamu akan melihat wujud ini”,</em> tidak akan pernah terjadi..!, buktikan ucapan saya, selama niatmu luhur, niatmu bangun ingin dekat kepada Allah, tidak satu jin atau setanpun yang mampu mendekat kepadamu, maka hal ini akan mengganggu kita dari kemuliaan, mau shalat subuh tidak berani tunggu teman dulu mau wudhu’.</p>
<p>Hadirin hadirat..jadi rasa takut disini banyak diantaranya yang telah saya sebutkan,takut pada makhluk ghaib dan juga takut kepada manusia. Gara-gara takut kepada manusia maka tidak berani berbuat baik, bukan berarti pemberani itu adalah orang yang kasar atau orang yang bengis. Rasul SAW orang yang paling ramah tapi beliau orang yang paling pemberani, pemberani tapi ramah. Justru orang yang ramah tapi pemberani itu jauh lebih ditakuti daripada orang yang bengis walaupun ia pemberani.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…</p>
<p>Dan juga takut akan datangnya musibah,<em> kalau aku banyak beribadah nanti datang cobaan, kalau aku dekat dengan Allah nanti datang cobaan, </em></p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> إِذَا أَحَبَّ اللهُ عَبْدًا اِبْتَلاَهُ </strong></p>
<p><strong><em>“ Jika Allah mencintai hamba maka Dia ( Allah ) akan mengujinya “</em></strong></p>
<p>Di uji dengan apa dulu?, bisa diuji dengan kenikmatan, bisa diuji dengan keluhuran dan kemakmuran, dan ujian Allah itu datang satu untuk membuka beribu-ribu kenikmatan sesudahnya.</p>
<p>Hadirin hadirat…lantas (diantara) kita berfikir,<em> “Rasul SAW saja orang yang paling bertakwa banyak musibahnya!”</em>,<br />
(sungguh) alam semesta tunduk pada Sayyidina Muhammad SAW, batu dipanggil untuk datang maka batu datang, pohon dipanggil maka pohon pun datang. Diriwayatkan oleh Anas Ibn Malik di dalam kitab As Syifaa’ oleh Hujjatul Islam Al Imam Qadhi ‘Iyadh dalam salah satu riwayat bahwa satu siang hari Rasul SAW ingin buang air kecil dan tidak menemukan tempat yang tersembunyi di padang pasir, maka kata Anas bin Malik “ tidak ada tempat ya Rasulallah untuk bersembunyi”, maka Rasulullah berkata : “ Kau lihat semua batu besar dan pohon disekitar sini katakan bahwa Rasulullah memanggilmu”, maka Anas datang kepada pohon itu dan berkata :</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> رَسُوْلُ اللهِ يَدْعُوْكِ </strong></p>
<p><strong><em>“ Rasulullah memanggilmu”</em></strong></p>
<p>Maka pohon itupun keluar dengan mengeluarkan akarnya mendekati Nabi Muhammad SAW, demikian pula batu yang besar-besar membelah bumi menutupi Sang Nabi bagaikan benteng, alam semesta tunduk kepada Sayyidina Muhammad SAW . Hadirin hadirat…bulan dipanggil pun datang, disuruh terbelah ia pun terbelah, demikianlah orang yang sangat dimuliakan Allah datang ujian satu dua tentunya kenikmatannya jauh lebih besar daripada ujiannya.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah..<br />
Demikian nikmat Allah SWT, orang yang dicintai Allah makin dicintai makin dilimpahi kenikmatan, Allah tidak ingin melihat ia sedih jika ia sedih Allah beri kemudahan, jika tidak maka Allah beri ia kesedihan dan menjadikan kesedihannya itu membuat ia semakin dekat kepada Allah SWT, dipermudah hidupnya supaya tidak sulit beribadah kepada Allah karena ia mencintai Allah, Ja’alanallahu wa iyyakum minhum ( Semoga Allah menjadikan kita diantara mereka ).</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> وَاْلجُبْنِ وَاْلبُخْلِ</strong></p>
<p><strong><em>“ dan dari rasa takut dan rasa kikir “</em></strong></p>
<p>Terkadang orang itu berbeda, barangkali ia memiliki harta banyak, semakin banyak hartanya semakin sulit untuk mengeluarkannya, kalau ia punya uang seratus ribu tidak berat ia keluarkan seribu, tapi kalau uangnya satu juta, sepuluh ribu masih ringan, kalau memiliki uang sepuluh juta keluarkan seratus ribu pikir dulu, kalau uangnya satu miliyar keluarkan satu juta pikir-pikir dulu,<br />
dan begitu hadirin hadirat semakin luas kenikmatan bisa membuat orang semakin kikir, dan seperti ini yang dikhawatirkan.</p>
<p>Tapi Allah SWT juga mengajarkan kepada Sang Nabi untuk tidak terlalu berbuat seluas-luasnya , ada orang yang punya uang seratus ribu diberikan saja kepada semua yang meminta, akhirnya esok datang kebutuhannya ia berkata : mana ini Allah, aku dermawan kok Allah tidak memberiku rizki, hal seperti ini awalnya dia bersifat dermawan tapi akhirnya ia ingin memperbudak Allah dengan keinginannya, hati-hati dengan yang seperti ini, maka berinfaklah dengan apa adanya yang ada pada kita sedekahkan semampunya.</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ </strong></p>
<p><strong><em>“ dan dari himpitan hutang dan penindasan orang lain”</em></strong></p>
<p>Banyak orang yang punya usaha, hutangnya banyak tapi berjalan, masuk hutang bayar lagi, masuk hutang selesai lagi, tapi ada orang yang terjebak hutang, hutang hutang terus ini yang disebut<strong><em> dhala’ad dain </em></strong>( tumpukan hutang ). Rasul SAW tahu itu sangat menyulitkan ummatnya, bagaimana jalan keluarnya? Minta kepada Allah SWT, Allah SWT akan mempermudah jalan kehidupannya.</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ </strong></p>
<p><strong><em>“ dan penindasan oleh orang lain “</em></strong></p>
<p>Penindasan oleh siapa saja, oleh temankah, kekasihkah, kerabatkah dan oleh siapa pun, maka hal itu bisa terhindar bagaimana caranya ini?, bisa bebas dari kesedihan bebas dari kegundahan, bebas dari semua yang saya sebutkan ini, bagaimana caranya?</p>
<p>Perbanyaklah kemuliaan kepada sang pembawa rahmatan lil’alamin yang mengajarkan kita doa tersebut, untuk menyingkirkan hal-hal seperti ini, orang yang mengamalkan doa ini ada di wirdul latif Al Imam Hujjatul Islam wa barakatul anam Al Imam Abdullah bin Alawy Al Haddad AR, dibaca setiap pagi dan sore, maka Allah SWT akan mempermudah hari-harinya , jika ada kegundahan, jika ada kesedihan tidak sebesar daripada orang yang tidak membacanya,jika ada hutang jika ada penindasan atau lain sebagainya akan dihindarkan oleh Allah SWT.</p>
<p>Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…<br />
Hidup kita bahagia, tenang dan damai dengan tuntunan Sayyidina Muhammad SAW . Sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari, Rasul SAW bersabda :</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> مَنْ لَا يَرْحَمُ لَايُرْحَمُ </strong></p>
<p><strong><em>“ Barangsiapa yang tidak mengasihani, maka ia tidak dikasihani “ </em></strong></p>
<p>Jadi semakin kita bengis kepada orang lain, hati-hati takdir Allah semakin bengis kepada kita. Maka semakin kita berlemah lembut kepada orang lain, Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang makin berlemah lembut kepada kita.</p>
<p>Maka berlemah lembutlah kepada orang lain semampunya , dan berusahalah jika orang-orang berbuat jahat kepada kita doakan agar dia diberi hidayah, karena banyak dari teman dan saudara kita itu berbuat kemungkaran karena dijebak oleh syaitan, hatinya tidak mau, hatinya ingin baik, mungkin ia melihat kalian hadir ke majelis hatinya terpanggil walaupun dia sedang dalam keadaan mungkar dan dosa , (si pendosa berkata dalam hatinya) <em>“aku ingin seperti dia hadir ke majelis” </em>namun dikalahkan oleh kekuatan syetan,,<em>”ah nanti saja lain waktu”</em>, nah hal seperti ini yang perlu dikasihani, hidayah ada di hatinya tapi ia dikalahkan oleh kekuatan syetan maka perlu dikasihani, diseru dengan kelembutan dan diajak kepada keluhuran.</p>
<p>Warisi perjuangan Nabi kita Muhammad SAW dalam hari-hari kita, bukan berarti harus menjadi Da’i semua namun jadilah penyeru ke jalan keluhuran di rumah, di tetangga, di pekerjaan, di sekolahan, kenalkan budi pekerti yang baik pada ayah bunda,<br />
<em>“kenapa ayah ibu saya selalu kasar pada saya?”</em> Kalau kau berlemah lembut pada mereka sekali,dua kali, tiga kali, seminggu dua minggu, belum satu bulan engkau berlemah lembut pada ayah ibu mu, kau akan menjadi orang kesayangannya, dan kau tidak akan disakiti perasaanmu karena kau menjadi anak yang di banggakan, kenapa ? karena sangat berlemah lembut pada Ayah Bunda nya.</p>
<p>Hampir semua orang yang bengis kepada orang lain, kalau ia di lemah lembuti maka ia akan berubah menjadi baik, kenapa? Karena, pedang akhlak dan budi pekerti itu adalah pedang cahaya, kalau pedang besi hanya bisa merobek dada atau jantung, membunuh…, paling banyaknya tidak bisa lebih dari itu,<br />
tapi pedang cahaya itu bisa menembus sanubari , merubah hati yang keras menjadi hati yang lembut penuh cahaya, membuat orang yang bengis menjadi orang yang sangat sering menangis, membuat orang yang selalu berbuat jahat menjadi orang yang selalu berbuat baik, membuat musuh terjahat menjadi teman tersetia, itulah pedang cahaya akhlak Sayyidina Muhammad SAW . Demikian banyak saya tidak bisa sebutkan satu persatu, riwayat Shahih Bukhari dan lainnya ; orang yang berkata kepada Nabi Muhammad SAW tidak ada orang yang lebih kubenci dari Muhammad SAW, tapi setelah keramahan beliau berubah menjadi orang yang paling dicintainya adalah Sayyidina Muhammad SAW .</p>
<p>Hadirin hadirat…<br />
Kita bermunajat kepada Allah SWT semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan kebahagiaan kepada kita, juga kepada guru-guru mulia kita Al Habib Hud Bin Muhammad Bagir Al Atthas, As Syaikh Muhammad Abdullah dari Sidney, Al Habib Ibrahim Aidid, dan para habaib semoga dipanjangkan usia mereka dalam rahmat dan keberkahan, dan semoga Allah SWT memuliakan dan mengabulkan semua hajat mereka dan semua yang hadir . Kita bermunajat kepada Allah, meminta kepada Allah SWT rahasia keagungan doa :</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ اْلهَمِّ وَاْلحَزَنِ وَاْلعَجْزِ وَاْلكَسَلِ وَاْلبُخْلِ وَاْلجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَال </strong></p>
<p>Wahai Allah jauhkanlah dari kami kegundahan dan kesedihan, kami berlindung kepadaMu dari gundah dan sedih, kami berlindung kepadaMu daripada sifat takut dan sifat kikir , kami berlindung kepadaMu daripada himpitan hutang dan segala penindasan, kami berlindung kepadaMu dari segala musibah. Wahai Yang Maha menyingkap musibah menjadi rahmah , wahai Yang Maha menggantikan kesulitan dengan kemudahan , wahai yang maha menerbitkan matahari dari kegelapan malam, terbitkan rahmat dan pengampunan pada hari-hari kami dan tiada pernah terbenam sampai kami berjumpa denganMu di hari perjumpaan, wahai yang maha memanggil setiap hambaNya menuju kedekatan dan ridhaNya .</p>
<p>Rabbi Rabbi..pastikan siang dan malam kami dilewati dalam keluhuran, perbaiki keadaan kami yang masih dalam kehinaan angkat menuju keluhuran , yang dalam keluhuran tambahkan dalam keluhurannya. Ya Rahman Ya Rahim kumpulkan kami dalam cahaya keluhuran dunia dan akhirah, muliakan kami dengan kemuliaan ;</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> إِهْدِنَا الصِّرَاطَ اْلمُسْتَقِيْمَ صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ اْلمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِيْنَ </strong></p>
<p>Ya Rahman Ya Rahim, wahai yang maha tunggal dan maha abadi, wahai pencipta alam semesta dari tiada, wahai yang maha menjadikan seluruh alam semesta ini tetap bertahan selama ada yang memanggil namaMu,</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> لَاتَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا يُقاَلُ فِي اْلأَرْضِ : اللهُ اللهُ  وَلَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ عَلَى رَجُلٍ يَقُوْلُ : اللهُ اللهُ </strong></p>
<p>Tiada akan datang hari kiamat selama masih ada yang memanggil nama Allah, Allah dari ummat Nabi Muhammad SAW…dan seorang yang berkata Allah, Allah maka kiamat tiada akan menimpanya (Shahih Muslim), maka serulah nama Yang Maha Luhur yang dengan menyerunya tersingkaplah dan terjauhkanlah musibah, kalau hari kiamat yang merupakan kehancuran alam semesta saja tertahan karena orang yang berzikir Allah, Allah…lebih-lebih lagi musibah yang kecil dalam hidup kita akan disingkirkan oleh Allah dari kehidupan kita,,</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا&#8230;</strong></p>
<p>Katakanlah bersama-sama..</p>
<p style="font-size:20px;text-align:right;"><strong> يَا اللهْ يَا اَللهْ يَا اللهْ&#8230;يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ يَا رَحِيْمُ&#8230;لَاإِلهَ إِلَّا الله&#8230; مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوْتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ </strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhammadfebri.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhammadfebri.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhammadfebri.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhammadfebri.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhammadfebri.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhammadfebri.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhammadfebri.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhammadfebri.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhammadfebri.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhammadfebri.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhammadfebri.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhammadfebri.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhammadfebri.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhammadfebri.wordpress.com/257/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadfebri.wordpress.com&amp;blog=9734750&amp;post=257&amp;subd=muhammadfebri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/10/16/doa-sang-nabi-untuk-berlindung-kepada-allah-swt/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70dec2e2087690446f11eb6418465418?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mufe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://majelisrasulullah.org/images/M_images/pdf_button.png" medium="image">
			<media:title type="html">PDF</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://majelisrasulullah.org/images/M_images/printButton.png" medium="image">
			<media:title type="html">Print</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://majelisrasulullah.org/images/M_images/emailButton.png" medium="image">
			<media:title type="html">E-mail</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.socialtwist.com/2009040514500/button.png" medium="image">
			<media:title type="html">SocialTwist Tell-a-Friend</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>perubahan arah kiblat</title>
		<link>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/10/14/perubahan-arah-kiblat/</link>
		<comments>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/10/14/perubahan-arah-kiblat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 14:15:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muhammad febri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammadfebri.wordpress.com/?p=251</guid>
		<description><![CDATA[Depag Jateng Lakukan Pembenahan Arah Kiblat By Republika Newsroom Rabu, 14 Oktober 2009 pukul 16:27:00 &#60;!&#8211; &#8211;&#62; Font Size A A A EMAIL PRINT Facebook WORDPRESS.COM SEMARANG&#8211;Kantor Wilayah Departemen Agama (Kanwil Depag) Provinsi Jawa Tengah, tahun ini mulai menerbitkan sertifikasi arah kiblat bagi ribuan masjid yang ada di Jawa Tengah. Sertifikasi ini merupakan upaya Depag [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadfebri.wordpress.com&amp;blog=9734750&amp;post=251&amp;subd=muhammadfebri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<h1>Depag Jateng Lakukan Pembenahan Arah Kiblat</h1>
</div>
<p><!-- reporter start--></p>
<div>
<div>By Republika Newsroom</p>
<p>Rabu, 14 Oktober 2009 pukul 16:27:00 &lt;!&#8211;</p>
<div><img src="images/ads468x60.jpg" alt="Iklan 468x60" /></div>
<p>&#8211;&gt;</p>
</div>
<div>Font Size <span style="font-size:xx-small;"><a href="http://muhammadfebri.wordpress.com/wp-admin/#">A</a></span> <span style="font-size:x-small;"><a href="http://muhammadfebri.wordpress.com/wp-admin/#">A</a></span> <span style="font-size:small;"><a href="http://muhammadfebri.wordpress.com/wp-admin/#">A</a> </span></p>
<p><img src="http://muhammadfebri.wordpress.com/images/email_icon.jpg" border="0" alt="Email" width="12" height="8" align="bottom" /> <a href="http://muhammadfebri.wordpress.com/email/82402">EMAIL</a></p>
<p><img src="http://muhammadfebri.wordpress.com/images/print_icon.jpg" border="0" alt="Print" width="12" height="10" /> <a href="http://muhammadfebri.wordpress.com/print/82402">PRINT</a></p>
<p><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.republika.co.id/berita/82402/Depag_Jateng_Lakukan_Pembenahan_Arah_Kiblat" target="_blank">Facebook</a></p>
<p><!-- AddThis Button BEGIN --><a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=20"><img style="border-width:0;" src="http://s7.addthis.com/static/btn/sm-share-en.gif" alt="Bookmark and Share" width="83" height="16" /></a> <!-- AddThis Button END --></div>
</div>
<p><!-- reporter end--><!-- contents lainnya start--></p>
<div><!-- lainnya dalem start--></p>
<div>
<div><img class="alignright" style="width:325px;" src="http://muhammadfebri.wordpress.com/images/news/2009/10/20091014162646.jpg" alt="Depag Jateng Lakukan Pembenahan Arah Kiblat" />WORDPRESS.COM</div>
<div id="detail_news_text">
<p>SEMARANG&#8211;Kantor Wilayah Departemen Agama (Kanwil Depag) Provinsi Jawa Tengah, tahun ini mulai menerbitkan sertifikasi arah kiblat bagi ribuan masjid yang ada di Jawa Tengah. Sertifikasi ini merupakan upaya Depag untuk meluruskan kembali arah kiblat yang kemungkinan telah berubah akibat proses alam. Terutama masjid- masjid yang telah berusia uzur.</p>
<p>“Tahun ini kita telah memulai penerbitan sertifikat arah kiblat ini. Secara bertahap, 39.478 masjid di Jawa Tengah akan ber sertifikat arah kiblat yang benar,” ungkap Kakanwil Depag Jawa Tengah, Mashyudi di Semarang, Rabu (14/10).</p>
<p>Menurutnya, Depag perlu menerbitkan sertifikat arah kiblat masjid-masjid di provinsi ini yang diperkirakan telah mengalami perubahan. Pasalnya dari hasil pendapat ahli geografi, pergeseran lempeng bumi telah mempengaruhi arah kiblat masjid.</p>
<p>Karena itu, tim kantor Depag akan meneliti ulang arah kiblat bagi masjid dan mushala yang ada di Jawa Tengah, Posisi kiblat masjid yang sudah benar akan mendapatkan sertifikat.Untuk mempermudah kordinasi dan pelaksanaan di lapangan, jelasnya, seluruh kantor wilayah di tiap kabupaten/ kota diminta memberikan laporan tentang penelitian arah kiblat masjid dan mushala ini.</p>
<p>Arah kiblat tersebut, lanjut dia, akan disesuaikan dengan perhitungan ilmu falak dan kompas. Saat ini, pembenahan arah kiblat diutamakan untuk masjid agung dan masjid raya yang pasti ada di tiap kabupaten/ kota dan umumnya telah berusia tua.</p>
<p>Ke depan, sertifikasi ini juga akan dilakukan untuk masjid yang ada di 35 kabupaten/ kota di Jawa Tengah. “Termasuk mushala yang jumlahnya mencapai 86.625 buah,” imbuh Mashyudi. owo/kpo</p>
</div>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhammadfebri.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhammadfebri.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhammadfebri.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhammadfebri.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhammadfebri.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhammadfebri.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhammadfebri.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhammadfebri.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhammadfebri.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhammadfebri.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhammadfebri.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhammadfebri.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhammadfebri.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhammadfebri.wordpress.com/251/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadfebri.wordpress.com&amp;blog=9734750&amp;post=251&amp;subd=muhammadfebri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/10/14/perubahan-arah-kiblat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70dec2e2087690446f11eb6418465418?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mufe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhammadfebri.wordpress.com/images/email_icon.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Email</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhammadfebri.wordpress.com/images/print_icon.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Print</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s7.addthis.com/static/btn/sm-share-en.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Bookmark and Share</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhammadfebri.wordpress.com/images/news/2009/10/20091014162646.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Depag Jateng Lakukan Pembenahan Arah Kiblat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH: GOLONGAN YANG SELAMAT</title>
		<link>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/10/13/ahlussunnah-wal-jama%e2%80%99ah-golongan-yang-selamat-al-firqah-an-najiyah-%d9%88%ee%a0%a0%d8%a5%d9%86%d9%91%d9%8e-%d9%87%d8%b0%ee%a0%a6%d9%87%ee%a0%a6-%d8%a7%d9%84%d9%85%ee%a0%a6%d9%84%d9%91/</link>
		<comments>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/10/13/ahlussunnah-wal-jama%e2%80%99ah-golongan-yang-selamat-al-firqah-an-najiyah-%d9%88%ee%a0%a0%d8%a5%d9%86%d9%91%d9%8e-%d9%87%d8%b0%ee%a0%a6%d9%87%ee%a0%a6-%d8%a7%d9%84%d9%85%ee%a0%a6%d9%84%d9%91/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 08:34:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muhammad febri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammadfebri.wordpress.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH: GOLONGAN YANG SELAMAT (al Firqah an-Najiyah) وإنَّ هذه الملَّةَ ستفترِ  ق علَى ثَلاَث وسبعين ثنتان وسبعونَ فى النارِ وواحدةٌ فى الجَنة وهي ” :r قَالَ ر  سو ُ ل اللهِ الجَماعُة” (رواه أبوداود) Maknanya: “…dan sesungguhnya ummat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 di antaranya di neraka dan hanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadfebri.wordpress.com&amp;blog=9734750&amp;post=243&amp;subd=muhammadfebri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH: GOLONGAN YANG SELAMAT</strong></p>
<p align="center"><strong><em>(al Firqah an-Najiyah)</em></strong></p>
<p align="center"><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong>و</strong><strong>إنَّ هذ</strong><strong>ه</strong><strong> الم</strong><strong>لَّةَ س</strong><strong>ت</strong><strong>فت</strong><strong>رِ </strong><strong> ق ع</strong><strong>لَى ثَلاَث</strong><strong> و</strong><strong>س</strong><strong>ب</strong><strong>ع</strong><strong>ي</strong><strong>ن</strong><strong> ث</strong><strong>ن</strong><strong>ت</strong><strong>ان</strong><strong> و</strong><strong>س</strong><strong>ب</strong><strong>عونَ ف</strong><strong>ى ال</strong><strong>نارِ و</strong><strong>و</strong><strong>اح</strong><strong>د</strong><strong>ةٌ ف</strong><strong>ى الجَ</strong><strong>نة</strong><strong> و</strong><strong>ه</strong><strong>ي</strong><strong> ” :</strong><strong>r قَالَ ر</strong><strong> </strong><strong> سو ُ ل اللهِ</strong></p>
<p><strong>الجَم</strong><strong>اع</strong><strong>ُة” (ر</strong><strong>و</strong><strong>ا</strong><strong>ه أ</strong><strong>بود</strong><strong>او</strong><strong>د)</strong></p>
<p><strong>Maknanya: <em>“…dan sesungguhnya ummat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 di</em></strong></p>
<p><strong><em>antaranya di neraka dan hanya satu yang di surga yaitu al-Jama’ah”. </em>(H.R. Abu Dawud)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Akal adalah syahid (saksi dan bukti) akan kebenaran syara’. Inilah sebenarnya yang dilakukan oleh ulama tauhid atau ulama al-kalam (teologi). Yang mereka lakukan adalah taufiq (pemaduan) antara kebenaran syara’ dengan kebenaran akal, mengikuti jejak nabi Ibrahim -seperti dikisahkan al-Quran- ketika membantah raja Namrud dan kaumnya, di mana beliau menundukkan mereka dengan dalil akal. Fungsi akal dalam agama adalah sebagai saksi bagi kebenaran syara’ bukan sebagai peletak dasar bagi agama itu sendiri. Berbeda dengan para filosof yang berbicara tentang Allah, malaikat dan banyak hal lainnya yang hanya berdasarkan penalaran akal semata. Mereka menjadikan akal sebagai dasar agama tanpa memandang ajaran yang dibawa para nabi.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tuduhan kaum Musyabbihah; kaum yang sama sekali tidak memfungsikan akal dalam agama, terhadap Ahlussunnah sebagai <em>’Aqlaniyyun </em>(kaum yang hanya mengutamakan akal) atau sebagai kaum Mu’tazilah atau <em>Afrakh al-Mu’tazilah </em>(anak bibitan kaum Mu’tazilah) dengan alasan karena lebih mengedepankan akal, adalah tuduhan yang salah alamat. Ini tidak ubahnya seperti seperti kata pepatah arab “<em>Qabihul Kalam Silahulliam</em>” (kata-kata yang jelek adalah senjata para pengecut). Secara singkat namun komprehensif, kita ketengahkan bahasan tentang Ahlissunnah sebagai al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat), asal-usulnya, dasar-dasar ajaran dan sistematikanya.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PEMBAHASAN</strong></p>
<p><strong>Sejarah mencatat bahwa di kalangan umat Islam dari mulai abad-abad permulaan (mulai dari masa <em>khalifah sayyidina </em>Ali ibn Abi Thalib) sampai sekarang terdapat banyak <em>firqah </em>(golongan) dalam masalah aqidah yang faham satu dengan lainnya sangat berbeda bahkan saling bertentangan. Ini fakta yang tak dapat dibantah. Bahkan dengan tegas dan gamblang Rasulullah telah menjelaskan bahwa umatnya akan pecah menjadi 73 golongan. Semua ini tentunya dengan kehendak Allah dengan berbagai hikmah tersendiri, walaupun tidak kita ketahui secara pasti. Dia-lah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Namun Rasulullah juga telah menjelaskan jalan selamat yang harus kita</strong></p>
<p><strong>tempuh agar tidak terjerumus dalam kesesatan. Yaitu dengan mengikuti apa yang diyakini oleh <em>al-Jama’ah</em>; mayoritas umat Islam. Karena Allah telah menjanjikan kepada Rasul-Nya, Muhammad , bahwa umatnya tidak akan tersesat selama mereka berpegang teguh kepada apa yang disepakati oleh kebanyakan mereka. Allah tidak akan menyatukan mereka dalam kesesatan. Kesesatan akan menimpa mereka yang menyempal dan memisahkan diri dari keyakinan mayoritas. Mayoritas umat Muhammad dari dulu sampai sekarang adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam <em>Ushul al-I’tiqad </em>(dasar-dasar aqidah); yaitu <em>Ushul al-Iman al-Sittah </em>(dasar-dasar iman yang enam) yang disabdakan Rasulullah dalam hadits Jibril:</strong></p>
<p><strong>“الإي</strong><strong>م</strong><strong>ا ُ ن أنْ ت</strong><strong>ؤم</strong><strong>ن</strong><strong> بِاللهِ و</strong><strong>م</strong><strong>لائ</strong><strong>كَت</strong><strong>ه</strong><strong> و</strong><strong> ُ ك</strong><strong>تبه</strong><strong> و</strong><strong> </strong><strong> ر </strong><strong> سل</strong><strong>ه</strong><strong> و</strong><strong>الي</strong><strong>ومِ الآخ</strong><strong>رِ و</strong><strong>القَد</strong><strong>رِ خ</strong><strong>ي</strong><strong>رِه</strong><strong> و</strong><strong>ش</strong><strong> </strong><strong> ره</strong><strong>” ( ر</strong><strong>و</strong><strong>ا</strong><strong>ه ال</strong><strong>بخ</strong><strong>ارِي و</strong><strong>مسل</strong><strong>م)</strong></p>
<p><strong>Maknanya: <em>“Iman adalah engkau mempercayai Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab- kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir serta Qadar (ketentuan Allah); yang baik maupun buruk”.</em>(H.R. al Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Perihal <em>al-Jama’ah </em>dan pengertiannya sebagai mayoritas umat Muhammad yang tidak lain adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah tersebut dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>“أو</strong><strong>ص</strong><strong>ي</strong><strong> ُ كم بِأص</strong><strong>ح</strong><strong>ابِي</strong><strong> ثمَّ الذ</strong><strong>ي</strong><strong>ن</strong><strong> ي</strong><strong>ُلو</strong><strong>ن</strong><strong> </strong><strong> هم ثمَّ اّلذ</strong><strong>ي</strong><strong>ن</strong><strong> ي</strong><strong>ُلون</strong><strong> </strong><strong> هم</strong><strong>“، و</strong><strong>في</strong><strong>ه</strong><strong> “عَلي</strong><strong> ُ كم</strong><strong> بِالجَم</strong><strong>اع</strong><strong>ة</strong><strong> و</strong><strong>إ</strong><strong>يا ُ كم</strong><strong> و</strong><strong>الُفر</strong><strong>قة فإنَّ ال </strong><strong> شي</strong><strong>طانَ</strong></p>
<p><strong>م</strong><strong>ع</strong><strong> الو</strong><strong>اح</strong><strong>د</strong><strong> و</strong><strong> </strong><strong> هو</strong><strong> م</strong><strong>ن</strong><strong> الاثْن</strong><strong>ي</strong><strong>نِ أب</strong><strong>ع</strong><strong> </strong><strong> د فَم</strong><strong>ن</strong><strong> أر</strong><strong>اد</strong><strong> ب</strong><strong>ح</strong><strong>بوح</strong><strong>ة الجَ</strong><strong>نةَ فلْي</strong><strong>لْز</strong><strong>مِ الجَم</strong><strong>اع</strong><strong>ة”. (ر</strong><strong>و</strong><strong>ا</strong><strong>ه الت</strong><strong>ر</strong><strong>م</strong><strong>ذ</strong><strong> </strong><strong> ي و</strong><strong>قَالَ ح</strong><strong>س</strong><strong>ن</strong><strong></strong></p>
<p><strong>ص</strong><strong>ح</strong><strong>ي</strong><strong>ح</strong><strong> و</strong><strong>ص</strong><strong> </strong><strong> حح</strong><strong>ه الحَاك</strong><strong> </strong><strong> م)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Maknanya: <em>“Aku berwasiat kepada kalian untuk mengikuti sahabat-sahabatku, kemudian –mengikuti– orang-orang yang datang setelah mereka, kemudian mengikuti yang dating setelah mereka“. </em>Dan termasuk rangkaian hadits ini: <em>“Tetaplah bersama </em>al-Jama’ah <em>dan jauhi perpecahan karena syaitan akan menyertai orang yang sendiri. Dia (syaitan) dari dua orang akan lebih jauh, maka barang siapa menginginkan tempat lapang di surga hendaklah ia berpegang teguh pada (keyakinan) </em>al-Jama’ah<em>”. </em>(H.R. at-Turmudzi, ia berkata hadits ini <em>Hasan Shahih </em>juga hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim).</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Al-Jama’ah dalam hadits ini tidak boleh diartikan dengan orang yang selalu menjalankan shalat dengan berjama’ah, jama’ah masjid tertentu atau dengan arti ulama hadits, karena tidak sesuai dengan konteks pembicaraan hadits ini sendiri dan bertentangan dengan hadits-hadits lain. Konteks pembicaraan hadits ini jelas mengisyaratkan bahwa yang dimaksud <em>al-Jama’ah </em>adalah mayoritas umat Muhammad dari sisi kuantitas.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Penafsiran ini diperkuat juga oleh hadits yang kita tulis di awal pembahasan. Yaitu hadits riwayat Abu Dawud yang merupakan hadits <em>Shahih Masyhur</em>, diriwayatkan oleh lebih dari 10 orang sahabat. Hadits ini memberi kesaksian akan kebenaran mayoritas umat Muhammad bukan kebenaran <em>firqah-firqah </em>yang menyempal. Jumlah pengikut <em>firqah-firqah </em>yang menyempal ini, dibanding pengikut Ahlussunnah Wal Jama’ah sangatlah sedikit.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Selanjutnya di kalangan Ahlussunnah Wal Jama’ah dikenal istilah <em>“ulama salaf”. </em>Mereka adalah orang-orang yang terbaik dari kalangan Ahlusssunnah Wal Jama’ah yang hidup pada 3 abad pertama hijriyah sebagaimana sabda nabi:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>“خ</strong><strong>ي</strong><strong> </strong><strong> ر الُق </strong><strong> رو</strong><strong>ن</strong><strong> قَر</strong><strong>نِي</strong><strong> ثُ </strong><strong> م الذ</strong><strong>ي</strong><strong>ن</strong><strong> ي</strong><strong>ُلو</strong><strong>ن</strong><strong> </strong><strong> هم</strong><strong> ثُ </strong><strong> م الذ</strong><strong>ي</strong><strong>ن</strong><strong> ي</strong><strong>ُلو</strong><strong>ن</strong><strong> </strong><strong> هم</strong><strong>” (ر</strong><strong>و</strong><strong>ا</strong><strong>ه ال</strong><strong>تر</strong><strong>م</strong><strong>ذ</strong><strong> </strong><strong> ي)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Maknanya: <em>“Sebaik-baik abad adalah abadku kemudian abad setelah mereka kemudian abad setelah mereka”.</em> (H.R. Tirmidzi)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pada masa ulama <em>salaf </em>ini, di sekitar tahun 260 H, mulai menyebar bid’ah Mu’tazilah, Khawarij, Musyabbihah dan lainnya dari kelompok-kelompok yang membuat faham baru. Kemudian dua imam agung; Abu al-Hasan al-Asy’ari (W. 324 H) dan Abu Manshur al-Maturidi (W. 333 H) <em>–semoga Allah meridlai keduanya– </em>dating dengan menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diyakini para sahabat nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil <em>naqli </em>(<em>nash-nash </em>al-Quran dan Hadits) dan dalil-dalil <em>aqli </em>(argumen rasional) disertai dengan bantahan-bantahan terhadap <em>syubhat-syubhat </em>(sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya) Mu’tazilah, Musyabbihah, Khawarij tersebut di atas dan ahli bid’ah lainnya. Sehingga Ahlussunnah dinisbatkan kepada keduanya. Mereka; Ahlussunnah Wal Jamaah akhirnya dikenal dengan nama <em>al-Asy’ariyyun </em>(para pengikut imam Abu al-Hasan Asy’ari) dan <em>al-Maturidiyyun </em>(para pengikut imam Abu Manshur al-Maturidi). Hal ini tidak menafikan bahwa mereka adalah satu golongan yaitu <em>al-Jama’ah</em>. Karena sebenarnya jalan yang ditempuh oleh al-Asy’ari dan al-Maturidi dalam pokok aqidah adalah sama dan satu.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Adapun perbedaan yang terjadi di antara keduanya hanya pada sebagian masalah-masalah <em>furu’ </em>(cabang) aqidah. Hal tersebut tidak menjadikan keduanya saling menghujat atau saling menyesatkan, serta tidak menjadikan keduanya lepas dari ikatan golongan yang selamat <em>(al-Firqah al-Najiyah)</em>. Perbedaan antara <em>al-Asy’ariyyah </em>dan <em>al-Maturidiyyah </em>ini adalah seperti halnya perselisihan yang terjadi antara para sahabat nabi, perihal apakah Rasulullah melihat Allah pada saat Mi’raj?. Sebagian sahabat, seperti ‘Aisyah dan Ibn Mas’ud mengatakan bahwa Rasulullah r tidak melihat Tuhannya pada waktu Mi’raj. Sedangkan Abdullah ibn ‘Abbas mengatakan bahwa Rasulullah r melihat Allah dengan hatinya. Allah memberi kemampuan melihat kepada hati Nabi Muhammad r sehingga dapat melihat Allah. Namun demikian <em>al-Asy’ariyyah </em>dan <em>al-Maturidiyyah </em>ini tetap sepaham dan sehaluan dalam dasar-dasar aqidah. Al-Hafizh Murtadla az-Zabidi (W. 1205 H) mengatakan:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>إذَا أطْل</strong><strong>ق</strong><strong> أه</strong><strong>لُ ال </strong><strong> س</strong><strong>نة</strong><strong> و</strong><strong>الجَم</strong><strong>اع</strong><strong>ة</strong><strong> فاُلمر</strong><strong>ا </strong><strong> د بِهِم</strong><strong> الأش</strong><strong>اع</strong><strong>ر</strong><strong>ُة و</strong><strong>المَا</strong><strong>ترِي</strong><strong>د</strong><strong>يُة</strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>“Jika dikatakan Ahlussunnah wal Jama’ah, maka yang dimaksud adalah </em>al-Asy’ariyyah <em>dan </em>al-Maturidiyyah <em>“. </em>(al-Ithaf, juz 2 hlm 6)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Jadi aqidah yang benar dan diyakini oleh para ulama salaf yang shalih adalah aqidah yang diyakini oleh <em>al-Asy’ariyyah </em>dan <em>al-Maturidiyyah</em>. Karena sebenarnya keduanya hanyalah meringkas dan menjelaskan aqidah yang diyakini oleh para nabi dan rasul serta para sahabat. Aqidah Ahlusssunnah adalah aqidah yang diyakini oleh ratusan juta umat Islam, mereka adalah para pengikut madzhab Syafi’i, Maliki,</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Hanafi, serta orang-orang yang utama dari madzhab Hanbali <em>(Fudhala’ al-Hanabilah)</em>. Aqidah ini diajarkan di pesantren-pesantren Ahlussunnah di negara kita, Indonesia. Dan <em>al-Hamdulillah</em>, aqidah ini juga diyakini oleh ratusan juta kaum muslimin di seluruh dunia seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, India, Pakistan, Mesir (terutama al-Azhar), negara-negara Syam (Syiria, Yordania, Lebanon dan Palestina), Maroko, Yaman, Irak, Turki, Daghistan, Checnya, Afghanistan dan masih banyak lagi di negara-negara lainnya. Maka wajib bagi kita untuk senantiasa penuh perhatian dan keseriusan dalam mendalami aqidah <em>al- Firqah al-Najiyah </em>yang merupakan aqidah golongan mayoritas.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Karena ilmu aqidah adalah ilmu yang paling mulia, sebab ia menjelaskan pokok atau dasar agama. Abu Hanifah menamakan ilmu ini dengan <em>al-Fiqh al-Akbar</em>. Karenanya, mempelajari ilmu ini harus lebih didahulukan dari mempelajari ilmuilmu lainnya. Setelah cukup mempelajari ilmu ini baru disusul dengan ilmu-ilmu yang lain. Inilah metode yang diikuti para sahabat nabi dan ulama <em>rabbaniyyun </em>dari kalangan <em>salaf </em>maupun <em>khalaf </em>dalam mempelajari agama ini. Tradisi semacam ini sudah ada dari masa Rasulullah, sebagaimana dikatakan sahabat Ibn ‘Umar dan sahabat Jundub:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>“كُ</strong><strong>نا و</strong><strong>نح</strong><strong> </strong><strong> ن ف</strong><strong>ت</strong><strong>ي</strong><strong>انٌ ح</strong><strong>زاوِرةٌ مع ر  سولِ اللهِ صلَّى اللهُ علَيه وسّلم تعّلمنا الإيمانَ ولَم نتعلّمِ القرءَانَ ثُ  م تعلَّمنا</strong></p>
<p><strong>الُقرءَانَ فَا  زددنا بِه إيمانا” (رواه ابن ماجه وصححه الحافظ البوصيرِ  ي)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Maknanya: <em>“Kami -selagi remaja saat mendekati baligh- bersama Rasulullah mempelajari</em></strong></p>
<p><strong><em>iman (tauhid) dan belum mepelajari al-Qur’an. Kemudian kami mempelajari al-Qur’an maka bertambahlah keimanan kami”. </em>(H.R. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Hafidz al-Bushiri).</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ilmu aqidah juga disebut dengan ilmu kalam. Hal tersebut dikarenakan banyaknya golongan yang mengatas namakan Islam justru menentang aqidah Islam yang benar dan banyaknya <em>kalam </em>(adu argumentasi) dari setiap golongan untuk membela aqidah mereka yang sesat.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tidak semua ilmu kalam itu tercela, sebagaimana dikatakan oleh golongan <em>Musyabbihah </em>(kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Akan tetapi ilmu kalam terbagi menjadi dua bagian: ilmu kalam yang terpuji dan ilmu kalam yang tercela. Ilmu kalam yang kedua inilah yang menyalahi aqidah Islam karena sengaja dikarang dan ditekuni oleh golongan-golongan yang sesat seperti <em>Mu’tazilah, Musyabbihah </em>(golongan yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, sepeti kaum Wahabiyyah) dan ahli bid’ah lainnya. Adapun ilmu kalam yang terpuji ialah ilmu kalam yang dipelajari oleh Ahlussunah untuk membantah golongan yang sesat. Dikatakan terpuji karena pada hakekatnya ilmu kalam Ahlussunnah adalah <em>taqrir </em>dan penyajian prinsip-prinsip aqidah dalam formatnya yang sistematis dan argumentatif; dilengkapi dengan dalil-dalil naqli dan aqli.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Dasar-dasar ilmu kalam ini telah ada di kalangan para sahabat. Di antaranya, sahabat ‘Ali ibn Abi Thalib dengan argumentasinya yang kuat dapat mengalahkan golongan <em>Khawarij, Mu’tazilah </em>juga dapat membantah empat puluh orang yahudi yang meyakini bahwa Allah adalah <em>jism </em>(benda). Demikian pula sahabat ‘Abdullah ibn Abbas, al-Hasan ibn ‘Ali ibn Abi Thalib dan ‘Abdullah ibn Umar juga membantah kaum <em>Mu’tazilah. </em>Sementara dari kalangan <em>tabi’in</em>; imam al-Hasan al-Bashri, imam al-Hasan ibn Muhamad ibn al-Hanafiyyah; cucu <em>sayyidina </em>Ali ibn Abi Thalib dan khalifah Umar ibn Abdul Aziz juga pernah membantah kaum <em>Mu’tazilah</em>. Kemudian juga para imam dari empat madzhab; imam Syafi’i, imam Malik, imam Abu Hanifah, dan imam Ahmad juga menekuni dan menguasai ilmu kalam ini. Sebagaimana dituturkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi (W 429 H) dalam kitab <em>Ushul ad-Din, </em>al-Hafizh Abu al-Qasim ibn ‘Asakir (W 571 H) dalam kitab<em>Tabyin Kadzib al Muftari, </em>al-Imam az-Zarkasyi (W 794 H) dalam kitab <em>Tasynif al- Masami’ </em>dan <em>al ‘Allamah </em>al Bayyadli (W 1098 H) dalam kitab <em>Isyarat al-Maram </em>dan lain-lain.</strong></p>
<p><strong>Allah berfirman:</strong></p>
<p><strong>( (فَاعلَم أنه لاَ إله إلاَّ اللهُ واست غفر لذَنبِك) (مح  مد: 19</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Maknanya: <em>“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak</em></strong></p>
<p><strong><em>disembah) kecuali Allah dan mohonlah ampun atas dosamu”</em>. (Q.S. Muhammad :19)</strong></p>
<p><strong>Ayat ini dengan sangat jelas mengisyaratkan keutamaan ilmu <em>ushul </em>atau tauhid.</strong></p>
<p><strong>Yaitu dengan menyebut kalimah tauhid <em>(la ilaha illallah) </em>lebih dahulu dari pada</strong></p>
<p><strong>perintah untuk beristighfar yang merupakan <em>furu’ </em>(cabang) agama. Ketika Rasulullah r ditanya tentang sebaik-baiknya perbuatan, beliau menjawab:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>“إيمانٌ بِاللهِ ور  سوله” (رواه البخارِ  ي)</strong></p>
<p><strong>Maknanya: <em>“Iman kepada Allah dan rasul-Nya”. </em>(H.R. Bukhari)</strong></p>
<p><strong>Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah r mengkhususkan dirinya sebagai orang</strong></p>
<p><strong>yang paling mengerti dan faham ilmu tauhid, beliau bersabda:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>“أنا أعلَ  م ُ كم بِاللهِ وأخشا ُ كم لَه” (رواه البخارِ  ي)</strong></p>
<p><strong>Maknanya: <em>“Akulah yang paling mengerti di antara kalian tentang Allah dan paling takut kepada-Nya”. </em>(H.R. Bukhari)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Karena itu, sangat banyak ulama yang menulis kitab-kitab khusus mengenai penjelasan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah ini. Seperti <em>Risalah al-’Aqidah ath- Thahawiyyah </em>karya al-Imam <em>as-Salafi </em>Abu Ja’far ath-Thahawi (W 321 H), kitab <em>al‘Aqidah an-Nasafiyyah </em>karangan al Imam ‘Umar an-Nasafi (W 537 H), <em>al-‘Aqidah al-Mursyidah </em>karangan al-Imam Fakhr ad-Din ibn ‘Asakir (W 630 H), <em>al ‘Aqidah ash-Shalahiyyah </em>yang ditulis oleh al-Imam Muhammad ibn Hibatillah al-Makki (W 599H); beliau menamakannya <em>Hadaiq al-Fushul wa Jawahir al Uqul, </em>kemudianmenghadiahkan karyanya ini kepada sultan Shalahuddin al-Ayyubi (W 589 H).Tentang risalah aqidah yang terakhir disebutkan, sultan Shalahuddin sangat tertarik dengannya hingga beliau memerintahkan untuk diajarkan sampai kepada anakanak kecil di madrasah-madrasah, yang akhirnya risalah aqidah tersebut dikenal</strong></p>
<p><strong>dengan nama <em>al ‘Aqidah ash-Shalahiyyah. </em>Sulthan Shalahuddin adalah seorang <em>‘alim </em>yang bermadzhab Syafi’i, mempunyai perhatian khusus dalam menyebarkan <em>al ‘Aqidah as-Sunniyyah. </em>Beliau memerintahkan para <em>muadzdzin </em>untuk mengumandangkan <em>al ‘Aqidah as-Sunniyyah </em>di waktu <em>tasbih </em>(sebelum adzan shubuh) pada setiap malam di Mesir, seluruh negara Syam (Syiria, Yordania, Palestina dan Lebanon), Mekkah, Madinah, dan Yaman sebagaimana dikemukakan oleh <em>al Hafizh </em>as-Suyuthi (W 911 H) dalam <em>al Wasa-il ila Musamarah al Awa-il </em>dan lainnya. Sebagaimana banyak terdapat buku-buku yang telah dikarang dalam menjelaskan <em>al ‘Aqidah as-Sunniyyah </em>dan senantiasa penulisan itu terus berlangsung.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kita memohon kepada Allah semoga kita meninggal dunia dengan membawa aqidah Ahlissunah Wal Jamaah yang merupakan aqidah para nabi dan rasul Allah. <em>Amin</em>. </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KOMENTAR PARA ULAMA TENTANG AQIDAH ASY’ARIYYAH; AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>As-Subki dalam Thabaqatnya berkata: “Ketahuilah bahwa Abu al-Hasan al-Asy’ari tidak membawa ajaran baru atau madzhab baru, beliau hanya menegaskan kembali madzhab salaf, menghidupkan ajaran-ajaran sahabat Rasulullah. Penisbatan nama kepadanya karena beliau konsisten dalam berpegang teguh ajaran salaf, hujjah (argumentasi) yang beliau pakai sebagai landasan kebenaran aqidahnya juga tidak keluar dari apa yang menjadi hujjah para pendahulunya, karenanya para pengikutnya kemudian disebut Asy’ariyyah. Abu al-Hasan al-Asy’ari bukanlah ulama yang pertama kali berbicara tentang Ahlussunnah wal Jama’ah, ulama-ulama sebelumya juga banyak berbicara tentang Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau hanya lebih memperkuat ajaran salaf itu dengan argumen-argumen yang kuat. Bukankah penduduk kota Madinah banyak dinisbatkan kepada Imam Malik, dan pengikutnya disebut al Maliki. Ini bukan berarti Imam Malik membawa ajaran baru yang sama sekali tidak ada pada para ulama sebelumnya, melainkan karena Imam Malik menjelaskan ajaran-ajaran lama dengan penjelasan yang lebih rinci dan sistematis..demikian juga yang dilakukan oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari”.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Habib Abdullah ibn Alawi al-Haddad menegaskan bahwa “kelompok yang benar adalah kelompok Asy’ariyah yang dinisbatkan kepada Imam Asy’ari. Aqidahnya juga aqidah para sahabat dan tabi’in, aqidah ahlul haqq dalam setiap masa dan tempat, aqidahnya juga menjadi aqidah kaum sufi sejati. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Imam Abul Qasim al-Qusyayri. Dan alhamdulillah aqidahnya juga menjadi aqidah kami dan saudara-saudara kami dari kalangan habaib yang dikenal dengan keluarga Abu Alawi, juga aqidah para pendahulu kita. Kemudian beliau melantunkan satu bait sya’ir:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>وكن أشعريا في اعتقادك إنه هو المنهل الصافي عن الزيغ والكفر</strong></p>
<p><strong>“<em>Jadilah pengikut al Asy’ari dalam aqidahmu, karena ajarannya adalah sumber yang</em></strong></p>
<p><strong><em>bersih dari kesesatan dan kekufuran</em>“.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ibnu ‘Abidin al Hanafi mengatakan dalam <em>Hasyiyah Radd al Muhtar ‘ala ad-Durr al Mukhtar : </em>“Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah <em>al Asya’irah </em>dan <em>al Maturidiyyah</em>“. Dalam kitab ‘<em>Uqud al Almas </em>al Habib Abdullah Alaydrus al Akbar mengatakan :</strong></p>
<p><strong>“Aqidahku adalah aqidah Asy’ariyyah Hasyimiyyah Syar’iyyah sebagaimana aqidah</strong></p>
<p><strong>para ulama madzhab syafi’i dan Kaum Ahlussunnah Shufiyyah”.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Bahkan jauh sebelum mereka ini Al Imam al ‘Izz ibn Abd as-Salam mengemukakan bahwa aqidah al Asy’ariyyah disepakati oleh kalangan pengikut madzhab Syafi’i, madzhab Maliki, madzhab Hanafi dan orang-orang utama dari madzhab Hanbali (Fudlala al Hanabilah). Apa yang dikemukakan oleh al ‘Izz ibn Abd as-Salam ini disetujui oleh para ulama di masanya, seperti Abu ‘Amr Ibn al Hajib (pimpinan ulama Madzhab</strong></p>
<p><strong>Maliki di masanya), Jamaluddin al Hushayri pimpinan ulama Madzhab Hanafi di masanya, juga disetujui oleh al Imam at-Taqiyy as-Subki sebagaimana dinukil oleh putranya Tajuddin as-Subki.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>GARIS BESAR AQIDAH ASY’ARIYYAH</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Secara garis besar aqidah asy’ari yang juga merupakan aqidah ahlussunnah wal jama’ah adalah meyakini bahwa Allah ta’ala maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, Allah bukanlah benda yang bisa digambarkan juga bukan benda yang berbentuk dan berukuran. Allah tidak serupa dengan sesuatupun dari makhluk-Nya (<em>laysa kamitslihi syai’). </em>Allah ada dan tidak ada permulaan atau penghabisan bagi ada-Nya, Allah maha kuasa dan tidak ada yang melemahkan-Nya, serta Ia tidak diliputi arah. Ia ada sebelum menciptakan tempat tanpa tempat, Iapun ada setelah menciptakan tempat tanpa tempat. tidak boleh ditanyakan tentangnya kapan, dimana dan bagaimana ada-Nya. Ia ada tanpa terikat oleh masa dan tempat. Maha suci Allah dari bentuk (batasan), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar dan anggota badan yang kecil. Ia tidak diliputi satu arah atau enam arah penjuru. Ia tidak seperti makhluk-Nya. Allah maha suci dari duduk, bersentuhan, bersemayam, menyatu dengan makhluk-Nya, berpindah-pindah dan sifat-sifat makhluk lainnya.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ia tidak terjangkau oleh fikiran dan Ia tidak terbayang dalam ingatan, karena apapun yang terbayang dalam benakmu maka Allah tidak seperti itu. Ia maha hidup, maha mengetahui, maha kuasa, maha mendengar dan maha melihat. Ia berbicara dengan kalam-Nya yang azali sebagaimana sifat-sifat-Nya yang lain juga azali, karena Allah berbeda dengan semua makhluk-Nya dalam dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Barang siapa menyifati Allah dengan sifat makhluknya sungguh ia telah kafir.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Allah yang telah menciptakan makhluk dan perbuatan-perbuatan-Nya, Ia juga yang mengatur rizki dan ajal mereka. Tidak ada yang bisa menolak ketentuan-Nya dan tidak ada yang bisa menghalangi pemberian-Nya. Ia berbuat dalam kerajaan-Nya ini apa yang Ia kehendaki. Ia tidak ditanya perihal perbuatan-Nya melainkan hamba-Nyalah yang akan diminta pertanggungjawaban atas segala perbuatan-Nya. Apa yang Ia kehendaki pasti terlaksana dan yang tidak Ia kehendaki tidak akan terjadi. Ia disifati dengan kesempurnaan yang pantas bagi-Nya dan Ia maha suci dari segala bentuk kekurangan. Nabi Muhammad adalah penutup para nabi dan penghulu para rasul. Ia diutus Allah ke muka bumi ini untuk semua penduduk bumi, jin maupun manusia. Ia jujur dalam setiap apa yang disampaikannya. []</strong></p>
<p><strong>Tidak Semua Yang Baru Itu Sesat Pemberian titik dan syakal pada mushaf itu tidak ada pada masa Rasul dan Rasul tidak pernah memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk melakukan itu, tapi sampai saat ini tidak ada yang berani mengatakan itu sesat dan yang sesat masuk neraka. Demikian juga adzan kedua pada hari jum’at yang dirintis pertama kali oleh sahabat Utsman ibn Affan karena melihat umat Islam sudah semakin banyak. Pada masa Rasul, Abu Bakar dan Umar adzan pada hari jum’at hanya dilakukan sekali ketika khatib naik mimbar, kemudian pada masa Utsman adzan ditambah sebelum khatib naik mimbar. Adzan yang pertama ditujukan untuk memperingatkan umat bahwa waktu dzuhur sudah masuk dan bersegera untuk meninggalkan aktifitas duniawinya dan datang ke masjid. Apakah kemudian Utsman disebut ahli bid’ah?! Bukankah Rasulullah telah memberikan keleluasan (<em>rukhshah</em>) kepada umatnya untuk berinovasi dalam hal kebaikan?! dalam haditsnya Rasul bersabda: <em>“Barang siapa merintis perkara baru yang baik dalam Islam maka ia mendapatkan pahala dari upayanya serta pahala orang yang menjalankannya” </em>.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Seiring dengan perkembangan zaman tentu kebutuhan umat manusia semakin banyak lebih banyak dari masa Rasul dan sahabat, tidak ada salahnya kalau kita memanfaatkan fasilitas-fasilitas teknologi yang telah tercipta itu untuk mempermudah kepentingan kita beribadah kepada Allah. Karena tidak semua yang baru itu salah dan menyesatkan. </strong></p>
<p><strong>Selamat membaca.</strong></p>
<p>Kenali aqidah ahlusunnah aqidah mayoriti ummat islam selama 15 abad,</p>
<p><strong><a href="http://darulfatwa.org.au/languages/Indonesian/Kitab_Al-%5EAqidah_print3.pdf">DOWNLOAD KITAB ALHUSUNNAH (KLIK SAJA!)</a></strong></p>
<p>*******************************************************************************************************************</p>
<p>Memalsukan pendapat ulama adalah darah daging agama wahaby.</p>
<p>mari kita buktikan bahwa kitab-kitab tafsir alqur’an yang mu’tabar adalh membantah pendapat mereka…dan rujukan-rujukan yang mereka buat adalah bathil :</p>
<p><strong>ahlusunnah menta’wil ayat mutasyabihat</strong></p>
<p>Ta’wil bererti menjauhkan makna dari segi zahirnya kepada makna yang lebih layak bagi Allah, ini kerana zahir makna nas al-Mutasyabihat tersebut mempunyai unsur jelas persamaan Allah dengan makhluk. Dalil melakukan ta’wil ayat dan hadis  mutasyabihat:</p>
<p>Rasulullah berdoa kepada Ibnu Abbas dengan doa: J لكتا  يل  تأ  لحكمة  لهم علمه – ل<br />
<em>Maknanya: “Ya Allah alimkanlah dia hikmah dan takwil Al quran” H.R Ibnu Majah. (Sebahagian ulamak salaf termasuk Ibnu Abbas<br />
mentakwil ayat-ayat mutasyabihah)</em></p>
<p><strong>Ta’wilan pula ada dua,</strong></p>
<p><strong>Pertama: Ta’wilan Ijmaliyy iaitu ta’wilan yang dilakukan secara umum dengan menafikan makna zahir nas al-Mutasyabihat tanpa diperincikan maknanya.</strong></p>
<p>sebagai contoh perkataan istawa dikatakan istawa yang layak bagi Allah dan waktu yang sama dinafikan zahir makna istawa kerana zahirnya bererti duduk dan bertempat, Allah mahasuci dari bersifat duduk dan bertempat.</p>
<p><strong>Manakala kedua adalah: Ta’wilan Tafsiliyy iaitu ta’wilan yang menafikan makna zahir nas tersebut kemudian meletakkan makna yang layak bagi Allah.<br />
seperti istawa bagi Allah bererti Maha Berkuasa kerana Allah sendiri sifatkan dirinya sebagai Maha Berkuasa.</strong></p>
<p><strong>A. Tafsir Makna istiwa Menurut Kitab Tafsir Mu’tabar</strong><br />
lihat dalam tafsir berikut :</p>
<p>Sekarang akan disebutkan sebahagian penafsiran lafaz istawa dalam surah ar Ra’d:</p>
<p>1- Tafsir Ibnu Kathir:</p>
<p>(ثم استوى على العرش ) telah dijelaskan maknanya sepertimana pada tafsirnya surah al Araf, sesungguhnya ia ditafsirkan tanpa kaifiat(bentuk) dan penyamaan</p>
<p>Disini Ibnu Katsir mengunakan ta’wil ijtimalliy  iaitu ta’wilan yang dilakukan secara umum dengan menafikan makna zahir nas al-Mutasyabihat tanpa diperincikan maknanya.  sebenarnya memahami makna istiwa ini sebenarnya.</p>
<p>وأما قوله تعالى: {ثم استوى على العرش} فللناس في هذا المقام مقالات كثيرة جداً، ليس هذا موضع بسطها، وإنما نسلك في هذا المقام مذهب السلف الصالح مالك والأوزاعى والثوري والليث بن سعد والشافعي و أحمد وإسحاق راهويه وغيرهم من أئمة المسلمين قديما وحديثا وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولا تعطيل، والظاهر المتبادر إلى أذهان المشبهين منفي عن اللّه فإن اللّه لا يشبهه شيء من خلقه و{ليس كمثله شيء وهو السميع البصير}، بل الأمر كما قال أئمة منهم نعيم بن حماد الخزاعي شيخ البخاري قال: من شبَّه اللّه بخلقه كفر، ومن جحد ما وصف اللّه به نفسه فقد كفر، وليس فيما وصف اللّه به نفسه ولا رسوله تشبيه فمن أثبت للّه تعالى ما وردت به الآيات الصريحة والأخبار الصحيحة على الوجه الذي يليق بجلال اللّه ونفي عن الله تعالى النقائص قد سلك سبيل الهدى</p>
<p>“Dan adapun firman-Nya: “Kemudian Dia istiwa di atas ‘arsy”, Orang-orang mempunyai berbagai pendapat yang sangat banyak dalam hal ini, dan bukan ini tempatnya perinciannya. Hanyasaja dalam hal ini kami menapaki (meniti) cara yang dipakai oleh madzhab Salaf al-Shalih, (seperti) Malik, al-Auza’i, al-Laits bin Sa’ad, al-Syafi’i, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan  selain mereka dari para imam kaum muslimin yang terdahulu maupun kemudian, <strong>yakni membiarkan (lafadz)nya seperti apa yang telah datang (maksudnya tanpa memperincikan maknanya)tanpa takyif  (bagaimana, gambaran), tanpa tasybih (penyerupaan), dan tanpa ta’thil (menafikan).</strong> <em>Zhahirnya apa yang mudah ditangkap oleh musyabbih (orang yang melakukan tasybih) adalah hal yang tidak ada bagi Allah, karena sesungguhnya Allah tidak ada sesuatupun dari makhluk-Nya yang menyerupai-Nya, dan “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [al-Syura: 11].</em> Bahkan perkaranya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh para imam, diantaranya Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i, guru al-Bukhari, ia berkata: “Siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, ia telah kafir, dan siapa yang mengingkari apa yang Allah mensifati diri-Nya, maka ia kafir, dan bukanlah termasuk tasybih (penyerupaan) orang yang menetapkan bagi Allah Ta’ala apa yang Dia mensifati diri-Nya dan Rasul-Nya dari apa yang telah datang dengannya ayat-ayat yang sharih (jelas/ayat mukamat) dan berita-berita (hadits) yang shahih dengan (pengertian) sesuai dengan keagungan Allah dan menafikan dari Allah sifat-sifat yang kurang; berarti ia telah menempuh hidayah.”</p>
<p>Inilah selengkapnya dari penjelasan Ibnu Katsir.Berdasarkan penjelasan ibnu katsir :</p>
<p>- ibnu katsir mengakui ayat ‘istiwa’ adalah ayat mutasyabihat yang tidak boleh memegang makna dhahir dari ayat mutasyabihat tapi mengartikannya dengan ayat dan hadis yang jelas (muhkamat) bukan mengartikannya dengan ayat-dan hadis mutasyabihat.</p>
<p>وقَالَ الإِما م َأحمد الرفَاعي الْمتوفَّى سنةَ 578 ه : “صونوا<br />
عقَائدكُم من التمسك ِبظَاهرِ ما تشابه من الْكتابِ والسنة فَإِنَّ<br />
ذلك من ُأصولِ الْكُفْرِ”.<br />
<strong>Al Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H) dalam al Burhan al Muayyad berkata: “Jagalah aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada zhahir ayat al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam yang mutasyabihat sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran”.</strong></p>
<p>- jadi ibnu katsir tidak memperincikan maknanya tapi juga tidak mengambil makna dhahir ayat tersebut.</p>
<p>- disitu imam ibnu katsir, imam Bukhari dan imam ahlsunnah lainnya  tidak melarang ta’wil.</p>
<p><em>“…dan  selain mereka dari para imam kaum muslimin yang terdahulu maupun kemudian, <strong>yakni membiarkan (lafadz)nya seperti apa yang telah datang (maksudnya tanpa memperincikan maknanya)tanpa takyif  (bagaimana, gambaran), tanpa tasybih (penyerupaan), dan tanpa ta’thil (menafikan)….”</strong></em></p>
<p>sedangkan wahaby melarang melakukan tanwil!</p>
<p>Bukti imam Bukhari, imam Ahmad dan lainnya melakukan ta’wil ayat mutasyabihat akan dijelaskan pada point E.</p>
<p>2- Tafsir al Qurtubi</p>
<p>(ثم استوى على العرش ) dengan makna penjagaan dan penguasaan</p>
<p>3- Tafsir al-Jalalain</p>
<p>(ثم استوى على العرش ) istiwa yang layak bagi Nya</p>
<p>4- Tafsir an-Nasafi Maknanya:</p>
<p>makna ( ثم استوى على العرش) adalah menguasai Ini adalah sebahagian dari tafsiran , tetapi banyak lagi tafsiran-tafsiran ulamak Ahlu Sunnah yang lain…</p>
<p><strong>B. Makna istiwa yang dikenal dalam bahasa arab dan dalam kitab-kitab Ulama salaf<br />
</strong><br />
Di dalam kamus-kamus arab yang ditulis oleh ulama’ Ahlu Sunnah telah menjelaskan istiwa datang dengan banyak makna, diantaranya:</p>
<p>1-masak (boleh di makan) contoh:</p>
<p>قد استوى الطعام—–قد استوى التفاح maknanya: makanan telah masak—buah epal telah masak</p>
<p>2- التمام: sempurna, lengkap</p>
<p>3- الاعتدال : lurus</p>
<p>4- جلس: duduk / bersemayam,</p>
<p>contoh: – استوى الطالب على الكرسي : pelajar duduk atas kerusi -استوى الملك على السرير : raja bersemayam di atas katil</p>
<p>5- استولى : menguasai,</p>
<p>contoh: قد استوى بشر على العراق من غير سيف ودم مهراق</p>
<p>Maknanya: Bisyr telah menguasai Iraq, tanpa menggunakan pedang dan penumpahan darah.</p>
<p>Al Hafiz Abu Bakar bin Arabi telah menjelaskan istiwa mempunyai hampir 15 makna, diantaranya: tetap,sempurna lurus menguasai, tinggi dan lain-lain lagi, dan banyak lagi maknannya. Sila rujuk qamus misbahul munir, mukhtar al-Sihah, lisanul arab, mukjam al-Buldan, dan banyak lagi. Yang menjadi masalahnya, kenapa si penulis memilih makna bersemayam. Adakah makna bersemayam itu layak bagi Allah?, apakah dia tidak tahu bersemayam itu adalah sifat makhluk? Adakah si penulis ini tidak mengatahui bahawa siapa yang menyamakan Allah dengan salah satu sifat daripada sifat makhluk maka dia telah kafir?</p>
<p>sepertimana kata salah seorang ulama’ Salaf Imam at Tohawi (wafat 321 hijrah):</p>
<p>ومن وصف الله بمعنى من معانى البشر فقد كفر</p>
<p>Maknanya: barang siapa yang menyifatkan Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia maka dia telah kafir. Kemudian ulama’-ulama’ Ahlu Sunnah telah menafsirkan istiwa yang terkandung di dalam Al quran dengan makna menguasai arasy kerana arasy adalah makhluk yang paling besar, oleh itu ia disebutkan dalam al Quran untuk menunjukkan kekuasaan Allah subhanahu wata’ala sepertimana kata-kata Saidina Ali yang telah diriwayatkan oleh Imam Abu Mansur al-Tamimi dalam kitabnya At-Tabsiroh:</p>
<p>ان الله تعالى خلق العرش اظهارا لقدرته ولم يتخذه مكان لذاته</p>
<p>Maknanya: Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mencipta al-arasy untuk menzohirkan kekuasaanya, bukannya untuk menjadikan ia tempat bagi Nya.</p>
<p>Allah ada tanpa tempat dan arah adalah aqidah salaf yang lurus.<br />
Hukum Orang yang meyakini Tajsim; bahwa Allah adalah Benda</p>
<p>Syekh Ibn Hajar al Haytami (W. 974 H) dalam al Minhaj al<br />
Qawim h. 64, mengatakan: “Ketahuilah bahwasanya al Qarafi dan lainnya meriwayatkan perkataan asy-Syafi’i, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah – semoga Allah meridlai mereka- mengenai pengkafiran mereka terhadap orangorang yang mengatakan bahwa Allah di suatu arah dan dia adalah benda, mereka pantas dengan predikat tersebut (kekufuran)”.</p>
<p>Al Imam Ahmad ibn Hanbal –semoga Allah meridlainyamengatakan:<br />
“Barang siapa yang mengatakan Allah adalah benda, tidak seperti benda-benda maka ia telah kafir” (dinukil oleh Badr ad-Din az-Zarkasyi (W. 794 H), seorang ahli hadits dan fiqh bermadzhab Syafi’i dalam kitab Tasynif al Masami’ dari pengarang kitab al Khishal dari kalangan pengikut madzhab Hanbali dari al Imam Ahmad ibn Hanbal).</p>
<p>Al Imam Abu al Hasan al Asy’ari dalam karyanya an-Nawadir mengatakan : “Barang siapa yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda maka ia telah kafir, tidak mengetahui Tuhannya”.</p>
<p>As-Salaf ash-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua Sifat-sifat Makhluk</p>
<p>الْموُلود سنةَ 227 ه t  16 . قَالَ اْلإِمام َأبو جعفَرٍ الطَّحاوِي<br />
والْمتوفَّى سنةَ 321 ه : “تعالَى (يعنِي الله) عنِ الْحدود<br />
والْغايات والأَركَان والأَعضاءِ والأَدوات لاَ تحوِيه الْجِهات<br />
الست كَسائرِ الْمبتدعات”.</p>
<p>Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227-321 H) berkata:<br />
“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan,<br />
kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.</p>
<p>Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).</p>
<p><strong>C.  ulamak 4 mazhab tentang aqidah </strong></p>
<p>1- Imam Abu hanifah:</p>
<p>لايشبه شيئا من الأشياء من خلقه ولا يشبهه شيء من خلقه</p>
<p>Maknanya:: (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun daripada makhlukNya, dan tidak ada sesuatu makhluk pun yang menyerupaiNya.Kitab Fiqh al Akbar, karangan Imam Abu Hanifah, muka surat 1</p>
<p>2-Imam Syafie:</p>
<p>انه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لايجوز عليه التغيير</p>
<p>Maknanya: sesungguhnya Dia Ta’ala ada (dari azali) dan tempat belum dicipta lagi, kemudian Allah mencipta tempat dan Dia tetap dengan sifatnnya yang azali itu seperti mana sebelum terciptanya tempat, tidak harus ke atas Allah perubahan. Dinuqilkan oleh Imam Al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil Muttaqin jilid 2 muka surat 23</p>
<p>3-Imam Ahmad bin Hanbal :</p>
<p>-استوى كما اخبر لا كما يخطر للبشر</p>
<p>Maknanya: Dia (Allah) istawa sepertimana Dia khabarkan (di dalam al Quran), bukannya seperti yang terlintas di fikiran manusia. Dinuqilkan oleh Imam al-Rifae dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, dan juga al-Husoni dalam kitabnya Dafu’ syubh man syabbaha Wa Tamarrad.</p>
<p>وما اشتهر بين جهلة المنسوبين الى هذا الامام المجتهد من أنه -قائل بشىء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه</p>
<p>Maknanya: dan apa yang telah masyhur di kalangan orang-orang jahil yang menisbahkan diri mereka pada Imam Mujtahid ini (Ahmad bin Hanbal) bahawa dia ada mengatakan tentang (Allah) berada di arah atau seumpamanya, maka itu adalah pendustaan dan kepalsuan ke atasnya(Imam Ahmad) Kitab Fatawa Hadisiah karangan Ibn Hajar al- Haitami</p>
<p>4- Imam Malik :</p>
<p>الاستواء غير المجهول والكيف غير المعقول والايمان به واجب و السؤال عنه بدعة</p>
<p>Maknannya: Kalimah istiwa’ tidak majhul (diketahui dalam al quran) dan kaif(bentuk) tidak diterima aqal, dan iman dengannya wajib, dan soal tentangnya bidaah.</p>
<p>lihat disini : imam malik menulis kata istiwa (لاستواء) bukan jalasa atau duduk atau bersemayam atau bertempat (istiqrar)…..</p>
<p>lihat bagaimana wahaby membodohi pengikutnya :</p>
<p>Wahaby tulis  :<br />
Imam Malik berkata “Allah <strong>bersemayam</strong>“<strong> (padahal aslinya hanya tertulis lafadaz istiwa) </strong>telah jelas kita ketahui. Bagaimana dia <strong>bersemayam</strong> <strong>(padahal aslinya hanya tertulis lafadaz istiwa) </strong>tidak akan terjangkau oleh Akal. Beriman tentang hal tsb adalah suatu kewajiban bagi kita sedangkan menanyakan bagaimana hakikatnya/kaifiyyatnya adalah termasuk bid’ah “.</p>
<p><strong>D. Dalil -dalil Allah tidak bertempat dan Berarah</strong></p>
<p>Mengenai aqidah ahlusunnah yang sangat penting dalam Bab 5 kitab al-Farq baina al-Firaq  ialah mengenai aqidah sunni “Allah ada Tanpa Tempat /Allah Maujud Bilaa Makan)<br />
كَانَ اللهُ ولَم ي ُ كن شىءٌ غَي  ره ” (رواه ” :r 2. قال رسول الله<br />
البخاري والبيهقي وابن الجارود)<br />
<strong>Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud). </strong><br />
Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).</p>
<p>Al Imam Abu Hanifah dalam kitabnya al Fiqh al Absath berkata:<br />
“Allah ta’ala ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada tempat, Dia ada sebelum menciptakan makhluk, Dia ada dan belum ada tempat, makhluk dan sesuatu dan Dia pencipta segala sesuatu”.</p>
<p>Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal, adanya Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah. Al Imam al Bayhaqi (W. 458 H) dalam kitabnya al Asma wa ash-Shifat, hlm. 506, mengatakan: “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah shalllallahu ‘alayhi wa sallam:</p>
<p>َأنت الظَّا  ه  ر فَلَيس فَوقَك شىءٌ وأَنت ” :r 3. قال رسول الله<br />
الْبا  ط  ن فَلَيس دونك شىءٌ ” (رواه مسلم وغيره)<br />
<strong>Maknanya: “Engkau azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah alBathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-Mu” (H.R. Muslim dan lainnya). </strong><br />
Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya berarti Dia tidak bertempat”.</p>
<p>Tidak Boleh dikatakan Allah ada di atas ‘Arsy atau ada di mana-mana<br />
Seperti dengan hadits yang diriwayatkan oleh al Bukhari, perkataan sayyidina Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya-:<br />
كَانَ اللهُ ولاَ مكَانَ وهو الآنَ علَى ما علَيه ” :t  5. قَالَ سيدنا علي<br />
( كَانَ” (رواه أبو منصور البغدادي في الفرق بين الفرق / ص: 333<br />
Maknanya: “Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat” (Dituturkan oleh al Imam Abu Manshur alBaghdadi dalam kitabnya al Farq bayna al Firaq h. 333).<br />
Karenanya tidak boleh dikatakan Allah ada di satu tempat atau di mana-mana, juga tidak boleh dikatakan Allah ada di satu arah atau semua arah penjuru. Syekh Abdul Wahhab asy-Sya’rani (W. 973 H) dalam kitabnya al Yawaqiit Wa al Jawaahir menukil perkataan Syekh Ali al Khawwash: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di mana-mana”. Aqidah yang mesti diyakini bahwa Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat.<br />
ِإنَّ اللهَ خلَق الْعرش ِإظْهارا لقُدرته وَلم ” :t  6. وقَالَ سيدنا علي<br />
يتخذْه مكَانا لذَاته” (رواه أبو منصور البغدادي في الفرق بين<br />
( الفرق/ ص : 333<br />
Al Imam Ali -semoga Allah meridlainya- mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untukmenjadikannya tempat bagi Dzat-Nya” (diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq bayna al Firaq, hal. 333)</p>
<p>ِإنَّ الَّذي َأين اْلأَين لاَ يقَا ُ ل َله َأين وِإنَّ “: t  7. قَالَ سيدنا علي<br />
الَّذي كَيف الْكَيف لاَ يقَا ُ ل َله كَيف” (رواه أبو المظفّر الإسفراييني<br />
( في كتابه التبصير في الدين/ ص: 98<br />
Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- juga mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya yang menciptakan ayna (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kayfa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana” (diriwayatkan oleh Abu al Muzhaffar al Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, hal. 9</p>
<p>A llah Maha suci dari Hadd</p>
<p>َالْمحدود عند علَماءِ التوحيد ما َله حجم صغيرا كَانَ َأو كَبِيرا<br />
والْحد عندهم هو الْحجم ِإنْ كَانَ صغيرا وِإنْ كَانَ كَبِيرا، َالذَّرةُ<br />
محدودةٌ والْعرش محدود والنور والظَّلاَم والريح كُلٌّ محدود.<br />
Maknanya: Menurut ulama tauhid yang dimaksud al mahdud (sesuatu yang berukuran) adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk baik kecil maupun besar. Sedangkan pengertian al hadd (batasan) menurut mereka adalah bentuk baik kecil maupun besar. Adz-Dzarrah (sesuatu yang terlihat dalam cahaya matahari yang masuk melalui jendela) mempunyai ukuran demikian juga ‘Arsy, cahaya, kegelapan dan angin masing-masing mempunyai ukuran.<br />
من زعم َأنَّ ِإلهَنا محدود فَقَد جهِلَ الْخالق ” :t  9. قَالَ اْلإِما م علي<br />
الْمعبود” (رواه أبو نعيم)</p>
<p>Al Imam Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- berkata yang maknanya: “Barang siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)” (diriwayatkan oleh Abu Nu’aym (W. 430 H) dalam Hilyah al Auliya’, juz I hal. 72).</p>
<p>Maksud perkataan sayyidina Ali tersebut adalah sesungguhnya berkeyakinan bahwa Allah adalah benda yang kecil atau berkeyakinan bahwa Dia memiliki bentuk yang meluas tidak berpenghabisan merupakan kekufuran. Semua bentuk baik Lathif maupun Katsif, kecil ataupun besar memiliki tempat dan arah serta ukuran. Sedangkan Allah bukanlah benda dan tidak disifati dengan sifat-sifat benda, karenanya ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah mengatakan: “Allah ada tanpa tempat dan arah serta tidak mempunyai ukuran, besar maupun kecil”. Karena sesuatu yang memiliki tempat dan arah pastilah benda. Juga tidak boleh dikatakan tentang Allah bahwa tidak ada yang mengetahui tempat-Nya kecuali Dia. Adapun tentang benda Katsif bahwa ia mempunyai tempat, hal ini jelas sekali. Dan mengenai benda lathif bahwa ia mempunyai tempat, penjelasannya adalah bahwa ruang kosong yang diisi oleh benda lathif, itu adalah tempatnya. Karena definisi tempat adalah ruang kosong yang diisi oleh suatu benda.<br />
قَالَ اْلإِمام ال  سجا  د علي بن الْحسينِ بنِ علي بنِ َأِبي طَالبٍ<br />
َأنت اللهُ الَّذي لاَ يحوِيك ” : t  الْمعروف ِبزينِ الْعابِدين<br />
مكَانٌ”، وقَالَ: “َأنت اللهُ الَّذي لاَ تحد فَتكُونَ محدودا”، وقَالَ:<br />
“سبحانك لاَ تحس ولاَ تجس ولاَ تمس”. (رواه الحافظ<br />
الزبيدي)</p>
<p>Al Imam As-Sajjad Zayn al ‘Abidin ‘Ali ibn al Husain ibn ‘Aliibn Abi Thalib (38 H-94 H) berkata : “Engkaulah Allah yang tidak diliputi tempat”, dan dia berkata: “Engkaulah Allah yang Maha suci dari hadd (benda, bentuk, dan ukuran)”, beliau juga berkata : “Maha suci Engkau yang tidak bisa diraba maupun disentuh” yakni bahwa Allah tidak menyentuh sesuatupun dari makhluk-Nya dan Dia tidak disentuh oleh sesuatupun dari makhluk-Nya karena Allah bukan benda. Allah Maha suci dari sifat berkumpul, menempel, berpisah dan tidak berlaku jarak antara Allah dan makhluk-Nya karena Allah bukan benda dan Allah ada tanpa arah. (Diriwayatkan oleh al Hafizh az-Zabidi dalam al Ithaf dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah Ahl al Bayt; keturunan Rasulullah). Hal ini juga sebagai bantahan terhadap orang yang berkeyakinan Wahdatul Wujud dan Hulul.</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>E. Bukti imam -imam  (imam Bukhari, Ahmad, Nawawi dsb) ahlusunnah menta’wil ayat Mutasyabihat</strong></p>
<p>1. LAFADZ “MAN FISSAMA-I DALAM ALMULK 16 “</p>
<p>Makna firman Allah :<br />
أَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ<br />
(Al-Mulk:16)</p>
<p>Jawab:<br />
<strong>1. Dalam Tafsir Al Bahr al Muhith  dan Kitab “Amali (Imam Al-Hafiz Al-‘Iraqi )</strong></p>
<p>Pakar tafsir, al Fakhr ar-Razi dalam tafsirnya dan Abu<br />
Hayyan al Andalusi dalam tafsir al Bahr al Muhith mengatakan:</p>
<p>“Yang  dimaksud <strong>مَّن فِي السَّمَاء (man fissama-i)</strong> dalam ayat tersebut adalah malaikat”.</p>
<p>Ayat  tersebut tidak bermakna bahwa Allah bertempat di langit. Perkataan <strong>‘man’</strong> iaitu ‘siapa’ dalam ayat tadi bererti <strong>malaikat bukan bererti Allah berada dan bertempat  dilangit</strong>.  Ia berdasarkan kepada ulama Ahli Hadith yang menjelaskannya iaitu Imam Al-Hafiz Al-‘Iraqi dalam Kitab Amali  bahawa “<strong>Perkataan ‘siapa’ pada ayat tersebut bererti malaikat”.<br />
</strong><br />
Kemudian, yang berada dilangit dan bertempat dilangit bukanlah Allah tetapi para malaikat berdasarkan hadith Nabi bermaksud: <strong>“ Tidaklah di setiap langit itu kecuali pada setiap empat jari terdapat banyak para malaikat melakukan qiyam, rukuk atau sujud ”. Hadith Riwayat Tirmizi.</strong></p>
<p>Ketahuilah bahawa tempat tinggal para malaikat yang mulia adalah di langit pada setiap langit penuh dengan para malaikat manakala bumi terkenal dengan tempat tinggal manusia dan jin. Maha suci Allah dari bertempat samaada di langit mahupun di bumi.</p>
<p>Banyak hadis dan ayat yang menyebutkan <strong>man fissamawati</strong> (yang dilangit), <strong>penduduk langit</strong> dan sebagainya, tapi itu semua adalah para malaikat. Seperti dalamsurat al-ra’du ayat 15 (ayat sajadah) :<br />
“walillahi yasjudu<strong> man fissamawati</strong> wal’ardhi thau’an wa karhan wa dhilaaluhum bil ghuduwwi wal aashaal”</p>
<p>artinya : “<strong>Apa yang di langit</strong> dan Bumi, semuanya tunduk kepada Allah, mau atau tidak mau, demikian juga bayang-bayang mereka diwaktu pagi dan petang (QS arra’du ayat 15)</p>
<p>Dalam Tafsir jalalain (halaman 201, darul basyair, damsyik) :<br />
“Apa yang di langit (<strong>man fisamawati</strong>) dan Bumi, semuanya tunduk kepada Allah, mau” (adalah seperti orang beriman) “atau tidak mau” (sperti orang munafiq dan orang yang ditakut-takuti (untuk sujud)  dengan pedang).</p>
<p>Dalam kitab ihya ulumuddin (jilid I, bab Kitab susunan wirid dan uraian menghidupkan malam) ayat ini merupakan salah satu wirid yang dibaca pada pada waktu petang.</p>
<p><strong>2. Dalam Tafsir qurtubi<br />
</strong>Al-Qurtubi dalam kitab tafsirnya turut menjelaskan perkara yang sama bila mentafsirkan ayat tersebut. <strong>Sekiranya ingin dimaksudkan dari perkataan ‘man’ (siapa) dalam ayat tadi itu adalah ‘Allah’ maka tidak boleh dikatakan keberadaan Allah itu di langit kerana Allah tidak memerlukan langit tetapi memberi erti ‘kerajaan Allah’ BUKAN ‘zat Allah’. Maha suci Allah dari sifat makhlukNya.<br />
</strong><br />
<strong>3. Dalam tafsir jalalain ((penerbit darul basyair, damsyiq,halaman 523)<br />
</strong><br />
Imam suyuthi rah mengatakan :<br />
“Yang dimaksud مَّن فِي السَّمَاء (man fissama-i) dalam ayat tersebut adalah <strong>kekuasaan/kerajaan dan qudrat-Nya (Shulthonihi wa qudratihi )<br />
jadi yang dilangit adalah kekuasaan dan qudratnya (Shulthonihi wa qudratihi ) bukan dzat Allah<br />
</strong><br />
sehingga penafsiran yang betul (dalam tafsir jalalain dan qurtubi) :</p>
<p>أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ</p>
<p>Apakah kamu merasa aman dengan Allah yang di langit (kekuasaan dan qudratnya) bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, (Al-Mulk:16)</p>
<p>أَمْ أَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ</p>
<p>atau apakah kamu merasa aman dengan Allah <strong>yang di langit (kekuasaan dan qudratnya bukan dzat-Nya)</strong> bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? (Al-Mulk:17)</p>
<p>2. MAKNA LAFADZ “WAJAH-NYA (WAJHAHU)”</p>
<p>[كُل�'ُ شىءٍ ه�</p>
<p>artinya : <strong>"Segala sesuatu akan hancur kecuali wajah-Nya"</strong></p>
<p>Maknalafadz <em>illa wajhahu</em> (kecuali wajah-Nya)</p>
<p>al Imam al Bukhari berkata: [ ِإلا�'َ وجهه ] “kecuali <strong>sulthan </strong><br />
(tasharruf  atau <strong>kekuasaan</strong>-) Allah”.</p>
<p>Al Imam Sufyan ats-Tsauri mengatakan: “…<strong>Kecuali amal shaleh yang dilakukan hanya untuk mengharap ridla Allah”. </strong></p>
<p>3. Makna Hadits Jariyah (fissama-i)</p>
<p>Sedangkan salah satu riwayat hadits Jariyah yang zhahirnya memberi<br />
persangkaan bahwa Allah ada di langit, maka hadits tersebut tidak<br />
boleh diambil secara zhahirnya, <strong>tetapi harus ditakwil dengan makna<br />
yang sesuai dengan sifat-sifat Allah, jadi maknanya adalah Dzat yang sangat tinggi derajat-Nya</strong> sebagaimana dikatakan oleh ulama<br />
Ahlussunnah Wal Jama’ah, di antaranya adalah <strong>al Imam an-Nawawi<br />
dalam Syarh Shahih Muslim</strong>. Sementara riwayat hadits Jariyah yang<br />
maknanya shahih adalah:</p>
<p>ة<br />
سوداءَ وقاَلَ: يا ر  سولَ اللهِ ِإن�’َ علَ  ي رقَبةً �…ؤ�…نةً فَِإن�’ كُنت ترى<br />
َأتش  هدين َأن�’ لاَ ِإلَه :r  هذه �…ؤ�…نةً َأعتق�’تها، فَقَالَ َلها ر  سو ُ ل اللهِ<br />
ِإلا�’َ اللهُ قَالَت: نع�…، قَالَ: َأتش  هدين َأني ر  سو ُ ل اللهِ؟ قَالَت: نع�…،<br />
قَالَ: َأتؤ�…نِين ِبا�’لبعث بعد ال�’�…وت؟ قَالَت: نع�…، قَالَ: َأعتق�’ها .<br />
Al Imam Malik dan al Imam Ahmad meriwayatkan bahwasanya salah seorang sahabat Anshar datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam dengan membawa seorang hamba sahaya berkulit hitam, dan berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya saya mempunyai kewajiban memerdekakan seorang hamba sahaya yang mukmin, jika engkau menyatakan bahwa hamba sahaya ini mukminah maka aku akan memerdekakannya, kemudian Rasulullah berkata kepadanya: Apakah engkau bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah? Ia (budak) menjawab: “Ya”, Rasulullah berkata kepadanya: Apakah engkau bersaksi bahwa saya adalah Rasul (utusan) Allah? Ia menjawab: “Ya”, kemudian<br />
Rasulullah berkata: Apakah engkau beriman terhadap hari kebangkitan setelah kematian? ia menjawab : “Ya”, kemudian Rasulullah berkata: Merdekakanlah dia”.<br />
Al Hafizh al Haytsami (W. 807 H) dalam kitabnya Majma’ az-<br />
Zawa-id Juz I, hal. 23 mengatakan: “Hadits ini diriwayatkan oleh Imam<br />
Ahmad dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi shahih”. Riwayat<br />
inilah yang sesuai dengan prinsip-prinsip dan dasar ajaran Islam,<br />
karena di antara dasar-dasar Islam bahwa orang yang hendak masuk<br />
Islam maka ia harus mengucapkan dua kalimat syahadat, bukan yang<br />
lain.</p>
<p>4. lafadz mutasyabihat <em>biaidin <strong>(</strong></em><strong>dengan tangan)</strong></p>
<p>[ [وال  س�...اءَ بنيناها ِبأَيد وِإنا َل�...وسعونَ] [سورة الذاريات : 47</p>
<p>Artinya : " Dan langit, kami membinanya dengan  Tangan(Kekuasaan)  Kami...." (Qs adzariyat ayat 47)</p>
<p>Ibnu Abbas mengatakan: "Yang dimaksud lafadz  ِبأَيد  (biaidin) adalah<br />
<strong>"dengan kekuasaan</strong>", bukan maksudnya tangan yang merupakan<br />
anggota badan (jarihah) kita, karena Allah maha suci darinya.</p>
<p>Lihat rujukan dalam kitab Tafsir mu'tabar :</p>
<p>Allah SWT telah berfirman dalam Adzariyat : 47</p>
<p>وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ</p>
<p>nah bagaimana tafsir Qurtuby atas hal ini :</p>
<p>لَمَّا بَيَّنَ هَذِهِ الْآيَات قَالَ : وَفِي السَّمَاء آيَات وَعِبَر تَدُلّ عَلَى أَنَّ الصَّانِع قَادِر عَلَى الْكَمَال , فَعَطَفَ أَمْر السَّمَاء عَلَى قِصَّة قَوْم نُوح لِأَنَّهُمَا آيَتَانِ . وَمَعْنَى " بِأَيْدٍ " أَيْ بِقُوَّةٍ وَقُدْرَة . عَنْ اِبْن عَبَّاس وَغَيْره .</p>
<p>kemudian bagaiman ia dalam tafsir Thobary sbb :</p>
<p>الْقَوْل فِي تَأْوِيل قَوْله تَعَالَى : { وَالسَّمَاء بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ } يَقُول تَعَالَى ذِكْرُهُ : وَالسَّمَاء رَفَعْنَاهَا سَقْفًا بِقُوَّةٍ . وَبِنَحْوِ الَّذِي قُلْنَا فِي ذَلِكَ قَالَ أَهْل التَّأْوِيل . ذِكْرُ مَنْ قَالَ ذَلِكَ : 24962 - حَدَّثَنِي عَلِيّ , قَالَ : ثنا أَبُو صَالِح , قَالَ : ثني مُعَاوِيَة , عَنْ عَلِيّ , عَنِ ابْن عَبَّاس , قَوْله : { وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ } يَقُول : بِقُوَّةٍ.</p>
<p>kemudian dalam surat Al-Fath : 10</p>
<p>يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ</p>
<p>Al-Qurthubi telah menukil pendapat Ibn Kisan sbb :</p>
<p>قِيلَ : يَده فِي الثَّوَاب فَوْق أَيْدِيهمْ فِي الْوَفَاء , وَيَده فِي الْمِنَّة عَلَيْهِمْ بِالْهِدَايَةِ فَوْق أَيْدِيهمْ فِي الطَّاعَة . وَقَالَ الْكَلْبِيّ : مَعْنَاهُ نِعْمَة اللَّه عَلَيْهِمْ فَوْق مَا صَنَعُوا مِنْ الْبَيْعَة . وَقَالَ اِبْن كَيْسَان : قُوَّة اللَّه وَنُصْرَته فَوْق قُوَّتهمْ وَنُصْرَتهمْ</p>
<p>kemudian seperti mana pula yang dinukil dalam At-Thobary</p>
<p>وَفِي قَوْله : { يَد اللَّه فَوْق أَيْدِيهمْ } وَجْهَانِ مِنْ التَّأْوِيل : أَحَدهمَا : يَد اللَّه فَوْق أَيْدِيهمْ عِنْد الْبَيْعَة , لِأَنَّهُمْ كَانُوا يُبَايِعُونَ اللَّه بِبَيْعَتِهِمْ نَبِيّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ; وَالْآخَر : قُوَّة اللَّه فَوْق قُوَّتهمْ فِي نُصْرَة رَسُوله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , لِأَنَّهُمْ إِنَّمَا بَايَعُوا رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى نُصْرَته عَلَى الْعَدُوّ.</p>
<p><strong>5. Makna surat al fajr 22 </strong><br />
Begitu juga Imam Ahmad bin Hanbal yang merupakan ulama Salaf telah mentakwilkan ayat 22, Surah al-Fajr seperti yang diriwayatkan secara bersanad yang sahih oleh Imam Bayhaqiyy dalam kitab Manaqib Ahmad dari Imam Ahmad mengenai firman Allah:</p>
<p><em>"Dan telah datang Tuhanmu" </em></p>
<p>ditakwilkan oleh Imam Ahmad dengan: <strong>"Telah datang kekuasaan Tuhanmu</strong>".</p>
<p>6.  hadith<em> al-dhahik</em> <strong>(ketawa) </strong></p>
<p>berkata:  "Al-Bukhariyy telah mentakwilkan hadith al-dhahik (ketawa) dengan erti rahmat dan redha."</p>
<p>7. Hadis tentang <strong>isra mi'raj dan "Langit " </strong>sebagai <strong>Kiblat Do'a </strong>Bukan "<strong>Tempat bersemayam dzat Alah"</strong></p>
<p>As-Salaf ash-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua Sifat-sifat Makhluk<br />
الْموُلود سنةَ 227 ه t  16 . قَالَ اْلإِمام َأبو جعفَرٍ الطَّحاوِي<br />
والْمتوفَّى سنةَ 321 ه : "تعالَى (يعنِي الله) عنِ الْحدود<br />
والْغايات والأَركَان والأَعضاءِ والأَدوات لاَ تحوِيه الْجِهات<br />
الست كَسائرِ الْمبتدعات".<br />
Al Imam Abu Ja'far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227-321 H) berkata: "Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya).<br />
Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arahpenjuru tersebut".<br />
Perkataan al Imam Abu Ja'far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma' (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).</p>
<p>Diambil dalil dari perkataan tersebut bahwasanya bukanlah maksud dari mi'raj bahwa Allah berada di arah atas lalu Nabi<br />
Muhammad shallallahu 'alayhi wasallam naik ke atas untuk bertemu dengan-Nya, melainkan maksud mi'raj adalah memuliakan Rasulullah shalalllahu 'alayhi wasallam dan memperlihatkan kepadanya keajaiban makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam al Qur'an surat al Isra ayat 1. Juga tidak boleh berkeyakinan bahwa Allah mendekat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wasallam sehingga jarak antara keduanya dua hasta atau lebih dekat, melainkan yang mendekat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wasallam di saat mi'raj adalah Jibril 'alayhissalam, sebagaimana diriwayatkan oleh al Imam al<br />
Bukhari (W. 256 H) dan lainnya dari as-Sayyidah 'Aisyah -semoga Allah meridlainya-, maka wajib dijauhi kitab Mi'raj Ibnu 'Abbas dan Tanwir al Miqbas min Tafsir Ibnu 'Abbas karena keduanya adalah kebohongan belaka yang dinisbatkan kepadanya.<br />
Sedangkan ketika seseorang menengadahkan kedua tangannya ke arah langit ketika berdoa, hal ini tidak menandakan bahwa Allah<br />
berada di arah langit. Akan tetapi karena langit adalah kiblat berdoa dan merupakan tempat turunnya rahmat dan barakah. Sebagaimana apabila seseorang ketika melakukan shalat ia menghadap ka'bah. Hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya, akan tetapi karena ka'bah adalah kiblat shalat.</p>
<p>Penjelasan seperti ini dituturkan oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah seperti al Imam al Mutawalli (W. 478 H) dalam kitabnya al Ghun-yah, al Imam al Ghazali (W. 505 H) dalam kitabnya Ihya 'Ulum ad-Din, al Imam an-Nawawi (W. 676 H) dalam<br />
kitabnya Syarh Shahih Muslim, al Imam Taqiyy ad-Din as-Subki (W.756 H) dalam kitab as-Sayf ash-Shaqil dan masih banyak lagi.<br />
Perkataan al Imam at-Thahawi tersebut juga merupakan bantahan terhadap pengikut paham Wahdah al Wujud yang berkeyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya atau pengikut paham Hulul yang berkeyakinan bahwa Allah menempati<br />
makhluk-Nya. Dan ini adalah kekufuran berdasarkan Ijma' (konsensus) kaum muslimin sebagaimana dikatakan oleh al Imam as-<br />
Suyuthi (W. 911 H) dalam karyanya al Hawi li al Fatawi dan lainnya, juga para panutan kita ahli tasawwuf sejati seperti al Imam al Junaid al Baghdadi (W. 297 H), al Imam Ahmad ar-Rifa'i (W. 578 H), Syekh Abdul Qadir al Jilani (W. 561 H) dan semua Imam tasawwuf sejati, mereka selalu memperingatkan masyarakat akan orang-orang yang berdusta sebagai pengikut tarekat tasawwuf dan meyakini aqidah Wahdah al Wujud dan Hulul.</p>
<p>8. Ayat mutasyabihat tentang <strong>"Nur"</strong> atau <strong>Cahaya</strong> (Ayat 35 Surat an-Nur)</p>
<p>Dan begitulah seluruh ayat-ayat mutasyabihat harus dikembalikan kepada ayat-ayat muhkamat dan tidak boleh diambil secara zhahirnya. Seperti firman Allah ta'ala dalam surat an-Nur: 35<br />
[ [ َاللهُ نور ال  سموات والأَرضِ ] [سورة النور :</p>
<p>tidak boleh ditafsirkan bahwa Allah adalah cahaya atau Allah adalah sinar. Karena kata cahaya dan sinar adalah khusus bagi makhluk. Allah-lah yang telah menciptakan keduanya, maka Ia tidak menyerupai keduanya. <strong>Tetapi makna ayat ini, bahwa Allah menerangi langit dan bumi dengan cahaya matahari, bulan dan bintang-bintang. Atau maknanya, bahwa Allah adalah pemberi petunjuk penduduk langit, yakni para malaikat dan pemberi petunjuk orang-orang mukmin dari golongan manusia dan jin, yang berada di bumi yaitu petunjuk kepada keimanan. Sebagaimana yang dikatakan oleh 'Abdullah ibn Abbas –semoga Allah meridlainya- salah seorang sahabat Nabi shallallahu 'alayhi wasallam.</strong> Takwil ini diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam al Asma' Wa as-Shifat. Dengan demikian kita wajib mewaspadai kitab Mawlid al 'Arus yang disebutkan di dalamnya bahwa "Allah menggenggam segenggam cahaya wajah-Nya kemudian berkata kepadanya: jadilah engkau Muhammad, maka ia menjadi Muhammad". Ini adalah kekufuran wal 'iyadzu billah karena menjadikan Allah sebagai cahaya dan nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wasallam bagian dari-Nya. Kitab ini merupakan kebohongan yang dinisbatkan kepada al Hafizh Ibn alJawzi, tidak seorangpun menisbatkannya kepada al Hafizh Ibn al Jawzi kecuali seorang orientalis yang bernama Brockelmann.</p>
<p>9. Hadis mutasyabihat  tentang <strong>Jiwa anak adam</strong> dan <strong>"Jari-jari Arrahman"</strong></p>
<p>Makna Hadis mutaysabihat :  " Hati anak adam berada dalam <strong>jari-jar</strong>i Arrahman"</p>
<p>Makna sebenarnya : Hati atau jiwa anak Adam di bawah qudrah (kekuasaan) Allah Ta'ala, jika Allah mahu memberi hidayah<br />
kepadanya maka dia akan mendapat hidayah dan jika Allah mahu sesatkannya dia akan sesat</p>
<p><strong>Dalilnya :</strong></p>
<p>Hadis:<br />
<strong>Maknannya: " Dialah Allah yang mengubah mengikut kehendakNya".</strong><br />
Dan hadis Nabi:</p>
<p><strong>Maksudnya: Hati Manusia dibawah pengaturan Ar-rahman". (H.R Tarmizi)<br />
Maksud hadis ini ialah <em>hati-hati anak Adam di bawah kuasa Allah Ta’ala.</em></strong></p>
<p><strong>Kesesatan wahaby :</strong></p>
<p>wahaby artikan  jari dalam makna dhahir katakan, Buktinya :</p>
<p>Usaimin berkata: “hati anak-anak Adam itu semuanya berada diantara dua jari dari jari-jari Ar Rahman dari segi hakikinya dan</p>
<p>ianya tidak melazimi penyentuhan dan penyatuan” (Kitab: Qawa’idul Mithly, Karangan Usaimin, m/s : 51, Riyadh).</p>
<p><strong>10.  Hadis "Berjalan dan Berlari"</strong></p>
<p>Allah berfirman dalam hadis qudsi : "Jika hambaku datang mendekatiku dengan berjalan, makaAku akan mendekatinya dengan berlari" (hadis riwayat tabrani,  al bazzar, al baihaqi, ibnu majah, ibnu hibban dan lainnya)</p>
<p>maksud hadis tersebut adalah :</p>
<p>Jika hambaku datang mendekatiKu dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari, yakni jika seseorang hamba menuju kepada Allah swt, maka rahmat Allah akan lebih cepat kepadanya dan ia melimpahi kekurniaanya padanya . (Syaikhul Hadis Muhammad Zakariya, Fadhilah dzikir, keterangan hadis ke 1, halaman 28, Era ilmu kuala lumpur).</p>
<p>11. Hadis <strong>Nuzul (turun kelangit pertama)</strong></p>
<p>"Pada sepertiga malam terakhir Allah akan turun kelangit pertama....."</p>
<p>"Pada hari arafah  Allah akan turun kelangit pertama....."</p>
<p>makna hadis tersebut adalah  <strong>rahmat Allah yang begitu dekat pada waktu-waktu tersebut</strong>, sehingga waktu tersebut menjadi lebih utama untuk berdo'a.jadi  Bukan dzat Allah yang turun (Fadhilah Haji, Syaikhul hadis Muhammad Zakariya)</p>
<p><a href="http://salafytobat.wordpress.com/" target="_blank">http://salafytobat.wordpress.com</a></p>
<p><strong> Scan Kitab2 ahlusunnah bantah aqidah sesat wahabi </strong></p>
<p>Menyelewengkan pendapat ulama 4 madzab ttq aqidah dah menjadi darah daging wahabi…..<br />
Merubah2 tafsir ulama sunni dgn kedok mentkhrij sudah menjadi kerja harian mufti2 negri saudi alyahudiah…..<br />
padahal pengikut2 wahabi hanya kerbau2 dungu yang sok tau yang tak pernah membaca kitab2 tsb…jgnkan membaca melihat sampul kitabnya pun belum…..(gimana mau baca….ga sempat belajar nahwu shorof…sibuk diajari debat/nentang pendapat ulama2 sunni terus)…..(pengalaman ikut taklim salafi…)<br />
ini adalah scan kitab2 aqidah yang ditulis ulama2 terkemuka ahlusunnah …hanya orang2 fasiq ygjelas kefasikannya yg menentang pendapat mereka :<br />
Rujukan tentang akidah aswaja dapat dilihat pada kitab2 ulama salafusalih scan kitab2nya…:</p>
<p><strong>1. Hujjah Imam Abu Hanifah yg beliau tulis dalam kitab wasiat nya :</strong></p>
<p><a href="http://bp0.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RzEMp3IyZSI/AAAAAAAAAMg/P2AiecWpXlA/s1600-h/wsiatabuhanifh.jpg"></a><br />
<a href="http://bp2.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RzEMfXIyZRI/AAAAAAAAAMY/LvuLA201YZ4/s1600-h/wasiat1.jpg"></a><br />
( DIATAS ADALAH KENYATAAN IMAM ABU HANIFAH DALAM KITAB WASIAT BELIAU PERIHAL ISTAWA )</p>
<p><strong>AKIDAH IMAM ABU HANIFAH </strong>(ulama As-Salaf sebenar)</p>
<p>Oleh: Abu Syafiq ( 012-2850578 )</p>
<p>Imam Abu Hanifah (w150h) merupakan ulama Islam yang dikategorikan sebagai ulama Salaf iaitu yang hidup sebelum 300H. Beliau merupakan ulama Islam yang hebat dan cukup mementingkan ilmu akidah. Inilah keutamaan para ulama Islam memastikan ilmu akidah Islam sebenar tersebar luas moga-moga dengan itu ilmu Islam yang lain lebih tersusun dengan benarnya akidah yang dibawa oleh para pendakwah.</p>
<p>IMAM ABU HANIFAH NAFIKAN SIFAT BERTEMPAT/DUDUK/BERSEMAYAM BAGI ALLAH.</p>
<p>Perkataan ‘semayam atau bersemayam’ lebih membawa erti yang tidak layak bagi Allah iaitu duduk atau bertempat. Sifat duduk dan bertempat merupakan sifat yang dinafikan oleh para ulama kepada Allah kerana ianya bukan sifat Allah.<br />
Maha suci Allah dari sifat duduk atau bertempat.<br />
Istawa apabila disandarkan kepada Allah sebaiknya diterjemahkan dengan mengunakan kaedah “tafsir ayat dengan ayat” kerana itu merupaka kaedah yang disepakati keutamaannya oleh seluruh ulama Islam.</p>
<p>Apabila Istawa datang dengan makna Qoharo iaitu menguasai dan pada waktu yang sama Allah juga menyifatkan diriNya dengan Qoharo maka tidak salah sekiranya Istawa disitu diterjemahkan dengan Menguasai kerana sudah dan pastinya Maha Menguasai itu adalah sifat Allah.<br />
Manakala duduk atau bersemayam yang bererti mengambil tempat untuk duduk maka itu sudah pasti BUKAN sifat Allah.</p>
<p>Penyelesaian bagi pergaduhan bersejarah tentang makna ayat tersebut pengubatnya adalah dengan menolak zahir maknanya dan tidak mentafsirkan dengan sifat duduk atau bertempat kerana tiada dalil sahih dari Al-Quran mahupun Hadith menyatakan Allah itu bersifat duduk mahupun bertempat.</p>
<p>Ulama Islam mengthabitkan sifat Istawa bagi Allah tanpa menetapkan tempat bagi Allah. Begitu juga mereka menetapkan bagi Allah sifat Istawa dalam masa yang sama menafikan erti bersemayam/duduk bagi Allah.<br />
Perkara ini telah dijelaskan secara nasnya (teks) oleh Imam As-Salaf sebenar iaitu Imam Abu Hanifah sendiri telah menafikannya sifat duduk/bersemayam dan menafikan sifat bertempat atas arasy bagi Allah.</p>
<p>IMAM ABU HANIFAH TOLAK AKIDAH SESAT “ ALLAH BERSEMAYAM/DUDUK/BERTEMPAT ATAS ARASY.<br />
Demikian dibawah ini teks terjemahan nas Imam Abu Hanifah dalam hal tersebut ( Rujuk kitab asal sepertimana yang telah di scan di atas) :</p>
<p>“ Berkata Imam Abu Hanifah: Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’al ber istawa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak bertetap di atas Arasy, Dialah menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukan Arasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain sudah pasti Dia tidak mampu mencipta Allah ini dan tidak mampu mentadbirnya sepeti jua makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum diciptaArasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”. Tamat terjemahan daripada kenyatan Imam Abu Hanifah dari kitab Wasiat beliau.</p>
<p>Amat jelas di atas bahawa akidah ulama Salaf sebenarnya yang telah dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah adalah menafikan sifat bersemayam(duduk) Allah di atas Arasy.</p>
<p>Semoga Mujassimah diberi hidayah sebelum mati dengan mengucap dua kalimah syahadah kembali kepada Islam.</p>
<p><strong> 2. Imam Asy’Ary </strong><br />
Dalam Semua kitab2 aqidah beliau semakna dgn aqidah yang dpegang university Alashar dan aswaja seluruh dunia.<br />
Termasuk dalam kitab terakhir Beliau ,kitab Al ibanah.<br />
Scan Kitab Al ibanah :<br />
<a href="http://bp0.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RymXc3IyZMI/AAAAAAAAAL0/_EJtmSigAno/s1600-h/lastscan.jpg" target="_blank">http://bp0.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RymXc3IyZMI/AAAAAAAAAL0/_EJtmSigAno/s1600-h/lastscan.jpg</a></p>
<p>scan sampul kitabnya :<br />
<a href="http://bp0.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RymV-3IyZKI/AAAAAAAAALk/mmRjxkLsz_Q/s1600-h/2.jpg" target="_blank">http://bp0.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RymV-3IyZKI/AAAAAAAAALk/mmRjxkLsz_Q/s1600-h/2.jpg</a></p>
<p><strong> 3. Fatwa Imam syafei tentang akidah Allah Ada Tanpa Tempat dan Arah </strong><br />
(Akidah Mayoritas Muslim Di dunia, akidah ulama2 University Al ashar)</p>
<p>INILAH BUKTI BAHAWA ORANG YANG BERAKIDAH YAHUDI : “ALLAH DUDUK” ADALAH KAFIR DISISI SELURUH ULAMA ISLAM BERDASARKAN KATA IMAM SYAFIE’.</p>
<p>ابنُ المُعلِّم القُرَشيّ ترجَمهُ الحافظُ ابنُ حجرٍ في كتابِهِ الدُّرَرِ الكامنةِ في أعيانِ المائةِ الثامنة الجزءِ الرابع: ص 197 قالَ ما نصُهُ:</p>
<p>محمدُ بنُ محمدِ بنِ عثمانَ بنِ عمرَ بنِ عبدِ الخالقِ بنِ حسنٍ القرشيُّ المِصريُّ فخرُ الدينِ بنُ مُحيي الدينِ المعروفُ بابنِ المُعلمِ ولدَ في شوالٍ سنةَ 660 هـ.</p>
<p>وسمع منَ ابنِ عَلاق مجلسَ البِطاقةِ ومن ابنِ النَّحاسِ مَشيختَهُ تخريجَ منصورِ بنِ سليمٍ ومن عبدِ الهادي القَيسي والنَّجيبِ الحَرَّانيِّ وغيرِهم وحدَّثَ وكانَ فاضلاً حفظَ المقامات وَولِيَ قضاءَ بلدِ الخليلِ وأَذرِعات وأعادَ بالبادِرائية وكان جوادًا لهُ مُصَنَّفاتٌ ونَظمٌ وماتَ في جُمادى الآخرةِ سنة 725 هـ بدمشقَ.</p>
<p>وفي كتابِ نجمِ المُهتدي لابنِ المُعلمِ القُرشيِّ ص 551: وهذا مُنتَظمٌ مَن كفرُهُ مُجمعٌ عليهِ ومن كفَّرناهُ من أهلِ القِبلةِ كالقائلينَ بخلقِ القرءانِ وبأنهُ لا يعلمُ المَعدوماتِ قبلَ وجودِها ومن لا يُؤمنُ بالقدرِ وكذا من يعتقدُ أن اللهَ جالسٌ على العرشِ كما حكاهُ القاضي حُسينٌ عن نصِّ الشافعيِّ.</p>
<p>Terjemahan pada teks yang telah dihitamkan: ” Begitu juga kafir sesiapa yang berakidah Allah duduk atas Arasy berdasarkan teks kenyataan oleh Imam Syafie’ yang disebut oleh Al-Qodhi Husain”.</p>
<p>وفي كتاب نجمِ المُهتدي لابنِ المُعلم القرشيِ ص 588: عن عليٍّ رضي الله عنه قال: “سيَرجِعُ قومٌ من هذه الأُمَّةِ عند اقترابِ الساعةِ كفارًا قال رجلٌ يا أميرَ المؤمنينَ كُفرُهُم بماذا أبالإحداثِ أم بالإنكارِ؟ فقال: بل بالإنكارِ يُنكرونَ خالقَهم فيصفونَه بالجسمِ والأعضاءِ”.</p>
<p>القاضي حسينٌ من أكابرِ أصحاب الإمامِ الشافعي، قال الإمام عبدُ الكريمِ الرافعيُّ: كانوا يلقبونهُ حبرَ الأمةِ.</p>
<p>فبعد هذا لا يلتفت إلى كلام بعض الشافعيين وغيرهم ممن لم يكفروا المجسّمة، وذلك لثبوت كفر المجسمة بدليل قوله تعالى {ليس كمثله شىء}. وكيف يسوغ لشافعي أن يخالف إمامَه (الذي كفّر من وصف الله بالجسم) في مسئلة إجماعيّة؟!<br />
Scan Kitab :<br />
<a href="http://bp2.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RvMaMdQ4b3I/AAAAAAAAAIg/r3Ui5Q-zU94/s1600-h/M-4.gif" target="_blank">http://bp2.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RvMaMdQ4b3I/AAAAAAAAAIg/r3Ui5Q-zU94/s1600-h/M-4.gif</a><br />
Scan Kitab :<br />
<a href="http://bp0.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RvMaI9Q4b2I/AAAAAAAAAIY/s0QFpNbIZ_A/s1600-h/M-3.gif" target="_blank">http://bp0.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RvMaI9Q4b2I/AAAAAAAAAIY/s0QFpNbIZ_A/s1600-h/M-3.gif</a><br />
Scan Kitab :<br />
<a href="http://bp3.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RvMaCtQ4b1I/AAAAAAAAAIQ/hvBKugsGNiQ/s1600-h/M-2.gif" target="_blank">http://bp3.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RvMaCtQ4b1I/AAAAAAAAAIQ/hvBKugsGNiQ/s1600-h/M-2.gif</a><br />
scan Kitab :<br />
<a href="http://bp1.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RvMZ1NQ4b0I/AAAAAAAAAII/p8uXPMj-pPg/s1600-h/M-1.gif" target="_blank">http://bp1.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RvMZ1NQ4b0I/AAAAAAAAAII/p8uXPMj-pPg/s1600-h/M-1.gif</a></p>
<p><strong> 4. Imam Ahmad Bin Hambal Kata Allah Tidak Berjisim</strong>:<br />
Dalam kitab Iktiqod Imam Ahmad pada mukasurat 7-8 dinayatakan : “ Tidak harus menyandarkan jismiyyah kepada Allah kerana Allah tidak berjisim”.<br />
Imam Ahmad juga menyatakan:” “ Sesiapa yang mengatakan Allah itu jisim ataupun Allah itu jisim tapi tak serupa dengan jisim-jisim maka dia telah KAFIR ( ini kerana jisim bukanlah sifat Allah )”.</p>
<p><strong>4. Imam Abu Hanifah Kata Allah Tidak Berjisim: </strong><br />
Dalam kitab akidah Imam Abu Hanifah yang masyhur berjudul Fiqhul Akbar menyatakan:</p>
<p>إثباتُهُ بلا جسمٍ<br />
“ Dan hendaklah menetapakan bahawa Allah tidak berjisim”.</p>
<p>5. Imam Abu Hasan Al-Asya’ry menyatakan dalam kitabnya berjudul An-Nawadir :<br />
“ Al-Mujassim Jahil Birobbihi Fahuwa Kafirun Birobbihi” kenyataan Imam Abu Hasan Al-Asy’ary tersebut bermaksud :“ Mujassim ( yang mengatakan Allah itu berjisim) adalah jahil mengenai Tuhannya, maka dia dikira kafir dengan Tuhannya ”.<br />
<strong> 6. Imam As-Syafie Kata Allah Tidak Berjisim: </strong><br />
Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (wafat 725) dalam kitab Najmul Muhtadi menukilkan dari Al-Qodi Husain bahawa Imam Syafie menyatakan :“ Sesiapa beranggapan Allah duduk (berjisim) diatas arasy maka dia KAFIR ”.</p>
<p>Dan ramai serta jutaan ulama islam lagi yang menyatakan akidah islam antaranya adalah Allah Tidak Berjisim.</p>
<p>7<strong>. Dr. Yusuf Qardawi sendiri yang mengatakan bahkan mengajar kepada orang awam bahawa Allah Tidak berjisim: </strong><br />
Berkata Dr. Yusuf Qardawi dalam Majalah Mujtama’, Bilangan 1370, Tarikh 25 Jamadul Akhir/1420 Bersamaan 5/10/1999M<br />
Yang mana majalah tersebut dibaca oleh orang yang alim dan masyarakat umum:<br />
فليس مما يوافق الكتاب والسنة جمعها في نسق واحد يوهم تصور ما لا يليق بكمال الله تعالى ، كما يقول بعضهم : يجب أن تؤمن بأن لله تعالىوجها ، وأعينا ، ويدين ، وأصابع ، وقدما ، وساقا ، .. إلخ ، فإن سياقها مجتمعة بهذه الصورة قد يوهم بأن ذات الله تعالى وتقدس كلٌّ مركب من أجزاء ، أو جسم مكون من أعضاء ..ولم يعرضها القرآن الكريم ولا الحديث الشريف بهذه الصورة ، ولم يشترط الرسول لدخول أحد في الإسلام أن يؤمن بالله تعالى بهذا التفصيل المذكور .<br />
Erinya: ” Maka bukanlah dikira sebagai perkara yang dipersetujui oleh Al-Quran dan As-Sunnah dengan mengumpulnya dalam satu bahagian membawa kepada gambaran yang tidak layak bagi kesempurnaan Allah ta’aal seperti yang dilakukan oleh sebahagian orang mereka mengatakan: Wajib beriman bagi Allah itu wajah, mata, dua tangan, jari, kaki, betis dan lain-lain.<br />
Ini kerana kenyataan seperti ini mengambarkan kesilapan<br />
yang besar bagi zat Allah itu bercantuman dengan bahagian-bahagian ataupun ianya membawa kepada Allah itu berjisim”.</p>
<p><strong>8. Ibnu Taimiyah Ahirnya Bertobat Dari Akidahnya Yang Salah kembali pada akidah Allah Ada Tanpa Tempat Dan Arah</strong></p>
<p>jangan sampai menjadikan buku2 ibnu taimiyah sebagai rujukan dalam perkara2 aqidah karena kitab2 karangan beliau yang beredar sekarang masih berisi ttg aqidah beliau yang salah…..</p>
<p>ARTIKEL LENGKAPNYA :</p>
<h3><a href="http://abu-syafiq.blogspot.com/2007/11/ibnu-taimiah-bertaubat-dari-akidah.html">Ibnu Taimiah Bertaubat Dari Akidah Salah(DISERTAKAN DGN SCAN KITAB)</a></h3>
<p><a href="http://bp2.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/R0BACLlY-WI/AAAAAAAAAOw/sEKPGKQUI3Y/s1600-h/DurahKaminahIbnutaimiahTaubt.jpg"></a><br />
<a href="http://bp0.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/R0A_grlY-VI/AAAAAAAAAOo/73HukHfT_ag/s1600-h/durarkaminahcover.jpg"></a><strong>*INI MERUPAKAN ARTIKEL ULANGAN DITAMBAH DENGAN SCAN KITAB YANG MERUPAKAN BUKTI KUKUH OLEH TUAN BLOG ATAS KENYATAAN YANG DITULIS.SILA RUJUK ARTIKEL ASAL: http://abu-syafiq.blogspot.com/2007/07/ibnu-taimiah-bertaubat-dari-akidah.html</strong></p>
<p><strong>*TETAPI INI TIDAK MENOLAK PENTAKFIRAN ULAMA TERHADAP PEMBAWA AKIDAH TAJSIM. KERANA GOLONGAN MUJASSIMAH TERKENAL DENGAN AKIDAH YANG BERBOLAK-BALIK DAN AKIDAH YANG TIDAK TETAP DAN TIDAK TEGUH.HARAP FAHAM SECARA BENAR DAN TELITI.</strong></p>
<p>Oleh: abu_syafiq As-Salafy (012-2850578)<br />
Assalamu3alaykum</p>
<p>Ramai yang tidak mengkaji sejarah dan hanya menerima pendapat Ibnu Taimiah sekadar dari bacaan kitabnya sahaja tanpa merangkumkan fakta sejarah dan kebenaran dengan telus dan ikhlas.</p>
<p>Dari sebab itu mereka (seperti Wahhabiyah) sekadar berpegang dengan akidah salah yang termaktub dalam tulisan Ibnu Taimiah khususnya dalam permasaalahan usul akidah berkaitan kewujudan Allah dan pemahaman ayat ” Ar-Rahman ^alal Arasy Istawa”.</p>
<p>Dalam masa yang sama mereka jahil tentang khabar dan berita sebenar berdasarkan sejarah yang diakui oleh ulama dizaman atau yang lebih hampir dengan Ibnu Taimiah yang sudah pasti lebih mengenali Ibnu Taimiah daripada kita dan Wahhabiyah.</p>
<p>Dengan kajian ini dapatlah kita memahami bahawa sebenarnya akidah Wahhabiyah antaranya :<br />
1-Allah duduk di atas kursi.<br />
2-Allah duduk dan berada di atas arasy.<br />
3-Tempat bagi Allah adalah di atas arasy.<br />
4-Berpegang dengan zohir(duduk) pada ayat “Ar-Rahman ^alal Arasy Istawa”.<br />
5-Allah berada di langit.<br />
6-Allah berada di tempat atas.<br />
7-Allah bercakap dengan suara.<br />
8-Allah turun naik dari tempat ke tempat<br />
dan selainnya daripada akidah kufur sebenarnya Ibnu Taimiah telah bertaubat daripada akidah sesat tersebut dengan mengucap dua kalimah syahadah serta mengaku sebagai pengikut Asyairah dengan katanya “saya golongan Asy’ary”.<br />
(Malangnya Wahhabi mengkafirkan golongan Asyairah, lihat buktinya :http://abu-syafiq.blogspot.com/2007/05/hobi-wahhabi-kafirkan-umat-islam.html).</p>
<p>Syeikhul Islam Imam Al-Hafiz As-Syeikh Ibnu Hajar Al-Asqolany yang hebat dalam ilmu hadith dan merupakan ulama hadith yang siqah dan pakar dalam segala ilmu hadith dan merupakan pengarang kitab syarah kepada Sohih Bukhari berjudul Fathul Bari beliau telah menyatakan kisah taubat Ibnu taimiah ini serta tidak menafikan kesahihannya dan ianya diakui olehnya sendiri dalam kitab beliau berjudul Ad-Durar Al-Kaminah Fi ‘ayan Al-Miaah As-Saminah yang disahihkan kewujudan kitabnya oleh ulama-ulama Wahhabi juga termasuk kanak-kanak Wahhabi di Malaysia ( Mohd Asri Zainul Abidin).</p>
<p>Kenyatan bertaubatnya Ibnu Taimiah dari akidah sesat tersebut juga telah dinyatakan oleh seorang ulama sezaman dengan Ibnu Taimiah iaitu Imam As-Syeikh Syihabud Din An-Nuwairy wafat 733H.</p>
<p>Ini penjelasannya :<br />
Berkata Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany dalam kitabnya berjudul Ad-Durar Al-Kaminah Fi “ayan Al-Miaah As-Saminah cetakan 1414H Dar Al-Jiel juzuk 1 m/s 148</p>
<p>dan Imam As-Syeikh Syihabuddin An-Nuwairy wafat 733H cetakan Dar Al-Kutub Al-Misriyyah juzuk 32 m/s 115-116 dalam kitab berjudul Nihayah Al-Arab Fi Funun Al-Adab nasnya:</p>
<p>وأما تقي الدين فإنه استمر في الجب بقلعة الجبل إلى أن وصل الأمير حسام الدين مهنا إلى الأبواب السلطانية في شهر ربيع الأول سنة سبع وسبعمائة ، فسأل السلطان في أمره وشفع فيه ، فأمر بإخراجه ، فأخرج في يوم الجمعة الثالث والعشرين من الشهر وأحضر إلى دار النيابة بقلعة الجبل ، وحصل بحث مع الفقهاء ، ثم اجتمع جماعة من أعيان العلماء ولم تحضره القضاة ، وذلك لمرض قاضي القضاة زين الدين المالكي ، ولم يحضر غيره من القضاة ، وحصل البحث ، وكتب خطه ووقع الإشهاد عليه وكتب بصورة المجلس مكتوب مضمونه : بسم الله الرحمن الرحيم شهد من يضع خطه آخره أنه لما عقد مجلس لتقي الدين أحمد بن تيمية الحراني الحنبلي بحضرة المقر الأشرف العالي المولوي الأميري الكبيري العالمي العادلي السيفي ملك الأمراء سلار الملكي الناصري نائب السلطنة المعظمة أسبغ الله ظله ، وحضر فيه جماعة من السادة العلماء الفضلاء أهل الفتيا بالديار المصرية بسبب ما نقل عنه ووجد بخطه الذي عرف به قبل ذلك من الأمور المتعلقة باعتقاده أن الله تعالى يتكلم بصوت ، وأن الاستواء على حقيقته ، وغير ذلك مما هو مخالف لأهل الحق ، انتهى المجلس بعد أن جرت فيه مباحث معه ليرجع عن اعتقاده في ذلك ، إلى أن قال بحضرة شهود : ( أنا أشعري ) ورفع كتاب الأشعرية على رأسه ، وأشهد عليه بما كتب خطا وصورته : (( الحمد لله ، الذي أعتقده أن القرآن معنى قائم بذات الله ، وهو صفة من صفات ذاته القديمة الأزلية ، وهو غير مخلوق ، وليس بحرف ولا صوت ، كتبه أحمد بن تيمية . والذي أعتقده من قوله : ( الرحمن على العرش استوى ) أنه على ما قاله الجماعة ، أنه ليس على حقيقته وظاهره ، ولا أعلم كنه المراد منه ، بل لا يعلم ذلك إلا الله تعالى ، كتبه أحمد بن تيمية . والقول في النزول كالقول في الاستواء ، أقول فيه ما أقول فيه ، ولا أعلم كنه المراد به بل لا يعلم ذلك إلا الله تعالى ، وليس على حقيقته وظاهره ، كتبه أحمد بن تيمية ، وذلك في يوم الأحد خامس عشرين شهر ربيع الأول سنة سبع وسبعمائة )) هذا صورة ما كتبه بخطه ، وأشهد عليه أيضا أنه تاب إلى الله تعالى مما ينافي هذا الاعتقاد في المسائل الأربع المذكورة بخطه ، وتلفظ بالشهادتين المعظمتين ، وأشهد عليه بالطواعية والاختيار في ذلك كله بقلعة الجبل المحروسة من الديار المصرية حرسها الله تعالى بتاريخ يوم الأحد الخامس والعشرين من شهر ربيع الأول سنة سبع وسبعمائة ، وشهد عليه في هذا المحضر جماعة من الأعيان المقنتين والعدول ، وأفرج عنه واستقر بالقاهرة</p>
<p>Saya terjemahkan beberapa yang penting dari nas dan kenyataan tersebut:</p>
<p>1-<br />
ووجد بخطه الذي عرف به قبل ذلك من الأمور المتعلقة باعتقاده أن الله تعالى يتكلم بصوت ، وأن الاستواء على حقيقته ، وغير ذلك مما هو مخالف لأهل الحق<br />
Terjemahannya: “Dan para ulama telah mendapati skrip yang telah ditulis oleh Ibnu Taimiah yang telahpun diakui akannya sebelum itu (akidah salah ibnu taimiah sebelum bertaubat) berkaitan dengan akidahnya bahawa Allah ta’ala berkata-kata dengan suara, dan Allah beristawa dengan erti yang hakiki (iaitu duduk) dan selain itu yang bertentangan dengan Ahl Haq (kebenaran)”.</p>
<p>Saya mengatakan :<br />
Ini adalah bukti dari para ulama islam di zaman Ibnu Taimiah bahawa dia berpegang dengan akidah yang salah sebelum bertaubat daripadanya antaranya Allah beristawa secara hakiki iaitu duduk.</p>
<p>Golongan Wahhabiyah sehingga ke hari ini masih berakidah dengan akidah yang salah ini iaitu menganggap bahawa Istiwa Allah adalah hakiki termasuk Mohd Asri Zainul Abidin yang mengatakan istawa bermakna duduk cuma bagaimana bentuknya bagi Allah kita tak tahu. lihat dan dengar sendiri Asri sandarkan DUDUK bagi Allah di : http://abu-syafiq.blogspot.com/2007/06/asri-menghidupkan-akidah-yahudi-allah.html .</p>
<p>Sedangkan ibnu Taimiah telah bertaubat dari akidah tersebut.</p>
<p>2-<br />
قال بحضرة شهود : ( أنا أشعري ) ورفع كتاب الأشعرية على رأسه<br />
Terjemahannya: ” Telah berkata Ibnu Taimiah dengan kehadiran saksi para ulama: ‘ Saya golongan Asy’ary’ dan mengangkat kitab Al-Asy’ariyah di atas kepalanya ( mengakuinya)”.</p>
<p>Saya mengatakan :<br />
Kepada Wahhabi yang mengkafirkan atau menghukum sesat terhadap Asya’irah, apakah mereka menghukum sesat juga terhadap Syeikhul islam mereka sendiri ini?!<br />
Siapa lagi yang tinggal sebagai islam selepas syeikhul islam kamu pun kamu kafirkan dan sesatkan?! Ibnu Taimiah mengaku sebagai golongan Asy’ary malangnya Wahhabi mengkafirkan golongan Asya’ry pula, rujuk bukti Wahhabi kafirkan golongan As’y'ary :http://abu-syafiq.blogspot.com/2007/05/hobi-wahhabi-kafirkan-umat-islam.html.</p>
<p>3-<br />
والذي أعتقده من قوله : ( الرحمن على العرش استوى ) أنه على ما قاله الجماعة ، أنه ليس على حقيقته وظاهره ، ولا أعلم كنه المراد منه ، بل لا يعلم ذلك إلا الله تعالى ، كتبه أحمد بن تيمية<br />
Terjemahan khot tulisan Ibnu Taimiah dihadapan para ulama islam ketika itu dan mereka semua menjadi saksi kenyataan Ibnu Taimiah :<br />
” Dan yang aku berpegang mengenai firman Allah ‘Ar-Rahman diatas Arasy istawa’ adalah sepertimana berpegangnya jemaah ulama islam, sesungguhnya ayat tersebut bukan bererti hakikatnya(duduk) dan bukan atas zohirnya dan aku tidak mengetahui maksud sebenar-benarnya dari ayat tersebut bahkan tidak diketahui makna sebenr-benarnya dari ayat tersebut kecuali Allah.Telah menulis perkara ini oleh Ahmad Ibnu Taimiah”.</p>
<p>Saya mengatakan:<br />
Ibnu Taimiah telah bertaubat dan mengatakan ayat tersebut bukan atas zohirnya dan bukan atas hakikinya iaitu bukan bererti Allah duduk mahupun bertempat atas arash.<br />
( Bukti Ibnu Taimiah pernah dahulunya berpegang dengan akidah salah: ‘Allah Duduk’</p>
<p>sila rujuk: http://abu-syafiq.blogspot.com/2007/05/penjelasan1-allah-duduk-atas-arasy.html ).</p>
<p>Malangnya kesemua tok guru Wahhabi sehingga sekarang termasuk Al-Bani, Soleh Uthaimien, Bin Baz dan kesemuanya berpegang ayat tersebut secara zohirnya dan hakikatnya (duduk dan bertempat atas arasy). Lihat saja buku-buku mereka jelas menyatakan sedemikian.<br />
Maka siapakah syeikhul islam sekarang ini disisi Wahhabiyah atau adakah syeikhul islam anda wahai Wahhabi telah kafir disebabkan taubatnya?!</p>
<p>4-<br />
وأشهد عليه أيضا أنه تاب إلى الله تعالى مما ينافي هذا الاعتقاد في المسائل الأربع المذكورة بخطه ، وتلفظ بالشهادتين المعظمتين<br />
Terjemahannya berkata Imam Nuwairy seperti yang dinyatakan juga oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany : ” Dan aku antara saksi bahawa Ibnu Taimiah telah bertaubat kepada Allah daripada akidah yang salah pada empat masaalah akidah yang telah dinyatakan, dan Ibnu Taimiah telah mengucap dua kalimah syahadah(bertaubat daripada akidah yang salah pernah dia pegangi terdahulu)”.</p>
<p>Saya mengatakan:<br />
Ibnu Taimiah telah memeluk islam kembali dengan mengucap dua kalimah syahadah dan mengiktiraf akidahnya sebelum itu adalah salah dan kini akidah yang salahnya itu pula dipegang oleh golongan Wahhabiyah.</p>
<p>Maka bilakah pula golongan Wahhabiyah yang berpegang dengan akidah yang salah tersebut akan memluk agama islam semula seperti yang dilakukan oleh rujukan utama mereka yang mereka sendiri namakan sebagai Syeikhul Islam?!.</p>
<p>Jadikan qudwah dan ikutan Ibnu Taimiah dalam hal ini wahai Wahhabiyah!.</p>
<p>Ayuh! bertaubatlah sesungguhnya kebenaran itu lebih tinggi dari segala kebatilan. Pintu taubat masih terbuka bagi Wahhabi yang belum dicabut nyawa.</p>
<p>ULAMA-ULAMA YANG MENYATAKAN DAN MENYAKSIKAN KISAH TAUBATNYA IBNU TAIMIAH.</p>
<p>Selain Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany dalam kitabnya berjudul Ad-Durar Al-Kaminah Fi “ayan Al-Miaah As-Saminah cetakan 1414H Dar Al-Jiel juzuk 1 m/s 148</p>
<p>dan Imam As-Syeikh Syihabuddin An-Nuwairy wafat 733H cetakan Dar Al-Kutub Al-Misriyyah juzuk 32 m/s 115-116 dalam kitab berjudul Nihayah Al-Arab Fi Funun Al-Adab yang menyatakan kisah taubat Ibnu Taimiah ramai lagi ulama islam yang menyaksikan dan menceritakan kisah pengakuan tersebut antaranya lagi :</p>
<p>-As-Syeikh Ibnu Al-Mu’allim wafat tahun 725H dalam kitab Najmul Muhtadi Wa Rojmul Mu’tadi cetakan Paris nom 638.</p>
<p>-As-Syeikh Ad-Dawadai wafat selepas 736H dalam kitab Kanzu Ad-Durar - Al0Jam’-239.</p>
<p>-As-Syeikh Taghry Bardy Al-Hanafi bermazhab Hanafiyah wafat 874H dalam Al-Minha As-Sofi m/s576 dan beliau juga menyatakn sepertimana yang dinyatakan nasnya oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany dalam kitabnya yang lain berjudul An-Nujum Az-Zahirah Al-Jami’ 580.</p>
<p>Merekalah dan selain mereka telah menyatakan taubat Ibnu Taimiah daripada akidah Allah Duduk dan bertempat di atas arasy.</p>
<p>Kata-kata akhirku dalam penerangan kajian ringkas berfakta ini..</p>
<p>Wahai Wahhabiyah yang berakidah Allah Duduk di atas arasy. Itu adalah akidah kristian kafir dan yahudi laknat (Rujuk bukti :http://abu-syafiq.blogspot.com/2007/05/penjelasan1-allah-duduk-atas-arasy.html .<br />
Berpeganglah dengan akidah salaf sebenar dan khalaf serta akidah ahli hadith yang di namakan sebagai akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah iaitu Allah tidak memerlukan kepada mana-mana makhlukNya termasuk tempat dilangit mahupun tempat di atas arasy.</p>
<p>Semoga Allah merahmati hambaNya yang benar-benar mencari kebenaran.<br />
Wassalam.</p>
<p>8. <strong>Syaikh Albani Akui Akidahnya Salah </strong><br />
Syaikh Albani dalam salah satu kitab terakhirnya menyatakan allah tidak mempunyai tempat dan arah, berbeda dari kitab2 yang beliau tulis sebelumnya.<br />
ALBANI &amp; AZ-ZAHABI KATA: AKIDAH ISLAM ADALAH “ALLAH WUJUD TANPA BERTEMPAT” &amp; ALLAH TIDAK BERSEMAYAM/DUDUK ATAS ARASY.<br />
<a href="http://bp1.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/R1ZFO48KEeI/AAAAAAAAAQQ/PPzOMN1HyWs/s1600-h/COVER.JPG"></a><br />
<a href="http://bp0.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/R1ZFCo8KEdI/AAAAAAAAAQI/IvDaCbXADc4/s1600-h/AL-BANI+TOLAK+TEMPAT1.jpg"></a></p>
<p><strong><strong><strong>ALBANI &amp; AZ-ZAHABI KATA: AKIDAH ISLAM ADALAH “ALLAH WUJUD TANPA BERTEMPAT” &amp; ALLAH TIDAK BERSEMAYAM/DUDUK ATAS ARASY</strong>.</strong></strong></p>
<p>Oleh: Abu Syafiq ( Hp: 006-012-2850578 )</p>
<p>Sememang kebenaran akidah Islam tidak dapat ditolak oleh golongan munafiq mahupun kafir Mujassim. Ini kerana burhan dan adillah (hujjah dan dalil) yang terbit dari sumber yang mulia iaitu Al-Quran dan Hadith tiada secebis pun keraguan manakan pula kebatilan. Antara akidah Islam adalah “ Allah Wujud Tanpa Bertempat” dan inilah antara yang Ahlu Sunnah Wal Jama’ah war-warkan bagi memberi kefahaman yang tepat dalam perbincangan akidah Islam dalam mentauhidkan diri kepada Allah.</p>
<p>WAHHABI MALAYSIA KAFIRKAN ALBANI &amp; AZ-ZAHABI<br />
Kesemua Wahhabi di Malaysia berakidah dengan akidah yang tidak menepati Al-Quran dan Hadith Nabawi. Ini amat jelas dengan hujjah yang telah saya ( Abu Syafiq ) kemukakan sebelum2 ini berlandaskan ayat2 Allah dan sabda Nabi Muhammad berkonsepkan kaedah ulama Salaf dan Khalaf tulen.</p>
<p>Semua Wahhabi di Malaysia yang berakidah Allah Bertempat telah menghukum kafir terhadap umat Islam yang berakidah benar Allah Wujud Tanpa Bertempat. Pada masa yang sama Wahhabi di Malaysia alpa akan akidah tok guru mereka sendiri Nasiruddin Al-Bany dan rujukan utama mereka Al-Hafiz Az-Zahaby yang juga berakidah Allah Wujud Tanpa Bertempat, malangnya Wahhabi mengkafirkan sesiapa yang berakidah sedemikian. Ini amat jelas semua Wahhabi di Malaysia bukan hanya mengkafirkan umat Islam bahkan turut mengkafirkan tok guru dan rujukan utama mereka sendiri iaitu Al-Bani dan Az-Zahabi.</p>
<p>Silakan pembaca rujuk teks kenyataan Allah Wujud Tanpa Bertempat Dan Tanpa Berarah oleh Al-Bani &amp; Az-Zahabi :</p>
<p>Kitab: Mukhtasor ‘Ulu Li ‘Aliyyil ‘Azhim.<br />
Pengarang: Syamsuddin Az-Zahabi.<br />
Pentahkik: Nasiruddin Al-Bani.<br />
Cetakan: Maktab Islami.<br />
Mukasurat: 71.</p>
<p>Kenyataan teks Al-Bani bersumber kitab di atas : “ Apabila kamu telah mendalami perkara tersebut, denganizin Allah kamu akan faham ayat-ayat Al-Quran dan Hadith Nabai serta kenyataan para ulama Salaf yang telah dinyatakan oleh Az-Zahabi dalam kitabnya ini Mukhtasor bahawa erti dan maksud sebalik itu semua adalah makna yang thabit bagi Allah iaitu ketinggian Allah pada makhluk-makhlukNya ( bukan ketinggian tempat), istawanya Allah atas arasyNya layak bagi keagonganNya dan <strong>Allah tidak ber arah dan Allah tidak bertempat</strong>”.<br />
(Sila rujuk kitab tersebut yang telah di scan di atas).</p>
<p>Saya menyatakan:<br />
Al-Bani telah nukilan lafaz akidah yang benar walaupun ulama Islam telah maklum bahawa golongan Mujassimah dan Tabdi’ ini pada hakikatnya akidah mereka sering berbolak balik. Albani pun mengatakan Allah tidak bertempat tetapi Wahhabi di Malaysia pula berakidah Allah itu bertempat bahkan mereka mengkafirkan pula sesiapa yang percaya Allah wujud tanpa bertempat. Kenyatan Al-Bani menafikan tempat bagi Allah adalah secara mutlak dan tidak disebut tempat yang makhluk atau tidak dan ini juga adalah bukti Al-Bani dan Az-Zahabi menafikan Allah Bersemayam/Duduk Atas Arasy. Sememangnya Al-Bani dan Az-Zahabi sering menolak akidah Allah Bersemayam/Duduk Atas ‘Arasy.</p>
<p>Soalan saya kepada Wahhabi..mengapa kamu mengkafirkan Muhaddith kamu ini? Adakah Syeikh Islam kamu, ulama kamu dan Muftary kamu termasuk Albani ini adalah kafir kerana berakidah Allah Tidak Bertempat? Sekiranya TIDAK maka mengapa kamu bawa akidah palsu dan sekiranya YA maka kamu semua adalah NAJIS SYAITON!.</p>
<p>Wahai pembaca yang berakal dan budiman….<br />
- Albani berakidah “ Allah Wujud Tanpa Bertempat dan Tidak Ber Arah ” tetapi Wahhabi Malaysia kafirkan akidah tersebut.</p>
<p>- Hafiz Az-Zahabyi berakidah “ Allah Wujud Tanpa Bertempat dan Tanpa Ber Arah ” tetapi Wahhabi Malaysia kafirkan akidah tersebut bahkan Wahhabi berakidah Allah bertempat. Sila rujuk bukti:</p>
<p>http://abu-syafiq.blogspot.com/2007/12/buku-wahhabi-yang-tersebar-di-seluruh.html</p>
<p>Nah..! Dimanakah hendak dikategorikan golongan Wahhabi ini? Jamban,mangkuk, tandas? atau di tanah perkuburan yang hanya disemadikan dalamnya ahli-ahli Mujassimah pengkhianat amanah?!.</p>
<p>Apapun saya doakan hidayah keimanan diberikan oleh Allah kepada Wahhabi yang masih hidup.</p>
<p><strong> 10. AL-HAFIZ AZ-ZAHABI VS aqidah bathil wahabi </strong><br />
Scan Sampul kitab :<br />
<a href="http://bp3.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RzeyLKXCWoI/AAAAAAAAAOA/z_4m8Niwszs/s1600-h/kabirzahaby.jpg" target="_blank">http://bp3.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RzeyLKXCWoI/AAAAAAAAAOA/z_4m8Niwszs/s1600-h/kabirzahaby.jpg</a></p>
<p>Scan Halaman Kitab :<br />
<a href="http://bp1.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RzeyBqXCWnI/AAAAAAAAAN4/PJDsxm77ucU/s1600-h/Zkafirkanaqidhjulus.jpg" target="_blank">http://bp1.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RzeyBqXCWnI/AAAAAAAAAN4/PJDsxm77ucU/s1600-h/Zkafirkanaqidhjulus.jpg</a></p>
<p><a href="http://bp3.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RzeyLKXCWoI/AAAAAAAAAOA/z_4m8Niwszs/s1600-h/kabirzahaby.jpg"></a><br />
<a href="http://bp1.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RzeyBqXCWnI/AAAAAAAAAN4/PJDsxm77ucU/s1600-h/Zkafirkanaqidhjulus.jpg"></a>AL-HAFIZ AZ-ZAHABI KAFIRKAN AKIDAH: ALLAH BERSEMAYAM/DUDUK</p>
<p>Oleh: Abu Syafiq ( Tel HP 006-012-2850578)</p>
<p>*Bersemayam yang bererti Duduk adalah sifat yang tidak layak bagi Allah dan Allah tidak pernah menyatakan demikian, begitu juga NabiNya.<br />
___________________________________________________________________________</p>
<p>Hakikat kebenaran tetap akan terserlah walaupun lidah syaitan Wahhabi cuba merubahnya.<br />
Kali ini dipaparkan bagaimana rujukan utama Wahhabi iaitu Al-Hafiz Az-Zahabi sendiri mnghukum kafir akidah sesat: Allah Bersemayam/Duduk yang dipelopori oleh Wahhabi pada zaman kini. Az-Zahabi adalah Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Uthman bin Qaymaz bin Abdullah ( 673-748H ). Pengarang kitab Siyar An-Nubala’ dan kitab-kitab lain termasuk Al-Kabair.</p>
<p>Az-Zahabi mengkafirkan akidah Allah Duduk sepertimana yang telah dinyatakan olehnya sendiri di dalam kitabnya berjudul Kitab Al-Kabair. Demikian teks Az-Zahabi kafirkan akidah “ Allah Bersemayam/Duduk” :</p>
<p>( RUJUK SCAN KITAB TERSEBUT DI ATAS )<br />
Nama kitab: Al-Kabair.<br />
Pengarang: Al-Hafiz Az-Zahabi.<br />
Cetakan: Muassasah Al-Kitab Athaqofah,cetakan pertama 1410h.</p>
<p>Terjemahan.<br />
Berkata Al-Hafiz Az-Zahabi:<br />
“Faidah, perkataan manusia yang dihukum kufur jelas terkeluar dari Islam oleh para ulama adalah: …sekiranya seseorang itu menyatakan: Allah Duduk untuk menetap atau katanya Allah Berdiri untuk menetap maka dia telah jatuh KAFIR”. Rujuk scan kitab tersebut di atas m/s 142.</p>
<p>Perhatikan bagaimana Az-Zahabi menghukum kafir sesiapa yang mendakwa Allah bersifat Duduk. Sesiapa yang mengatakan Allah Duduk maka dia kafir.<br />
Fokuskan pada kenyataan Az-Zahhabi tidak pula mengatakan “sekiranya seseorang itu kata Allah Duduk seperti makhlukNya maka barulah dia kafir” akan tetapi amat jelas Az-Zahabi terus menghukum kafir kepada sesiapa yang mendakwa Allah Duduk disamping Az-Zahabi menukilkan hukum tersebut dari seluruh ulama Islam.</p>
<p>Wahai Mohd Asri Zainul Abidin dan Wahhabi yang lain…ketahuilah apabila anda semua mengatakan Allah Duduk merupakan kekufuran yang telah dihukum oleh Az-Zahabi sendiri dan ulama Islam.<br />
Tidak perlu ditunggu kenyataan “ Allah Duduk Seperti MakhlukNya” baru nak dihukum kafir akan tetapi dengan mengatakan Allah Duduk maka ia merupakan perkataan kufur terkeluar dari Islam sepertimana yang dinyatakan oleh Al-Hafiz Az-Zahabi.</p>
<p>Bertaubatlah wahai Wahhabi.</p>
<p>banyak sekali kitab2 slafussaolih yang mentakwilkan ayat/hadis musyabihat : Seperti imam bukhari dalam shohihnya, imam malik, ibnu hajar dan imam nawawi….dsb.</p>
<p>Tetapi musuh2 Allah menyatakan mereka kafir…….na’udzubillah …..<br />
Berikut adalah BUkti wahabi mengkafirkan Ibnu Hajar (Penyusun Kitab Bulughul Maram dsb)dan Imam Nawawi (yang mennyusun kitab riyadhussholihn dsb) :</p>
<p>Muhammad Soleh Uthaimien (Syaikh salafy/wahaby) menyatakan bahawa imam ibnu hajar dan imam nawawi adalah kafir :</p>
<h3><a href="http://abu-syafiq.blogspot.com/2007/05/imam-nawawi-ibnu-hajar-pun-kafir.html">IMAM NAWAWI &amp; IBNU HAJAR PUN KAFIR?!</a></h3>
<p>Assalamualaikum.<br />
Oleh: abu_syafiq</p>
<p>Islam dan ulamanya tidak harus dikafirkan seperti yang dilakukan oleh Wahhabi..habis dikafirkan semua.<br />
Mungkin sekiranya Nabi Muhammad masih hidup dimuka bumi ini pun baginda tidak akan terlepas dari dikafiran oleh golongan Wahhabiyah ini.<br />
Tidak mustahil pada suatu hari nanti Allah pun Wahhabi kafirkan…wal iyazubillah.<br />
Wahhabi bukan sahaja mengkafirkan Sultan Solahuddin Al-Ayyubi.<br />
tetapi…. WAHHABI TURUT MENGKAFIRKAN IMAM NAWAWI DAN IMAM IBNU HAJAR AL-ASQOLANY!</p>
<p>Saudara seislam sekali….. Apa dah jadi dengan Wahhabi ni?!!!<br />
aduiii..pesal Wahhabi benci sangat dgn ajaran Ahli Sunnah Wal Jamaah dan ulamanya?! tengok dibawah ini seorang lagi ulama Wahhabi yang menjadi rujukan utama oleh Wahhabi dan kitab2 nya diberi secara percuma ketika kita semua pergi menunaikan umrah dan haji…Wahhabi ini yg bernama Muhammad Soleh Uthaimien menyatakan bahawa :<br />
“IMAM IBNU HAJAR AL-ASQOLANY ( PENGARANG FATHUL BARI SYARAH SOHIH BUKHARY) DAN JUGA IMAM NAWAWI ( PENGARANG SYARAH SOHIH MUSLIM) KATA WAHHABI : NAWAWI DAN IBNU HAJAR ADALAH PEMBUAT KESESATAN DAN NAWAWI SERTA IBNU HAJAR BERAQIDAH SESAT DAN MEREKA BERDUA ADALAH KAFIR”!!.<br />
Inilah makna dakwaan Wahhabi.</p>
<p>BUKTI ; Lihat buktinyapada line yg telah dikuningkan:</p>
<p><a href="http://bp2.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/Rl6OcK0mK5I/AAAAAAAAAAk/snxFlo0jIaA/s1600-h/13.gif"></a></p>
<p><a href="http://bp2.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/Rl6PYK0mK6I/AAAAAAAAAAs/9GktMt6hES0/s1600-h/14.gif"></a></p>
<p>HABIS SEMUA ULAMA ISLAM PUN DIBID’AHKAN OLEH WAHHABI BAHKAN AQIDAH ULAMA AHLI SUNNAH WAL JAMAAH SEPERTI IMAM IBNU HAJAR AL-ASQOLANY DAN IMAM NAWAWI HABIS DIHUKUM SESAT OLEH WAHHABI.<br />
SIAPAKAH LAGI ULAMA ISLAM YG BELUM DIHUKUM SESAT OLEH WAHHABI?!</p>
<p><strong>11. IMAM HASAN AL-BANNA TERANGKAN MENGENAI AYAT MUTASYABIHAT</strong></p>
<p>Mari sama-sama kita renung penerangan yang hebat oleh Imam Hasan<br />
Al-Banna sekaligus menjadi alternativ menyelesaikan pertelingkahan<br />
akidah. Semoga yang murtad memeluk Islam kembali.</p>
<p>Berkata Imam Hasan Al-Banna selepas menyatakan ayat 5 surah Toha:<br />
” Menyanggah dan menolak mereka yang mendakwa kononnya berpegang<br />
secara zahir ayat Quran dan Hadith mustasyabihat secara zahir<br />
merupakan mazhab As-Salaf.<br />
Sebenarnya ringkasan daripada dakwaan palsu itu merupakan Tajsim iaitu<br />
menjisimkan Allah dan Tasybih iaitu menyamakan Allah dengan makhluk,<br />
kerana zahir lafaz tersebut adalah apa yang telah diletakkan makna<br />
baginya.<br />
Maka tiada makna `Tangan’ secara hakikat zahirnya kecuali anggota<br />
badan dan begitu juga selainnya.<br />
Manakala mazhab As-Salaf tulen tidak berpegang secara zahir pada ayat<br />
dan hadith tersebut”.<br />
Rujuk scan kitab di atas, dipetik dari Majmuk Rasail Imam As-Syahid<br />
Hasan Al-Banna pada kitab Al-Aqoid m/s 415.</p>
<p>Dinyatakan oleh Imam Hasan AL-Banna lagi: ” Sesungguhnya ulama<br />
As-Salaf tulen dan ulama Al-Khalaf bersepakat tidak berpegang secara<br />
zahir “.<br />
Rujuk scan kitab di atas, m/s 418.I</p>
<p>Rujuk scan kitab di atas, m/s 418.I</p>
<h3>SIFAT 20 ADALAH IJMA..</h3>
<p><a href="http://bp2.blogger.com/_o3ZMASt4zn4/SHowcLXK4VI/AAAAAAAAAQs/4MYcJVbKk6c/s1600-h/cover.jpg"></a><br />
<a href="http://bp3.blogger.com/_o3ZMASt4zn4/SHowctax9JI/AAAAAAAAAQ0/dr1s9zOP-CM/s1600-h/53.jpg"></a><br />
Kitab yang berjodol “Tashih al-Mafahim al-’Aqadiah” yang telah ditulis oleh Sheikh Isa bin Abdullah Mani’ al-Hemyari, menjelaskan sifat 20 adalah ijma dan tidak boleh dipertikaikan.Bagi mereka yang mempertikaikan ada masaalah pastinya dalam aqidah mereka.Bagi mereka yang memperkatakan para sahabat tidak mengetahui siafat 20,ini adalah satu kenyataan yang berbau wahabi.Wahabi anti sifat 20.Mereka kata, tak kan Allah hanya 20 sifat? Kita kata Allah bersifat dengan sifat-sifat kamalat yang tidak terhitung banyaknya.20 sifat adalah yang wajib diketahui,sementara sifat-sifat yang lain adalah terkandung didalam 20 sifat tersebut.</p>
<p>20 sifat ini adalah berdasarkan dalil-dalil yang qati’.</p>
<p>Abadi</p>
<p><em> </em><a title="Edit Post" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5720380809956501641&amp;postID=3381495501380073681"><br />
</a></p>
<h3>Pandangan Imam Taqiyyuddin al-Subki terhadap Ibn Taimiyah:Kitab al-Saif al-Saqil</h3>
<p><a href="http://bp3.blogger.com/_o3ZMASt4zn4/SHjIK_kmbrI/AAAAAAAAAQE/vmNL2rDT6DM/s1600-h/p+p.jpg"></a>Meletakkan sifat-sifat hawadith pada zat Allah SWT (SS-17)<br />
Melakukan tashwish (kekaburan)  dan dharar (kemudaratan) terhadap aqidah umat Islam (SS-18)<br />
Menyatakan ziarah Maqam Rasulullah SAW sebagai maksiat (SS-18)(SSQ-<br />
Mengganggap talak tiga jatuh satu (SS-18)<br />
ulama’ telah sepakat untuk melakukan tahanan terhadap Ibnu Taymiyyah dan melarangnya menyerbarkan penulisannya.(SS-18)<br />
Aqidah Ibnu Taymiyyah telah disebarkan oleh para sahabatnya secara ringkas (SS-19)<br />
Ibnu al-Qayyim bahawasanya aqidah yang didokong oleh Ibnu Taymiyyah sebagai aqidah Ahli al-Hadith (SS-19)<br />
Aqidah yang didokong oleh Ibnu al-Qayyim sebagai aqidah yang bathil yang membawa orang awam kepada mengkafirkan golongan selain daripada aqidah Ibnu Taymiyyah (SS-19)<br />
ulama’ telah sepakat untuk melakukan tahanan terhadap Ibnu Taymiyyah dan melarangnya menyebarkan penulisannya.(SS-18)<br />
Aqidah Ibnu Taymiyyah telah disebarkan oleh para sahabatnya secara ringkas (SS-19)</p>
<h3>KENYATAAN IBNU HAJAR AL-HAITAMI  TERHADAP IBNU TAIMIYYAH</h3>
<p><a href="http://bp3.blogger.com/_o3ZMASt4zn4/SHjMObkAumI/AAAAAAAAAQU/wArfXaUTNGM/s1600-h/aa.jpg"></a><br />
Menafikan persamaan aqidah Imam Ahmad Ibn Hanbal dengan sebahagian Hanabilah Mujassimah (Fatawa Hadithiyah-271).Melarang umat Islam mendengar dan tunduk terhadap apa yang terdapat di dalam kitab Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qayyim. (Fatawa Hadithiyah -271)Menyenaraikan masalah-masalah yang Ibnu Taymiyyah bercanggah dengan ijma’ para ulama’ –terlalu banyak (Fatawa Hadithiyah -158)</p>
<p>Menyatakan bahawa Ibnu Taymiyyah adalah hamba yang dihinakan dan dibutakan oleh Allah SWT dan ditolak oleh majoriti ulama’ (Fatawa Hadithiyah -156-157)</p>
<p>Menyatakan Ibnu Taymiyyah adalah sebahagian daripada muhaddithin yang tidak betul-betul memahami maksud hadis (Fatawa Hadithiyah -373)</p>
<p>Ibnu Taymiyyah menghentam ulama’ sufi seperti al-Ghazali, Ibn ‘Arabi, Ibn al-Farid, Abu Hasan al-Shazili, Ibnu Sab’ien (Fatawa Hadithiyah -158).</p>
<p>Ramai ulama’ pada zamannya menghantar surat menasihatinya semula (FF-158).</p>
<p>Ibnu Taymiyyah menghentam Saidina Umar al-Khattab di minbar Masjid al-Jabal di Solihiyyah (Fatawa Hadithiyah -158).</p>
<h3>Imam Ibn Abidin Al-Hanafi: Pengikut Muhammad bin Abdul Wahab adalah Khawarij</h3>
<p><a href="http://bp1.blogger.com/_o3ZMASt4zn4/SGsHN-ChM8I/AAAAAAAAAOk/D91j07uo11c/s1600-h/Cover+Radd+Muhtar.jpg"></a> Dalam buku hasyiyah Ibn Abidin Al-Hanafi ini, Imam Allamah Ibn Abidin menegaskan bahawasanya, Muhammad bin Abdul Wahab dan para pengikutnya sebagai khawarij pada zaman ini.Lihat perkataan beliau: <a href="http://bp2.blogger.com/_o3ZMASt4zn4/SGsIC9aWPUI/AAAAAAAAAO0/41a5BW6gCM8/s1600-h/ms+414.jpg"></a></p>
<p dir="rtl">كما وقع في زماننا في أتباع  عبد الوهاب الذين خرجوا من نجد وتغلبوا على الحرمين, وكانوا ينتحلون مذهب الحنابلة, لكنهم اعتقدوا أنهم المسلمون وأن من خالفهم مشركون, ” واستباحوا بذلك قتل أهل السنة وقتل علمائهم  حتى كسر الله شوكتهم وخرب بلادهم وظفر بهم ” عساكر المسلمين ” عام ثلاث وثلاثين ومائتين وألف. إ.هـ.</p>
<p>Maksudnya:</p>
<p>Bab: Berkenaan Pengikut-pengikut [Muhammad] Abdul Wahhab, Golongan Khawarij Dalam Zaman Kita.</p>
<p>“…sepertimana yang berlaku pada masa kita ini pada pengikut  Abdul Wahhab yang keluar dari Najd dan menakluki al-Haramayn (Mekah dan Madinah) dan mereka membangsakan diri mereka kepada mazhab al-Hanbali tetapi mereka ber’iktikad bahawa hanya mereka sahajalah orang Islam dan orang-orang yang bertentangan akidah dengan mereka adalah kaum Musyrik. Dengan ini mereka pun menghalalkan pembunuhan Ahli Sunnah dan pembunuhan ulama’-ulama’ mereka sehingga Allah SWT mematahkan kekuatan mereka dan memusnahkan negeri mereka dan askar Muslim berjaya menawan mereka pada tahun 1233 H…”</p>
<p>Demikianlah sepertimana yang dijelaskan oleh Imam Ibn Abidin tentang sikap pengikut Muhammad bin Abdul Wahab yang merupakan khawarij pada zaman ini.</p>
<h3>Ibn Hajar Al-Haitami Mengkritik Ibn Taimiyyah</h3>
<p><a href="http://bp3.blogger.com/_o3ZMASt4zn4/SGnb2T0_7aI/AAAAAAAAAOc/TnZLZyVHxNw/s1600-h/cover.jpg"></a> Ibn Hajar Al-Haitami Mengkritik Ibn Taimiyyah</p>
<p>Dalam buku Al-Fatawa Al-Hadithiyyah karangan Imam Ibn Hajar Al-Haitami, ketika beliau membahaskan tentang kelebihan golongan fuqaha’ berbanding sebahagian golongan ahli hadith dalam memahami dan mengistinbath hukum daripada hadith-hadith hukum, beliau turut secara tak langsung mengkritik Ibn Taimiyyah.</p>
<p><a href="http://bp2.blogger.com/_o3ZMASt4zn4/SGnbWD0nsiI/AAAAAAAAAOU/ml_73CpggPw/s1600-h/373.jpg"></a></p>
<p>Beliau ditanya: “Hadis itu menyesatkan kecuali bagi ahli Fiqh. Adakah ianya suatu hadith dan apa maknanya? Bukankah seorang ahli Fiqh itu juga perlu tahu mengenai Hadis terlebih dahulu.?!…”</p>
<p>Beliau menjawab: “Kata-kata itu bukanlah dari Rasulullah (sallallahu’alaihi wasallam), ia merupakan kata-kata Ibn ‘Uyainah r.h.l. dan ahli-ahli Fiqh yang lain. Maksud kata-kata itu ialah, hadith itu sendiri seperti Al-Qur’an. Ia kadangkala diriwayatkan dengan lafaz yang umum tetapi dengan maknanya yang khusus, begitu juga sebaliknya. Ada juga Hadis yang Nasikh dan Hadis yang Mansukh (tidak digunakan lagi). Ada juga hadith yang tidak disertai dengan amal (tidak diamalkan). Kadangkala pula, ada hadis yang secara zahirnya seolah-olah menyerupakan Allah dengan makhluk (Tasybih) seperti hadith “Tuhan turun” dan sebagainya. Tidak diketahui akan maknanya kecualilah golongan fuqoha’, berbeza dengan mereka yang tidak mengetahui melainkan sekadar (meriwayatkan lafaz) hadith tersebut. Dengan demikian (tidak mengetahui makna sebenarnya, tetapi sekadar meriwayatkannya secara zahir sahaja) orang akan sesat padanya (pada bermuamalah dengan hadith tersebut) sepertimana yang terjadi kepada sebahagian golongan hadith terdahulu dan golongan hadith yang mutakhir seperti Ibn Taimiyyah dan para pengikutnya. “</p>
<p>Demikian ungkapan Imam Ibn Hajar dalam menggambarkan fenomena di mana sebahagian ahli hadith yang tidak faham makna hadith secara betul, lalu mereka tersesat dengan hadith tersebut. Beliau menyebutkan antara contoh mereka tersebut adalah: “IBN TAIMIYYAH dan para pengikutnya”.</p>
<p>Jelaslah bahawasanya Imam Ibn Hajar Al-Haitami sendiri menolak Ibn Taimiyyah. Imam Ibn Hajar Al-Haitami ini adalah seorang yang diakui oleh para ulama’ akan ketinggian ilmunya dalam fiqh dan hadith.</p>
<p>Ni Imam Ibn Hajar kata ni</p>
<h3><a href="http://abu-syafiq.blogspot.com/2007/10/wahhabi-tipu-al-ibanah.html">WAHHABI TIPU AL-IBANAH</a></h3>
<p><a href="http://bp0.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RygY-HIyZJI/AAAAAAAAALc/jT-aIngHoG4/s1600-h/1.jpg"></a><br />
( BUKTI DARI KITAB AL-IBANAH 1)</p>
<p><a href="http://bp3.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RygYV3IyZII/AAAAAAAAALU/A2lnhbWNH6A/s1600-h/2.jpg"></a></p>
<p><a href="http://bp2.blogger.com/_rRS1Og6ei4o/RygXxnIyZHI/AAAAAAAAALM/xjy2boYz2ZY/s1600-h/4.jpg"></a><br />
( BUKTI DARI KITAB AL-IBANAH 2 )</p>
<p>Oleh: Abu Syafiq (012-2850578)</p>
<p>” AL-IBANAH ‘AN USULI DIYANAH ” <strong>BUKAN</strong> KESEMUA ISI KANDUNGANNYA TULISAN IMAM AL-ASY’ARY.</p>
<p>Sememangnya kitab-kitab karangan Imam yang agong iaitu Imam Abu Hasan Al-Asy’ary ini menjadi carian dan keutamaan dalam menyebarkan dakwah. Ini kerana nama Imam tersebut sudah cukup mengambarkan kehebatan ilmu yang disampaikan seperti tersemai di tenta sejarah.</p>
<p>Berdasarkan kajian yang teliti dan amanah didapati bahawa kebanyakan kitab karangan Imam Al-Asya’ry dipermainkan dan ditokok tambah beberapa isi kandungannya berdasarkan apa yang telah diterangkan dalam kitab Tabyin Kazibi Muftary ‘Ala Imam Abu Hasan Al-Asy’ary oleh Ibnu ‘Asakir yang merupakan antara tokoh Al-Asya’irah yang utama.</p>
<p>WAHHABI BERDUSTA TERHADAP KITAB AL-IBANAH.<br />
Rujuk sahaja buku-buku Wahhabi pasti akan diselitkan kenyataan dusta tanpa amanah terhadap Imam Al-Asy’ary. Paling kerap dinukilkan adalah dari kitab yang berjudul Al-Ibanah ‘An Usuli Ad-Diyanah.<br />
Sebenarnya banyak pendustaan yang jelas terhadap sebahagian isi kandungan kitab tersebut.<br />
Cuma kali ini difokuskan kepada satu sahaja daripada 39 pendustaan yang ditokok tambah dalam kitab tersebut.</p>
<p>WAHHABI BERDUSTA MENDAKWA “ALLAH DUDUK ATAS ARASY” ADALAH AKIDAH IMAM AL-ASYA’RY.<br />
Ini merupakan pendustaan terhadap Imam Abu Hasan Al-Asy’ary.<br />
Sebenarnya Imam Abu Hasan Al-Asy’ary tidak pernah mengatakan Allah Duduk Di Atas ‘Arasy dan tidak pernah juga beliau menyatakan Allah Bersemayam Di Atas ‘Arasy.<br />
Tidak wujud dalam mana-mana kitab beliau pun kenyataan kufur tersebut.<br />
Tidak wujud juga perkataan kufur tersebut dalam kitab Al-Ibanah ‘An usuli Ad-Diyanah karangan Imam Asy’ary. Tetapi Wahhabi berdusta lantas menyandarkan perkataan kufur tersebut kepada Imam Al-Asya’ry<br />
Amat keji sungguh si penokok tambah yang mendakwa Imam Asy’ary kata begitu dalam Al-Ibanah. Bahkan apabila Imam Al-Asya’ry menyatakan tentang Istawa Allah beliau mensyarahkan dengan erti yang bukan bertempat dan berbentuk.<br />
Lihat kitab Al-Ibanah di atas artikel ini yang telah discan dan perhatikan pada line yang telah digaris, kitab Al-Ibanah tersebut dicetakan Saudi Arabia Universiti Islamiah Madinah Munawwarah cetakan 5 mukasurat 119 &amp; 126.</p>
<p>WAHHABI KATA : Imam Abu Hasan Al-Asya’ry pun kata Allah bertempat duduk/bersemayam di atas arasy dalam kitabnya Al-Ibanah.</p>
<p>Sedangkan</p>
<p>IMAM ABU HASAN AL-ASYA’RY PULA SEBUT DALAM KITABNYA ITU SENDIRI: ALLAH BERISTAWA ATAS ARASY TANPA BERBENTUK DAN <strong>TANPA MENGAMBIL TEMPAT</strong>. Lihat kitab Al-Ibanah di atas artikel ini yang telah discan dan perhatikan pada line yang telah digaris, kitab Al-Ibanah tersebut <strong>dicetakan Saudi Arabia Universiti Islamiah Madinah Munawwarah </strong>cetakan 5 mukasurat 119 &amp; 126.</p>
<p>Pendusta Wahhabi amat keji disisi Allah dan Islam. Semoga pembohong Wahhabi ini diberi hidayah sebelum mati.</p>
<p>*ISTAWA TIDAK BOLEH DITERJEMAHKAN KEPADA BERSEMAYAM KERANA BERSEMAYAM BERERTI DUDUK, INI BUKAN SIFAT ALLAH. SEPERTI MANA ALMUTAKABBIR TIDAK BOLEH DITERJEMAHKAN KEPADA SOMBONG&amp;ANGKUH KERANA ITU SIFAT JELEK BUKAN SIFAT ALLAH. AKAN TETAPI SEBAIKNYA DITERJEMAHKAN DENGAN MAHA BERKUASA.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhammadfebri.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhammadfebri.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhammadfebri.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhammadfebri.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhammadfebri.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhammadfebri.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhammadfebri.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhammadfebri.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhammadfebri.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhammadfebri.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhammadfebri.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhammadfebri.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhammadfebri.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhammadfebri.wordpress.com/243/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadfebri.wordpress.com&amp;blog=9734750&amp;post=243&amp;subd=muhammadfebri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/10/13/ahlussunnah-wal-jama%e2%80%99ah-golongan-yang-selamat-al-firqah-an-najiyah-%d9%88%ee%a0%a0%d8%a5%d9%86%d9%91%d9%8e-%d9%87%d8%b0%ee%a0%a6%d9%87%ee%a0%a6-%d8%a7%d9%84%d9%85%ee%a0%a6%d9%84%d9%91/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70dec2e2087690446f11eb6418465418?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mufe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ?</title>
		<link>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/10/13/apa-perbedaan-antara-ahlussunnah-waljamaah-dengan-syiah-imamiyah-itsna-asyariyah/</link>
		<comments>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/10/13/apa-perbedaan-antara-ahlussunnah-waljamaah-dengan-syiah-imamiyah-itsna-asyariyah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 08:08:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muhammad febri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammadfebri.wordpress.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[Apa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ? Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki. Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadfebri.wordpress.com&amp;blog=9734750&amp;post=230&amp;subd=muhammadfebri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong><em> <span style="color:#008000;">Apa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ?</span></em></strong></p>
<p align="justify">
<p align="justify">Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki.</p>
<p align="justify">Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan ?.</p>
<p align="justify">Oleh karena itu, disaat Muslimin bangun melawan serangan Syiah, mereka menjadi  penonton dan tidak ikut berkiprah.</p>
<p align="justify">Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui.</p>
<p align="justify">Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya.</p>
<p align="justify">Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzahab Syafi’i.</p>
<p align="justify">Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.</p>
<p align="justify">Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita (Ahlussunnah).</p>
<p align="justify">Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.</p>
<p align="justify">Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : <strong><em> Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri.</em></strong></p>
<p align="justify">Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong> 1. </strong> <strong> Ahlussunnah         :</strong> Rukun Islam kita ada 5 (lima)</p>
<p align="justify">a)   Syahadatain</p>
<p align="justify">b)   As-Sholah</p>
<p align="justify">c)   As-Shoum</p>
<p align="justify">d)   Az-Zakah</p>
<p align="justify">e)   Al-Haj</p>
<p align="justify"><strong> Syiah                     : </strong> Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:</p>
<p align="justify">a)   As-Sholah</p>
<p align="justify">b)   As-Shoum</p>
<p align="justify">c)   Az-Zakah</p>
<p align="justify">d)   Al-Haj</p>
<p align="justify">e)   Al wilayah</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong> 2. </strong> <strong> Ahlussunnah         : </strong> Rukun Iman ada 6 (enam) :</p>
<p align="justify">a)   Iman kepada Allah</p>
<p align="justify">b)   Iman kepada Malaikat-malaikat Nya</p>
<p align="justify">c)   Iman kepada Kitab-kitab Nya</p>
<p align="justify">d)   Iman kepada Rasul Nya</p>
<p align="justify">e)   Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat</p>
<p align="justify">f)   Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.</p>
<p align="justify"><strong> Syiah                     : </strong> Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)*<strong> </strong></p>
<p align="justify">a)   At-Tauhid</p>
<p align="justify">b)   An Nubuwwah</p>
<p align="justify">c)   Al Imamah</p>
<p align="justify">d)   Al Adlu</p>
<p align="justify">e)   Al Ma’ad</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong> 3. </strong> <strong> Ahlussunnah         : </strong> Dua kalimat syahadat</p>
<p align="justify"><strong> Syiah                     : </strong> Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka.</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong> 4. </strong> <strong> Ahlussunnah         : </strong> Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat.</p>
<p align="justify">Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak  dibenarkan.</p>
<p align="justify"><strong> Syiah                     : </strong> Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka.</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong> 5. </strong> <strong> Ahlussunnah         : </strong> Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah :</p>
<p align="justify">a)   Abu Bakar</p>
<p align="justify">b)   Umar</p>
<p align="justify">c)   Utsman</p>
<p align="justify">d)   Ali Radhiallahu anhum</p>
<p align="justify"><strong> Syiah                     :</strong> Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka).</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong> 6. </strong> <strong> Ahlussunnah         : </strong> Khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum.</p>
<p align="justify">Berarti mereka dapat berbuat salah/ dosa/ lupa. Karena sifat Ma’shum, hanya  dimiliki oleh para Nabi.</p>
<p align="justify"><strong> Syiah                     : </strong> Para imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat Ma’’hum, seperti  para Nabi.</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong> 7. </strong> <strong> Ahlussunnah         : </strong> Dilarang mencaci-maki para sahabat.</p>
<p align="justify"><strong> Syiah                     :</strong> Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai’at  Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong> 8. </strong> <strong> Ahlussunnah         : </strong> Siti Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul  Mu’minin.</p>
<p align="justify"><strong> Syiah                     : </strong> Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan.</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong> 9. </strong> <strong> Ahlussunnah         : </strong> Kitab-kitab hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah  Kutubussittah :</p>
<p align="justify">a)   Bukhari</p>
<p align="justify">b)   Muslim</p>
<p align="justify">c)   Abu Daud</p>
<p align="justify">d)   Turmudzi</p>
<p align="justify">e)   Ibnu Majah</p>
<p align="justify">f)   An Nasa’i</p>
<p align="justify">(kitab-kitab tersebut beredar dimana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin  sedunia).</p>
<p align="justify"><strong> Syiah                     :</strong> Kitab-kitab Syiah ada empat :</p>
<p align="justify">a)   Al Kaafi</p>
<p align="justify">b)   Al Istibshor</p>
<p align="justify">c)   Man Laa Yah Dhuruhu Al Faqih</p>
<p align="justify">d)   Att Tahdziib</p>
<p align="justify">(Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut diketahui oleh  pengikut-pengikut Syiah).</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong> 10. </strong> <strong> Ahlussunnah         : </strong> Al-Qur’an tetap orisinil</p>
<p align="justify"><strong> Syiah                     :</strong> Al-Qur’an yang ada sekarang ini menurut pengakuan ulama Syiah tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah).</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong> 11. </strong> <strong> Ahlussunnah         : </strong> Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul Nya.</p>
<p align="justify">Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul  Nya.</p>
<p align="justify"><strong> Syiah                     : </strong> Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, walaupun orang  tersebut tidak taat kepada Rasulullah.</p>
<p align="justify">Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang  tersebut taat kepada Rasulullah.</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong> 12. </strong> <strong> Ahlussunnah         : </strong> Aqidah Raj’Ah tidak ada dalam ajaran Ahlussunnah. Raj’ah adalah besok diakhir zaman sebelum kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya.</p>
<p align="justify"><strong> Syiah                     : </strong> Raj’ah adalah salah satu aqidah Syiah. Dimana diceritakan : bahwa nanti diakhir zaman, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah serta Ahlul Bait yang lain.</p>
<p align="justify">Setelah mereka semuanya bai’at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai  ribuan kali. Sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait.</p>
<p align="justify"><strong> Keterangan           : </strong> Orang Syiah mempunyai Imam Mahdi sendiri. Berlainan dengan Imam Mahdinya Ahlussunnah, yang akan membawa keadilan dan kedamaian.</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong> 13. </strong> <strong> Ahlussunnah         : </strong> Mut’ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram.</p>
<p align="justify"><strong> Syiah                     : </strong> Mut’ah sangat dianjurkan dan hukumnya halal. Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syiah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syiah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib.</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong> 14. </strong> <strong> Ahlussunnah         : </strong> Khamer/ arak tidak suci.</p>
<p align="justify"><strong> Syiah                     : </strong> Khamer/ arak suci.</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong> 15. </strong> <strong> Ahlussunnah         : </strong> Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak suci.</p>
<p align="justify"><strong> Syiah                     :</strong> Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan.</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong> 16. </strong> <strong> Ahlussunnah         : </strong> Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah.</p>
<p align="justify"><strong> Syiah                     : </strong> Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri membatalkan shalat.</p>
<p align="justify">(jadi shalatnya bangsa Indonesia yang diajarkan Wali Songo oleh orang-orang Syiah dihukum tidak sah/ batal, sebab meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri).</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong> 17. </strong> <strong> Ahlussunnah         : </strong> Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah.</p>
<p align="justify"><strong> Syiah                     : </strong> Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat dianggap tidak sah/ batal  shalatnya.</p>
<p align="justify">(Jadi shalatnya Muslimin di seluruh dunia dianggap tidak sah, karena mengucapkan  Amin dalam shalatnya).</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong> 18. </strong> <strong> Ahlussunnah         : </strong> Shalat jama’ diperbolehkan bagi orang yang bepergian dan bagi orang yang  mempunyai udzur syar’i.</p>
<p align="justify"><strong> Syiah                     :</strong> Shalat jama’ diperbolehkan walaupun tanpa alasan apapun.</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong> 19. </strong> <strong> Ahlussunnah         : </strong> Shalat Dhuha disunnahkan.<strong> </strong></p>
<p align="justify"><strong> Syiah                     :</strong> Shalat Dhuha tidak dibenarkan.</p>
<p align="justify">(padahal semua Auliya’ dan salihin melakukan shalat Dhuha).</p>
<p align="justify">
<p align="justify">Demikian telah kami nukilkan perbedaan-perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).  Sengaja  kami  nukil  sedikit saja,  sebab apabila kami nukil</p>
<p align="justify">seluruhnya, maka akan memenuhi halaman-halaman buku ini.</p>
<p align="justify">Harapan kami semoga pembaca dapat memahami benar-benar perbedaan-perbedaan tersebut. Selanjutnya pembaca yang mengambil keputusan (sikap).</p>
<p align="justify">Masihkah mereka akan dipertahankan sebaga Muslimin dan Mukminin ? (walaupun  dengan Muslimin berbeda segalanya).</p>
<p align="justify">Sebenarnya yang terpenting dari keterangan-keterangan diatas adalah agar masyarakat memahami benar-benar, bahwa perbedaan yang ada antara Ahlussunnah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) itu, disamping dalam Furuu’ (cabang-cabang agama) juga dalam Ushuul (pokok/ dasar agama).</p>
<p align="justify">Apabila tokoh-tokoh Syiah sering mengaburkan perbedaan-perbedaan tersebut, serta memberikan keterangan yang tidak sebenarnya, maka hal tersebut dapat kita maklumi, sebab mereka itu sudah memahami benar-benar, bahwa Muslimin Indonesia tidak akan terpengaruh atau tertarik pada Syiah, terkecuali apabila disesatkan (ditipu).</p>
<p align="justify">Oleh karena itu, sebagian besar orang-orang yang masuk Syiah adalah orang-orang yang tersesat, yang tertipu oleh bujuk rayu tokoh-tokoh Syiah.</p>
<p align="justify">Akhirnya, setelah kami menyampaikan perbedaan-perbedaan antara Ahlussunnah dengan Syiah, maka dalam kesempatan ini kami menghimbau kepada Alim Ulama serta para tokoh masyarakat, untuk selalu memberikan penerangan kepada umat Islam mengenai kesesatan ajaran Syiah. Begitu pula untuk selalu menggalang persatuan sesama Ahlussunnah dalam menghadapi rongrongan yang datangnya dari golongan Syiah. Serta lebih waspada dalam memantau gerakan Syiah didaerahnya. Sehingga bahaya yang selalu mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita dapat teratasi.</p>
<p align="justify">Selanjutnya kami mengharap dari aparat pemerintahan untuk lebih peka dalam menangani masalah Syiah di Indonesia. Sebab bagaimanapun, kita tidak menghendaki apa yang sudah mereka lakukan, baik di dalam negri maupun di luar negri, terulang di negara kita.</p>
<p align="justify">Semoga Allah selalu melindungi kita dari penyesatan orang-orang Syiah dan  aqidahnya. Amin.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhammadfebri.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhammadfebri.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhammadfebri.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhammadfebri.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhammadfebri.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhammadfebri.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhammadfebri.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhammadfebri.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhammadfebri.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhammadfebri.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhammadfebri.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhammadfebri.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhammadfebri.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhammadfebri.wordpress.com/230/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadfebri.wordpress.com&amp;blog=9734750&amp;post=230&amp;subd=muhammadfebri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/10/13/apa-perbedaan-antara-ahlussunnah-waljamaah-dengan-syiah-imamiyah-itsna-asyariyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70dec2e2087690446f11eb6418465418?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mufe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>adikku</title>
		<link>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/10/13/adikku/</link>
		<comments>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/10/13/adikku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 07:53:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muhammad febri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhammadfebri.wordpress.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[adikku lagi mikirin apa yah????<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadfebri.wordpress.com&amp;blog=9734750&amp;post=228&amp;subd=muhammadfebri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>adikku lagi mikirin apa yah????</h1>
<p align="center"><a href="http://www.haveanyaidea.com/blog/hadya4b.jpg"><img style="width:310px;height:410px;" src="http://www.haveanyaidea.com/blog/hadya4b.jpg" border="0" alt="" /></a></p>
<p align="center"><a href="http://www.haveanyaidea.com/blog/hadya5.jpg"><img style="width:310px;height:410px;" src="http://www.haveanyaidea.com/blog/hadya5.jpg" border="0" alt="" /></a></p>
<p><img src="/DOCUME%7E1/CRYSTA%7E1.CRY/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.png" alt="" /></p>
<h1></h1>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhammadfebri.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhammadfebri.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhammadfebri.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhammadfebri.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhammadfebri.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhammadfebri.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhammadfebri.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhammadfebri.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhammadfebri.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhammadfebri.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhammadfebri.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhammadfebri.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhammadfebri.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhammadfebri.wordpress.com/228/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhammadfebri.wordpress.com&amp;blog=9734750&amp;post=228&amp;subd=muhammadfebri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhammadfebri.wordpress.com/2009/10/13/adikku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/70dec2e2087690446f11eb6418465418?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mufe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.haveanyaidea.com/blog/hadya4b.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.haveanyaidea.com/blog/hadya5.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
